detikBali

Pantangan Makan Ikan Warga Bima: Kuwe Bawa Bencana, Belanak Bisa Bikin Tuli

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pantangan Makan Ikan Warga Bima: Kuwe Bawa Bencana, Belanak Bisa Bikin Tuli


Rafiin - detikBali

Prasasti Tabe Bangkolo (wajan ikan kuwe) di bukit Desa Jia, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, NTB. (Istimewa)
Foto: Prasasti Tabe Bangkolo (wajan ikan kuwe) di bukit Desa Jia, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, NTB. (Istimewa)
Bima -

Warga Desa Jia, Kecamatan Sape Kabupaten Bima, dan Kelurahan Jatiwangi, Kecamatan Asakota, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), memiliki tradisi unik yang dilaksanakan secara turun temurun. Yakni larangan warga Desa Jia mengonsumsi ikan kuwe dan pantangan memakan ikan belanak bagi warga Jatiwangi.

"Dari dulu warga Desa Jia tidak pernah mengonsumsi ikan kuwe atau buta bangkolo (bahasa Bima)," ucap tokoh pemuda Desa Jia, Muhammad Rusdin, kepada detikBali, Minggu (9/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Rusdin, uta bangkolo tak dikonsumsi oleh warga Desa Jia sudah dianggap tradisi yang harus dilaksanakan secara turun temurun. Hingga kini pantangan tersebut masih tetap dipertahankan.

"Tradisi turun temurun yang masih dan tetap dipertahankan hingga sekarang," akun dia.

ADVERTISEMENT

Ia mengeklaim warga Desa Jia yang nekat mengkonsumsi uta bangkolo dianggap dapat menghadirkan malapetaka atau bencana bagi diri sendiri, anggota keluarga dan warga Desa. Seperti badan gatal-gatal hingga terkena bencana.

"Kalau sampai dikonsumsi ada resikonya. Mulai dari badan gatal-gatal hingga terkena bencana," katanya.

Rusdin menjelaskan warga Desa Jia pantang konsumsi uta bangkolo bermula dari kisah seorang Ncuhi (tokoh atau leluhur lokal) Jia yang selamat dari musibah kecelakaan laut. Konon ceritanya, Ncuhi itu berhasil selamat berkat bantuan dan pertolongan ikan kuwe

"Dari cerita ke cerita, dulu Ncuhi Jia bernazar atau bersumpah tidak akan mengkonsumsi uta bangkolo secara turun temurun. Hal itu sebagai bentuk terima kasih dan penghormatan Ncuhi Jia kepada uta bangkolo yang membantu menyelamatkannya," katanya.

Selain bersumpah, Ncuhi Jia kala itu juga bersama warga membangun sebuah wajan besar sebagai bentuk perhormatan terhadap ikan kuwe. Hingga kini wajan itu dikenal sebagai prasasti tabe bangkolo yang berada di bukit Gunung Desa Jia dan ramai dikunjungi.

"Hingga saat ini, kami masih meyakini dan berpegang teguh bahwa memakan uta bangkolo akan membawa kesialan, bencana dan ada anggota keluarga yang jatuh sakit. Hal ini terus kami jaga sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur," imbuh Rusdin.

Ikan Belanak Dipercaya Bisa Bikin Pikun dan Tuli

Tradisi serupa juga ditemukan di Kelurahan Jatiwangi, Kecamatan Asakota, Kota Bima. Bedanya, warga Jatiwangi memiliki pantangan terhadap ikan belanak atau uta mpole (bahasa Bima). Ketua RT 05 Kelurahan Jatiwangi, Mahdin, mengatakan warga setempat meyakini ikan tersebut tidak boleh dikonsumsi.

"Kalau ada warga Jatiwangi yang memakan uta mpole, akan merasakan pusing, pikun hingga tuli," ungkap Ketua RT 05 Kelurahan Jatiwangi, Mahdin.

Menurut Mahdin, hal itu sudah berlangsung secara turun temurun. Selain warga asli, para pendatang yang menetap dan tinggal lama di lingkungan Jatiwangi juga pantang memakan uta mpole.

"Sudah turun temurun. Kalau ada pendatang luar yang tinggal di sini, kami beritahu dan jelaskan. Setelah itu dengan sendirinya mereka tak lagi mengonsumsinya," katanya.

Mahdin mengungkapkan, uta mpole tak dikonsumsi oleh warga Jatiwangi karena ikan tersebut salah satu ikan yang hidup di tempat parafu. Bagi orang Bima dulu, Parafu adalah tempat keramat atau sakral seperti pohon besar, sumber mata air dan batu yang diyakini ada roh dan arwah leluhur hingga ada kekuatan gaib.

"Cerita ini terus diwariskan secara turun temurun dan hingga kini masih dipercaya dari generasi ke generasi," ujarnya

Ada Warga yang Mengaku Jatuh Sakit

Mahdin mengungkapkan pernah ada kejadian, seorang warga pendatang nekat mengkonsumsi ikan belanak. Hanya saja keesokan harinya, orang itu tiba-tiba jatuh sakit dan tidak bisa lagi mendengar karena tuli.

"Percaya atau tidaknya, yang jelas ada banyak yang mengeluhkan sakit dan tuli setelah mengkonsumsi uta mpole ini," ungkapnya.

Ia menambahkan hingga saat ini tak pernah melihat langsung ikan belanak secara langsung dengan mata. Selama ini hanya mendengar cerita serta melihat foto dan video yang beredar di sosial media.

"Kata orang ikan ini enak enak dan gurih. Tapi sayangnya saya tak bisa mengonsumsinya," tandasnya.

Terkait hal itu, peneliti sejarah dan budaya lokal Bima, Fahru Rizki, membenarkan adanya cerita rakyat mengenai pantangan ikan kuwe di Desa Jia dan ikan belanak di Kelurahan Jatiwangi. Namun, ia mengaku belum melakukan penelitian secara mendalam mengenai asal-usul kedua tradisi tersebut.

"Soal ini mungkin lebih ke kultur doktrinal," tandasnya singkat.



(nor/nor)









Hide Ads