detikBali

Respons Penutupan TPA Suwung, Putu Artha Sebut Bali Ditekan Habis-habisan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Respons Penutupan TPA Suwung, Putu Artha Sebut Bali Ditekan Habis-habisan


Fabiola Dianira - detikBali

Talk Show Malu Dong x Aliansi BEM se-Bali Dewata Dwipa bertajuk Bali Darurat Sampah: Lantas Gerak Apa yang Bisa Kita Lakukan? di Pantai Kelan, Kuta, Badung, Bali, Sabtu (23/5/2026). (Foto: Fabiola Dianira/detikBali)
Talk Show Malu Dong x Aliansi BEM se-Bali Dewata Dwipa bertajuk 'Bali Darurat Sampah: Lantas Gerak Apa yang Bisa Kita Lakukan?' di Pantai Kelan, Kuta, Badung, Bali, Sabtu (23/5/2026). (Foto: Fabiola Dianira/detikBali)
Badung -

Pengamat sosial dan politik I Gusti Putu Artha mengungkap persoalan sampah di Bali terlalu dicampur aduk dengan kepentingan politik. Ia menyebut saat ini Bali ditekan habis-habisan, khususnya terkait rencana penutupan permanen TPA Suwung, Denpasar.

Artha membandingkan kondisi TPA Suwung dengan TPST Bantargebang di Bekasi dan TPA Kebon Kongok di Mataram, NTB. Menurutnya, kedua TPA tersebut hingga kini masih menerima residu dan tidak mendapat tekanan serupa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenapa Bali saja yang ditekan habis-habisan untuk ditutup permanen Suwung itu? Sedangkan kasus yang sama di Kebon Kongok di Mataram, enggak. Sekarang saja di Bantargebang per 1 Agustus kan masih boleh residu masuk," ujar Artha seusai Talk Show Malu Dong x Aliansi BEM se-Bali Dewata Dwipa bertajuk Bali Darurat Sampah: Lantas Gerak Apa yang Bisa Kita Lakukan? di Pantai Kelan, Kuta, Badung, Bali, Sabtu (23/5/2026) malam.

Artha menduga besarnya tekanan terhadap TPA Suwung dibandingkan daerah lain karena adanya kepentingan politik tertentu. la juga menyinggung keterlibatan PT Bali Turtle Island Development (BTID) yang sebelumnya pernah meminta kawasan Suwung dibersihkan.

ADVERTISEMENT

"Artinya sejak awal saya menduga, ini ada titipan politik dari tetangga sebelah yang sedang kerja ini. Agar zona ini tetap bersih. Karena jejak digitalnya kan sudah terjadi tahun 2023. Ketika itu BTID membuat konferensi pers untuk meminta membersihkan Suwung," imbuhnya.

Meski demikian, Artha menilai tekanan tersebut juga membawa dampak positif bagi Bali. Sebab, hal itu mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah. Termasuk mulai memilah sampah dari tingkat rumah tangga.

"Ini menguntungkan Bali sehingga habit, kebiasaan masyarakat mulai berubah dan kita dorong terus ke sana," imbuh mantan anggota Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu.

Di sisi lain, Artha mengingatkan penutupan TPA Suwung tanpa solusi alternatif justru berpotensi menimbulkan persoalan baru. Apalagi, pemerintah mengakui masih belum siap menutup TPA Suwung pada 31 Agustus 2026 karena masih membutuhkan TPA alternatif.

Artha berharap Menteri Lingkungan Hidup tidak menutup TPA Suwung hingga fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) benar-benar beroperasi. "Kalau ingin Bali tetap bersih sementara ini, menunggu PSEL berfungsi," pungkasnya.




(iws/iws)










Hide Ads