detikBali

Pemprov NTB Cek Kondisi 3 Bocah yang Tinggal di Gubuk Reyot Bima

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pemprov NTB Cek Kondisi 3 Bocah yang Tinggal di Gubuk Reyot Bima


Sui Suadnyana, Ahmad Viqi - detikBali

Kepala Dinas Kominfotik NTB, Ahsanul Khalik. (Foto: Ahmad Viqi/detikBali)
Foto: Kepala Dinas Kominfotik NTB, Ahsanul Khalik. (Foto: Ahmad Viqi/detikBali)
Bima -

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) turun mengecek kondisi tiga anak di Dusun Radu, Desa Bala, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, yang tinggal di gubuk reyot. Ketiga kakak beradik itu masing-masing bernama Muhammad Ali Farizi (9), M Al Fajrin (6), dan Faujan (3).

Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Halik, menegaskan pemerintah tidak tinggal diam terhadap kondisi ketiga bocah yang hidup dalam keterbatasan tersebut. Menurut Aka, sapaannya, ketiga bocah itu sudah ditangani oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima.

"Kami di tingkat provinsi juga telah berkoordinasi langsung dengan Dinas Sosial Provinsi NTB untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan terarah," ujar Aka, Selasa (28/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketiga anak tersebut, jelas Aka, memang tinggal bersama neneknya setelah ditinggalkan orang tua yang merantau ke luar daerah. Mereka juga tinggal bersama bibi dari pihak ibu. Namun, kondisi ekonomi keluarga memang tergolong miskin ekstrem dengan tempat tinggal yang tidak layak huni.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, Aka berujar, ketiga anak tersebut tetap bersekolah, masing-masing di jenjang sekolah dasar (SD), taman kanak-kanak (TK), dan pendidikan anak usia dini (PAUD).

Namun, persoalan kependudukan masih mengalami kendala. Baru anak pertama yang tercatat dalam kartu keluarga (KK), sementara adik-adiknya masih diproses. Perbaikan administrasi kependudukan sedang ditangani oleh bidan desa bersama Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) dan berkoordinasi dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Bala serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bima.

"Ini menjadi prioritas agar akses terhadap bantuan sosial bisa lebih optimal," jelas pria yang juga menjabat Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfos) NTB itu.

Bantah Tak Terima Bansos

Eks Staf Ahli Gubernur NTB itu menegaskan keluarga anak-anak itu sebenarnya telah menerima bantuan sosial (bansos), khususnya untuk neneknya melalui Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako. Namun, karena kondisi ekonomi yang sangat terbatas dan tidak ada penghasilan tetap, kebutuhan dasar keluarga tersebut masih belum terpenuhi secara memadai.

"Dinas Sosial NTB telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Bima untuk segera menyalurkan bantuan darurat berupa makanan siap saji, terpal, dan tempat tidur," tegas Aka.

Tidak hanya itu, koordinasi juga dilakukan dengan Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Sentra Paramitha, Lombok Barat, agar ketiga anak tersebut mendapatkan program Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi). Hal itu dilakukan untuk mendukung kebutuhan pendidikan dan pemenuhan kebutuhan dasar mereka.

Aka mengungkapkan ketiga anak itu dapat dibawa ke Pusat Pelayanan Sosial Anak milik Dinas Sosial P3A NTB apabila mendapat persetujuan dari keluarga dan Pemdes Bala. Jika disetujui, anak-anak akan menjadi tanggung jawab Pemprov NTB, termasuk pendidikan dan kebutuhan hidupnya, sampai jenjang sekolah menengah atas (SMA) sederajat.

Sementara itu, dari sisi penanganan rumah yang tak layak huni, Pemprov NTB akan mengoordinasikan langkah penanganan dengan Pemkab Bima serta pihak lain, seperti Badan Zakat Nasional (Baznas), agar dapat dilakukan perbaikan.

Aka menegaskan kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah sekaligus pengingat penanganan kemiskinan ekstrem membutuhkan kerja bersama lintas sektor. "Ini bukan hanya soal bantuan sesaat, tetapi memastikan anak-anak ini mendapatkan perlindungan, pendidikan, dan masa depan yang lebih baik," jelas Aka.

Diberitakan sebelumnya, nasib pilu dialami tiga kakak beradik di Dusun Radu, Desa Bala, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, NTB. Ketiganya hidup dengan kondisi yang cukup memprihatinkan dan terlunta-lunta tanpa kedua orangtua.

Tiga kakak beradik itu masing-masing bernama Muhammad Ali Farizi (9), M. Al Fajrin (6), dan Faujan (3). Saat ini, mereka diasuh dan tinggal bersama dengan neneknya yang tua renta di gubuk reyot.

"Sudah lama mereka tinggal bersama neneknya," kata Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Wera, Jokomalis, kepada detikBali, Jumat (17/4/2026).

Jokomalis menyebut ketiganya diasuh dan tinggal bersama neneknya lantaran kedua orang tua mereka tak ada kabar dan menghilang setelah berpisah (cerai). Perceraian terjadi sejak anak bungsu masih dalam kandungan.




(hsa/hsa)











Hide Ads