detikBali
Tabanan

Depot Betty Kembangkan Kuliner Babi Guling dengan Kredit-Digitalisasi BRI

Terpopuler Koleksi Pilihan
Tabanan

Depot Betty Kembangkan Kuliner Babi Guling dengan Kredit-Digitalisasi BRI


Gangsar Parikesit - detikBali

Pembeli membayar nontunai di Depot Betty beberapa waktu lalu.
Pembeli membayar nontunai di Depot Betty beberapa waktu lalu. Foto: dok. BRI Region 17/Denpasar
Tabanan -

I Putu Bayu Ekayana sempat bingung saat melanjutkan usaha Depot Betty pada 2013. Saat itu, ia harus meneruskan warung babi guling yang dirintis keluaganya sejak 2001 karena kesehatan ibunya yang menurun.

"Awalnya saya bingung, karena latar belakang saya bartender, sangat jauh dari dunia masak," ujarnya melalui keterangan tertulis Rabu (22/4/2025).

Bayu kemudian belajar mengelola depot babi guling yang berlokasi di Pancasari, Tabanan, Bali, itu. Ia memperkuat aspek pelayanan, kebersihan, dan standar higienitas tanpa mengubah resep warisan keluarga.

Bayu lalu mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada BRI pada 2014 untuk mengembangkan usaha kuliner tersebut. Tambahan modal itu juga ia pakai untuk merapikan manajemen keuangan.

Menurut Bayu, KUR dari BRI membantu pengembangan usahanya dan menjaga keberlanjutan bisnis keluarganya. Apalagi, ia juga dibantu oleh bank pelat merah itu saat mengajukan kredit hingga pelunasannya. "Dari awal kami dibantu, sampai pelunasan kredit juga berjalan lancar," ungkapnya.

Depot Betty, Bayu melanjutkan, kini mengadopsi sistem pembayaran nontunai di seluruh warungnya. Seluruh transaksi di tiga depot tersebut tercatat otomatis melalui sistem QRIS, BRImo, dan EDC dari BRI.

"Dengan digitalisasi, semua pemasukan tercatat. Jadi lebih mudah kontrol keuangan dan risiko kehilangan bisa ditekan," ujar Bayu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fitur notifikasi transaksi pada BRImo juga membantu Bayu meminimalisasi risiko kesalahan pencatatan maupun potensi kehilangan dana, karena setiap transaksi langsung terpantau melalui ponsel. Fleksibilitas ini menjadi nilai tambah dalam menjaga efisiensi operasional.

Bayu mencatat sekitar 50 persen transaksi di seluruh Depot Betty nontunai. Pembayaran cashless tersebut didominasi pembeli muda dan mulai diikuti usia lebih tua. "Sekarang bukan hanya Gen Z, orang tua juga sudah banyak pakai nontunai karena praktis," tuturnya.

Depot Betty kini menghabiskan 5 hingga 6 babi per hari dari seluruh depot. Bahan baku itu diperoleh dari peternak lokal di kawasan Pancasari, Candikuning, hingga Baturiti, Tabanan.

Bayu saat ini masih fokus menjaga stabilitas usaha. Bertahan di tengah gempuran bisnis kuliner baru justru menjadi prioritas utama dibanding ekspansi agresif. "Kami fokus bagaimana usaha ini tetap berjalan dengan baik dan memaksimalkan yang sudah ada," tegasnya.

ADVERTISEMENT

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menjelaskan digitalisasi menjadi kunci utama bagi UMKM untuk dapat bertahan dan berkembang di tengah dinamika pasar saat ini. "BRI berkomitmen terus mendorong digitalisasi UMKM melalui penyediaan layanan perbankan digital, pendampingan, serta ekosistem yang terintegrasi agar UMKM naik kelas dan memperluas akses pasar, baik di tingkat nasional maupun global," paparnya.

BRI, Hery menambahkan, menghadirkan berbagai layanan digital seperti aplikasi super apps BRImo, QRIS, serta platform pemberdayaan UMKM yang memudahkan pelaku usaha dalam melakukan transaksi secara efisien dan aman. Melalui berbagai inisiatif tersebut, bank pelat merah itu optimistis dapat terus berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta memperkuat peran UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.




(gsp/gsp)










Hide Ads