Tradisi di Lombok banyak dipengaruhi budaya Bali. Namun, masyarakat setempat tetap memiliki kekhasan tersendiri, termasuk dalam menyikapi kematian. Salah satunya adalah tradisi belangar, yang menjadi bentuk empati sosial saat ada warga meninggal dunia.
Di Lombok yang mayoritas penduduknya beragama Islam, belangar dilakukan dengan mendatangi rumah duka untuk bertemu keluarga yang ditinggalkan. Tradisi ini bukan sekadar melayat, tetapi juga menjadi cara masyarakat berbagi beban emosional dan menunjukkan bahwa keluarga yang berduka tidak sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Duka kehilangan kerap sulit diungkapkan. Melalui belangar, masyarakat hadir sebagai penguat, sekaligus pengingat bahwa hubungan dengan orang yang telah meninggal tidak berhenti begitu saja, melainkan tetap terjalin melalui relasi sosial yang ditinggalkan.
Belangar dan Latar Belakangnya
Belangar merupakan tradisi masyarakat Sasak yang merujuk pada kegiatan melayat atau mengunjungi keluarga yang sedang berduka. Tradisi ini biasanya dilakukan sehari setelah pemakaman, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan zikir selama sepekan sebagai bentuk empati dan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Para keluarga dan tetangga akan berdatangan membawa baskom yang diisi beras. Beras tersebut adalah beras pelangar yang dijadikan persiapan untuk pembuatan kue selama acara berlangsung seminggu. Ada perbedaan antara perempuan dan lelaki, para pihak lelaki akan memberikan amplop untuk acara selamatan.
Saat berita kematian datang, bedug didentumkan sebagai sebuah sinyal ada seseorang yang meninggal. Masyarakat lalu berdatangan baik dari desa atau desa yang lain. Para keluarga juga akan menyiapkan sayur nasi sebagai balasan terima kasih atas beras yang dibawa oleh para pelayat.
Pembuatan keranda bahkan dibantu oleh para masyarakat. Keranda tersebut terbuat dari batang bambu yang dirangkai hingga membentuk keranda yang digunakan untuk mengangkut jenazah ke kuburannya.
Keranda terdiri dari lasah urung batang atau penutup atas dan diikat dengan wenang bola atau benang putih yang membentuk busur. Ada makna dari benang putih yaitu kesucian karena jenazah akan menghadap Sang Pencipta.
Prosesi Pemakaman
Prosesi perawatan jenazah dilakukan sesuai syariat Islam, mulai dari memandikan dengan air, daun bidara, hingga kapur barus dan wewangian. Jenazah kemudian dikafani, tiga lapis untuk laki-laki dan lima lapis untuk perempuan, sebelum disalatkan.
Selanjutnya, proses sembahyang mayit atau menyolatkan sebagaimana pada umumnya. Pada proses terakhir yaitu betukaq atau penguburan, dilakukan oleh masyarakat secara bersama dan dihadiri oleh para tetangga, kerabat, dan lain-lain.
Upacara Adat Kematian Setelah Penguburan
Proses tradisi ini tidak berhenti saat penguburan. Dalam adat suku Sasak, terdapat Nepong Tanaq yakni pemberitahuan adanya seseorang yang meninggal jika zaman modern memakai speaker yang ada di masjid.
Nepong Tanaq bertujuan untuk memberitahukan kepada warga bahwa ada seseorang yang harus diberikan perhatian atas kepergiannya ke kehidupan selanjutnya. Ini menandakan bahwa urusan kematian adalah urusan komunal bukan privat.
Dilanjutkan dengan Nelung yaitu sebuah ritual yang dilakukan pada hari ketiga. Nelung merupakan nama dari sesajen yang ditujukan agar berpisahnya roh yang meninggalkan jiwaya.
Ritual ini diyakini oleh masyarakat adat Sasak, bahwa malaikat akan menuntun roh menuju surga. Ritual tersebut dilakukan dengan menyiapkan aiq wangi yang dikenal sebagai air kembang ke dalam wadah dan memasukkan kepeng tepong atau uang koin bolong zaman dulu untuk didoakan dan menjadi berkat dengan cara menyiram aiq wangi di atas kuburan.
Berlanjut pada hari kelima, dimulai upacara pembacaan al-Quran yang dikhususkan pahala untuk bantuan bekal jenazah, sampai hari keenam.
Pada hari ketujuh, rangkaian tradisi berlangsung lebih kompleks melalui ritual perebaq kayu. Dalam prosesi ini, warga menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar serta mengambil daun kelapa yang dianyam menjadi tetaring. Anyaman tersebut dimanfaatkan sebagai alas duduk, atap sementara, hingga tempat berkumpul para tamu yang hadir dengan posisi duduk bersila.
Pada hari ketujuh, juga dilakukan penyerahan bahan-bahan begawe atau hajatan dari pihak yang memiliki hajat (epen gawe) kepada pihak yang mengelola acara (inaq gawe).
Sementara itu, pada hari kesembilan, keluarga almarhum menggelar selamatan dengan mengundang para tamu untuk memanjatkan doa serta pembacaan Al-Qur'an bagi keselamatan almarhum.
Dalam rangkaian tersebut, turut dilaksanakan ritual talet mesan, yakni pemasangan batu nisan permanen di atas makam sebagai pengganti penanda sementara yang sebelumnya terbuat dari potongan bambu.
Jika kita menilik ulang kebudayaan Lombok, nilai adat dan ajaran agama Islam yang dianut tetap ada selagi tidak bertentangan dengan syariat. Belangar menjadi contoh bagaimana tradisi tidak sekadar diwariskan, tetapi dirawat sebagai bentuk empati sosial.
(nor/nor)










































