Asosiasi Hotel Mataram (AHM) memastikan kenaikan harga tiket pesawat beberapa pekan terakhir belum memberikan dampak signifikan terhadap kondisi perhotelan. Tingkat hunian kamar atau okupansi di Mataram cenderung stagnan di angka 30 hingga 40%. Sementara pada akhir pekan melonjak hingga 60%.
"Artinya dampak harga tiket itu memang pengaruhnya belum signifikan. Pengaruhnya kecil karena wisatawan yang datang ke Mataram tidak hanya menggunakan pesawat, tetapi bisa pakai transportasi darat juga," kata Ketua AHM, I Made Adiyasa, saat dikonfirmasi detikBali, Selasa (12/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pantauan detikBali melalui situs Traveloka, harga tiket pesawat dari Yogyakarta-Lombok menyentuh harga Rp 1,5 juta hingga Rp 2,1 juta dari sebelumnya Rp 1,1 juta. Sementara tiket pesawat dari Jakarta-Lombok naik di kisaran Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta, sebelumnya harga tiket Jakarta-Lombok sempat menyentuh Rp 1 juta.
"Saat harga tiket sudah naik, okupansi hotel di Mataram saat long weekend malah sampai 60% hingga 80%," ujar Adiyasa.
Tingginya okupansi hotel di Mataram saat long weekend, lanjut Adiyasa, dipicu oleh karakteristik tamu hotel yang didominasi oleh wisatawan domestik maupun lokal, khususnya dari Pulau Sumbawa.
"Banyak dari mereka mengandalkan transportasi darat dan bukan transportasi udara untuk berkunjung ke Mataram. Wisatawan domestik tidak melulu menggunakan pesawat, jadi (naiknya harga tiket pesawat) tidak terlalu berdampak," jelas Adiyasa.
Di sisi lain, walaupun okupansi hotel di Mataram stagnan sejak Januari hingga Mei, yakni di kisaran 40%, Adiyasa berharap event-event besar seperti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB bisa meningkatkan okupansi city hotel. Tak hanya event skala nasional, libur sekolah juga diprediksi akan mendongkrak okupansi hotel di Mataram pada periode Juli.
"Di tahun 2026 ini sampai Mei, event-event mash minim. Ini berbeda dengan tahun 2025. Meski ada efisiensi, tetapi ada sejumlah kegiatan besar sehingga okupansi kita di atas 50%. Kami perkirakan Juli nanti okupansi akan naik sangat signifikan karena adanya kegiatan Porprov di Mataram. Apalagi diperkirakan KONI akan membutuhkan 4 ribu kamar untuk menampung peserta selama 10 hari kegiatan," tutur Adiyasa.
Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Indonesia mengizinkan kenaikan harga tiket pesawat di kisaran 9-13%. Kenaikan harga tiket pesawat ini menyusul kenaikan harga avtur global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto menjelaskan tekanan geopolitik global membuat harga avtur melambung tinggi. Di Filipina, harga avtur sudah menembus Rp 25.326 per liter, bahkan di Thailand mencapai Rp 29.518 per liter. Sementara di Indonesia, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta Rp 23.551 per liter. Kenaikan harga ini dapat memengaruhi operasional maskapai nasional.
"Kenaikan ini sangat memengaruhi operasional maskapai nasional, di mana komponen avtur berkontribusi hingga 40 persen dari total biaya operasional pesawat," ujar Airlangga dikutip detikFinance.
(hsa/hsa)










































