Ni Ketut Ngasti atau Men Djenggo meninggal dunia pada usia 90 tahun. Men Djenggo dikenal sebagai pencipta makanan khas Bali, nasi jinggo, yang mulai populer sejak 1980-an.
Djenggo sebenarnya merupakan nama panggilan masa kecil dari Henry Alexie Bloem. Henry sendiri merupakan mantan Presiden Indonesian Chef Association (ICA) sekaligus putra dari Men Djenggo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut kebiasaan sosial masyarakat Bali tradisional, nama sang anak kerap disematkan untuk menyebut nama orang tuanya. Jadilah Men Djenggo yang berarti ibu dari seorang anak bernama Djenggo.
"Ibu sewaktu muda menjual nasi bungkus untuk kalangan pekerja dan pemancing di sekitar Pelabuhan Benoa, Denpasar. Nasi bungkus itu disebut nasi Men Djenggo," tutur Henry kepada detikBali, Minggu (10/5/2026).
"Cerita itulah yang kemudian melahirkan istilah nasi jinggo di Bali," imbuhnya.
Seporsi nasi jinggo umumnya bersisi sekepal nasi, lauk pauk ayam susut, potongan tempe kecil, mi goreng, serta sambal. Ciri khas nasi jinggo adalah pembungkusnya berupa daun pisang.
Seiring waktu, kuliner nasi jinggo bermunculan di seantero Bali dan dijual di pasar-pasar hingga warung-warung. Isiannya juga semakin bervariasi. Tak hanya olahan ayam atau daging babi, ada juga nasi jinggo yang disajikan dengan ikan laut, daging sapi, babi kecap, sampai telur.
Kini Men Djenggo, telah pergi untuk selama-lamanya. Henry menyebut ibunya telah meninggalkan warisan penting bagi perkembangan kuliner Indonesia, khususnya Bali.
"Beliau masuk rumah sakit sejak tanggal 28 April karena sakit komplikasi diabetes, darah tinggi, jantung, dan gagal ginjal," ujar Henry.
Diberitakan sebelumnya, kabar kepergian Men Djenggo diunggah oleh Henry melalui akun Instagram @henryalexiebloem. Dalam unggahan tersebut, Henry menampilkan foto kenangan dan momen kebersamaan dengan ibunda sejak kanak-kanak hingga dirinya menjadi chef terkenal.
"Selamat jalan meme (ibu), berbahagia lah di sana. Karyamu akan selalu dicari dan dikenang. Men Djenggo, pencipta nasi jinggo," tulis Henry dikutip detikBali, Minggu (10/5).
Kolom komentar pada unggahan tersebut dibanjiri ucapan belasungkawa dari rekan-rekan sesama chef dan sejumlah tokoh publik. Termasuk Ni Luh Djelantik hingga Chef Juna.
"Turut berduka yang sedalamnya atas berpulangnya Ibunda tercinta," tulis Ni Luh Djelantik.
"My Deepest Condolences Brother. May she Rest In Peace," ucap Chef Juna.
(iws/iws)










































