detikBali

Festival Mobok Balang di Lombok Tengah, Ratusan Warga Berburu Belalang

Terpopuler Koleksi Pilihan

Festival Mobok Balang di Lombok Tengah, Ratusan Warga Berburu Belalang


Edi Suryansyah - detikBali

Keseruan Mobok Balang atau memburu belalang pada malam hari di Desa Tanak Beak, Lombok Tengah. Foto: (Edi Suryansyah/detikBali)
Foto: Keseruan Mobok Balang atau memburu belalang pada malam hari di Desa Tanak Beak, Lombok Tengah. (Edi Suryansyah/detikbali)
Lombok Tengah -

Ratusan masyarakat Desa Tanak Beak, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), berduyun-duyun mengikuti Festival Mobok Balang atau memburu belalang di area persawahan malam hari. Kegiatan tersebut merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok.

Warga ramai-ramai membawa obor sebagai penerangan untuk mencari belalang di sawah. Diketahui, Mobok Balang tidak hanya sekadar berkaitan dengan aktivitas mencari belalang, tetapi juga memiliki nilai sosial, ekonomi, budaya hingga lingkungan. Tradisi tersebut dilakukan secara bersama-sama di area persawahan dan ladang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masyarakat menangkap belalang untuk dimanfaatkan sebagai tambahan bahan makanan yang kaya protein sekaligus bagian dari kehidupan masyarakat agraris dalam memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana.

Dalam festival tersebut, terdapat juga puluhan stand UMKM yang menjual aneka jenis makanan lokal. Seperti, pencok, urap-urap, pelecing, jagung bakar, pisang goreng, gorengan, bebetok, sate siput, sate ayam, kelepon, jaje tujak dan tentunya sambel belalang.

ADVERTISEMENT

Area tersebut dinamakan sebagai Pasar Balang yang biasanya buka setiap Minggu atau saat kegiatan car free day (CFD). Selain menjual makan lokal, para pedagang juga menjual jajanan kekinian. Seperti, donat, martabak, burger, sosis bakar dan lain-lain.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, dalam sambutannya mengingatkan masyarakat Desa Tanak Beak, untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus situs-situs bersejarah yang masih tersimpan di kawasan tersebut.

"Sejak beberapa tahun yang lalu, saya sudah jatuh cinta sama Tanak Beak ini. Keindahan alamnya, cuacanya enak, senyum masyarakatnya juga cerah, dan masyarakat sangat bahagia," ujarnya sebelum membuka Festival Mobok Balang, Sabtu.

Iqbal kemudian menitipkan dua pesan penting kepada masyarakat Tanak Beak. Pertama, berkaitan dengan lingkungan. Menurutnya, kondisi lingkungan Tanak Beak yang masih terjaga tidak hanya penting bagi masyarakat setempat, tetapi juga bagi warga di wilayah lain yang berada di sepanjang aliran sungai.

"Tanak Beak ini lingkungannya masih luar biasa baik, masih terjaga. Yang hidup dari lingkungan yang sehat di Tanak Beak ini bukan hanya warga Tanak Beak. Warga yang lain di bawah aliran sungai ini semua sangat tergantung kepada sehatnya lingkungan di Tanah Beak," ujarnya.

Karena itu, Iqbal meminta masyarakat tidak menebang pohon sembarangan, merusak sungai, maupun membuang sampah ke lingkungan. Ia menyebut, hal itu akan menjadi ancaman serius bagi masyarakat jika dilakukan.

"Jaga lingkungan ini. Jangan tebang pohon-pohon kalau tidak perlu, jangan rusak sungai. Manfaatkan sungai tapi jangan dirusak. Jangan membuang sampah sembarangan," tegasnya.

Menurutnya, kelestarian Tanak Beak harus dipertahankan agar generasi mendatang tetap bisa menikmati lingkungan yang sehat dan keindahan alam yang sama seperti saat ini.

"Jangan kita mewariskan generasi yang lemah. Kita mau keindahan Tanak Beak yang kita temui dan lihat pada hari ini bisa kita wariskan kepada generasi yang akan datang dalam keadaan sama indahnya, sama baiknya, dan sama sehatnya lingkungannya," tuturnya.

Mantan Dubes RI untuk Turki ini mengatakan, kawasan Tanak Beak merupakan salah satu lokasi yang masih menyimpan jejak dampak letusan besar Gunung Samalas pada 1257. Di sejumlah titik, kata Iqbal, masih terdapat situs dan benda-benda yang diduga merupakan peninggalan masa lalu.

"Kalau menemukan benda-benda dari masa lalu yang terkubur di sini, supaya diamankan. Kalau perlu dikompensasi, kita kasih kompensasi kepada masyarakat yang menemukan," katanya.

Dia juga meminta masyarakat segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah maupun Dinas Kebudayaan Provinsi NTB apabila menemukan artefak atau benda yang diduga memiliki nilai sejarah.

"Jangan sungkan-sungkan kontak Pak Kadis Kebudayaan, baik di Lombok Tengah maupun di Mataram. Karena banyak benda-benda bersejarah yang terkubur di Tanah Beak ini," imbuhnya.

Menurutnya, benda-benda tersebut tidak sekadar memiliki nilai material, tetapi menyimpan cerita dan pengetahuan mengenai kehidupan masyarakat pada masa lalu.

"Banyak cerita di balik benda-benda yang ditemukan itu. Ada banyak pelajaran di balik benda-benda yang ditemukan itu," katanya.

Iqbal mengatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB tengah memikirkan langkah konservasi terhadap berbagai peninggalan tersebut. Ia menyebut, dari artefak yang telah ditemukan, ia menilai Tanak Beak memiliki sejarah panjang dan pernah menjadi kawasan yang maju pada masanya.

"Kalau kita lihat sementara ini, dari artefak-artefak peninggalan, benda-benda yang ditinggalkan itu, sebenarnya kita lihat bahwa dulu Tanah Beak ini daerah yang sangat maju," pungkasnya.



(hsa/hsa)











Hide Ads