Talkshow GenSawit 2026 di Universitas Udayana (Unud), Denpasar, memantik kritik dari mahasiswa se-Bali dan BEM PM Unud. Forum yang membahas industri kelapa sawit itu dinilai lebih banyak membela sawit dan menonjolkan narasi positif, sementara isu deforestasi, konflik agraria, hingga kebakaran hutan disebut belum terjawab.
Kegiatan yang diinisiasi Direktorat Jenderal Perbendaharaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDB) itu digelar di Kampus Sudirman, Denpasar, Rabu (20/5/2026). Forum tersebut menghadirkan mahasiswa dari 22 universitas di Bali dengan tujuan memberikan fakta objektif terkait industri kelapa sawit di tengah maraknya narasi negatif sawit di media sosial maupun media massa, dari aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Salah satu narasumber, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Yanto Santosa, menilai industri sawit selama ini kerap menjadi sasaran kampanye negatif, baik nasional maupun internasional, terutama terkait isu deforestasi, kerusakan lingkungan, hingga emisi karbon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada tiga isu lingkungan yang sangat besar dan terus bergulir ibarat bola salju," ujar Yanto di Ruang Nusantara Kampus Udayana Sudirman dalam pemaparannya, Rabu (20/5/2026).
Yanto menjelaskan sebagian besar lahan sawit di Indonesia disebut berasal dari area non-kawasan hutan, mulai dari bekas lahan produksi hingga lahan terbuka. Menurutnya, hilangnya hutan di Indonesia tidak memiliki hubungan langsung dengan bertambahnya perkebunan sawit.
"Kalau kita menggunakan kriteria deforestasi Indonesia, maka hanya sekitar 20 persen yang merubah kawasan hutan menjadi kebun sawit," ujarnya.
Ia juga menilai sawit tidak selalu berdampak buruk terhadap keanekaragaman hayati maupun penggunaan air. Menurutnya, dalam sejumlah penelitian, penurunan jumlah spesies bukan sepenuhnya berakibat dari penutupan lahan untuk pembukaan perkebunan sawit.
Sementara itu, Head Internasional Relation DPP Apkasindo Djono Albar Burhan mendorong generasi muda untuk lebih kritis dalam menerima informasi terkait industri sawit di media sosial. Menurutnya, industri sawit berkontribusi besar terhadap ekonomi petani.
"Belum tentu yang kita rasa benar itu benar sepenuhnya. Anak muda sekarang gampang terpapar informasi di media sosial," ujar Burhan.
Menurut Burhan, industri sawit memiliki produktivitas tinggi jika dibandingkan dengan minyak nabati lain dan menjadi sumber penghidupan jutaan petani di Indonesia. Ia juga menyebut kampanye negatif terhadap industri sawit berdampak pada komoditas lain seperti kopi dan kakao yang ikut terdampak regulasi deforestasi Uni Eropa.
Yanto juga menyinggung sawit sebagai tanaman yang disebut mampu menyerap karbon dan dinilai memberi manfaat lebih besar sebagai penyerap karbon bagi Indonesia.
Mahasiswa Soroti Kampus dan Narasi Sawit
Pemaparan yang dinilai condong pada narasi positif itu justru menjadi sorotan mahasiswa. Melalui perwakilan BEM PM Unud, mereka menilai diskusi tersebut lebih banyak membela industri sawit tanpa membahas secara mendalam dampak sosial dan ekologi yang terjadi di lapangan.
Selain itu, mahasiswa menyoroti isu kebakaran hutan, konflik agraria, hingga pembukaan lahan yang dinilai belum disinggung maupun dijawab dalam forum tersebut.
"Kami tidak anti sawit, tetapi mempertanyakan bagaimana komunikasi pemerintah terhadap isu-isu yang muncul di masyarakat," ujar perwakilan BEM PM Unud.
Berikut sikap tegas yang disampaikan perwakilan BEM PM Unud dan aliansi Mahasiswa se-Bali:
- Menuntut pemerintah menghentikan eksploitasi wilayah dan hutan masyarakat adat yang dinilai merugikan kehidupan masyarakat akibat ekspansi perkebunan sawit.
- Menolak program yang dinilai sebagai propaganda dan glorifikasi industri kelapa sawit tanpa membahas secara utuh dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi yang ditimbulkan.
- Mendesak pemerintah dan kementerian terkait mengevaluasi ekspansi perkebunan kelapa sawit yang disebut berkontribusi terhadap deforestasi dan kerusakan lingkungan.
- Meminta pemerintah membuka ruang kajian akademik yang lebih kritis dan independen terkait industri sawit, bukan hanya menghadirkan narasi positif.
- Menegaskan kampus tidak boleh dijadikan ruang propaganda industri maupun pemerintah, melainkan tetap menjadi ruang diskusi ilmiah yang objektif.
- Menyoroti pentingnya keterbukaan pemerintah dalam membahas isu kebakaran hutan, konflik lahan, dan dampak ekologis yang selama ini dikaitkan dengan industri sawit.
- Menyatakan bahwa mereka bukan 'antisawit', tetapi menuntut transparansi serta keseimbangan informasi terkait dampak dan manfaat industri sawit.
(dpw/dpw)










































