Pelaku penipuan online (scam) di Bali tak lagi statis. Direktorat Reserse Siber (Ditressiber) Polda Bali mengungkap para pelaku kini bergerak cepat, berpindah-pindah lokasi layaknya pola kerja 'digital nomad' demi menghindari kejaran aparat.
Direktur Reserse Siber Polda Bali Kombes Aszhari Kurniawan mengatakan, pihaknya telah menerima sejumlah laporan terkait scam dengan korban masyarakat di Bali. Saat ini, laporan tersebut masih dalam proses penyelidikan.
"Terkait dengan scam yang terjadi di Bali, khususnya masyarakat yang menjadi korban, memang ada beberapa laporan yang masuk ke kami dan saat ini masih dalam proses pemeriksaan atau penyelidikan," ujarnya, Kamis (30/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, jumlah laporan penipuan online yang diterima kepolisian bersifat fluktuatif setiap bulan.
"Kalau terkait jumlahnya tentunya fluktuatif tiap bulan, naik turun jumlah laporan atau pengaduan masyarakat terkait penipuan online," imbuhnya.
Aszhari mengungkapkan, pola kejahatan yang digunakan pelaku tidak jauh berbeda dengan praktik scam sebelumnya. Namun, mobilitas pelaku yang tinggi menjadi perhatian utama aparat.
"Sama halnya dengan kasus yang sudah pernah terjadi, mereka ini berpindah-pindah. Istilahnya digital nomaden, melakukan aktivitas baik itu judi online maupun scam. Mereka mencari tempat yang dianggap aman, termasuk Bali," jelasnya.
Menurutnya, Bali kerap dipilih karena karakter wilayahnya sebagai destinasi wisata internasional yang ramai, sehingga aktivitas pelaku dapat tersamarkan.
"Beberapa oknum memilih Bali karena aktivitas mereka bisa lebih tersamarkan. Dengan banyaknya wisatawan, keberadaan mereka tidak terlalu mencolok. Kalau di tempat yang minim wisatawan asing, tentu lebih mudah dicurigai," katanya.
Ia menambahkan, saat aparat mulai melakukan penindakan di suatu lokasi, para pelaku cenderung segera berpindah ke tempat lain untuk menghindari penggerebekan.
Di sisi lain, Ditressiber Polda Bali juga menyoroti dugaan puluhan warga negara asing (WNA) yang disekap di sebuah guest house di kawasan Kuta, Badung, beberapa waktu lalu dan dijadikan admin praktik scam.
Polda Bali memastikan akan menindaklanjuti informasi tersebut dengan berkoordinasi bersama Mabes Polri dan Bareskrim.
"Kami akan tindak lanjuti dan berkoordinasi dengan Mabes Polri serta Siber Bareskrim," tegasnya.
Polda Bali menegaskan akan terus mendalami setiap laporan yang masuk serta meningkatkan pengawasan terhadap potensi kejahatan siber, khususnya yang dilakukan secara terorganisir dan lintas wilayah.
(dpw/dpw)










































