Warga Dusun Sape, Desa Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dibuat haru setelah seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Ihsan alias Esan kembali menghubungi keluarganya seusai hilang kabar hampir 20 tahun. Esan tiba-tiba mengirim pesan kepada keluarganya dari Malaysia melalui Facebook.
Selama dua dekade, keluarga mengira Esan telah meninggal dunia karena tak pernah memberikan kabar. Suasana haru pecah ketika Esan mendadak menghubungi akun Facebook milik kerabatnya, Joni Sutangga, melalui pesan singkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang tua dan keluarga yang melihat Ihsan masih hidup tak kuasa menahan tangis bahagia. Momen tersebut langsung menjadi perhatian warga dan viral di media sosial (medsos).
"Tadi malam sampai Tanjung Priok. Lagi proses pemulangan ke Lombok," kata Joni Surangga kepada detikBali, Jumat (15/5/2026) via WhatsApp.
Joni menceritakan bahwa, Esan telah meninggalkan kampung halaman selama 19 tahun lebih. Kabar terakhir yang diterima pada 2017, dia dalam perjalanan pulang dari Malaysia ke Batam melalui jalur laut. Keluarga pun bersiap-siap menjemput di bandara pada esoknya.
"Tapi bukan bahagia kami dapatkan, justru sedih menyelimuti siang hingga malam itu. Esan hilang kabar. Kontak person tidak bisa dihubungi. Keluarga yang ada di Malaysia kami telepon satu per satu menanyakan keberadaannya. Namun tidak ditemukan jawaban," ujarnya.
Hari demi hari, Esan tak kunjung memberikan kabar. Keluarga pun pupus harap dia bisa kembali pulang. Hilangnya kabar itu memicu banyak spekulasi. Seperti, apakah Esan tenggelam atau ditangkap polisi di Malaysia.
"Atau tenggelam lalu selamat dan nyandar entah dimana. Apalagi berseliweran kabar waktu itu, sebuah boat menuju Batam tenggelam. Tidak ada satu penumpang yang selamat. Sebagai pengobat hati, keluarga menganggap informasi boat tenggelam itu bohong. Kalau pun iya, boat itu tidak ditumpangi Esan," bebernya.
Yang lebih memperdalam spekulasi tentang kecelakaan kapal itu adalah cerita dari warga sekitar yang mengatakan, andaikan Esan dipenjara, hukuman paling lama satu tahun, lalu bisa pulang bertemu keluarga. Namun beda dengan kejadian ini.
"Hari demi hari, bulan silih berganti. Bahkan tahun demi tahun berlalu, keluarga terus berharap ada kabar yang muncul tiba-tiba," ungkap Joni.
Namun betapa kagetnya, pada Selasa (12/5/2026) pukul 19.20 Wita, Joni yang sedang di rumah mertuanya di Batujai, Kecamatan Praya Barat, tiba-tiba menerima pesan masuk menanyakan nomor ponsel Bahri (kakaknya Esan).
"Saya menanggapi santai awalnya. Saya bertanya siapa kamu. Esan lalu memperkenalkan diri. Saya Esan adiknya Bahri. Dalam hati, barangkali ada orang yang iseng. Sedikit penasaran, saya akhirnya kasih nomer saya," ujarnya.
Joni awalnya sempat ragu dengan hal tersebut. Terlebih ketika melihat akun yang mengirim pesan bukan Esan. Tetapi, logat Sasaknya membuatnya terus penasaran.
"Saya cek akun FB itu, benar bukan dia. Itu akun orang lain. Tapi rasa penasaran saya tidak bisa tertahan, saya langsung Video Call (VC). Allahuakbar, seketika saya kaget, terdiam. Tubuh gemetaran, merinding, sambil terus menatap wajahnya lewat layar Hp. Bicara saya tidak karuan. Terus bertanya, apakah benar dia Esan," katanya.
Dalam obrolan tersebut, sepintas Joni bertanya kemana saja selama ini tidak ada kabar. Dengan raut muka sedih, gelisah yang disertai bingung, Esan hanya menjawab baru keluar dari penjara. Posisinya sekarang di Batam menunggu diterbangkan ke Jakarta oleh imigrasi.
"Saya juga bertanya dari mana tahu akun Facebook saya, katanya, satu-satunya akun yang masih dia kenal akun saya. Saya bergegas pulang, ingin memberi kabar ke keluarga besar. Jarak Batujai-Kabul serasa 1 KM," tegasnya
Joni kemudian bergegas pulang ke Desa Kabul untuk menyampaikan kabar tersebut kepada keluarga besar. Kabar bahwa Esan masih hidup sontak membuat warga Dusun Sape geger.
"Sesampainya saya di Kabul, isak tangis tak terbendung. Adiknya Esan seketika pingsan, ibunya histeris memanggil, pulang nak-pulang nak, ayok pulang!. Tangisan makin ramai terdengar dari setiap keluarga yang berdatangan. Malam ini suasana gubuk pecah dengan air mata," ceritanya.
Menurut Joni, Esan terakhir kali memberi kabar pada 2017 sebelum akhirnya hilang kontak selama bertahun-tahun. Kini keluarga bersyukur karena akhirnya bisa kembali berkomunikasi dengan Esan.
"Allahuakbar, Esan masih hidup. Tidak terbayangkan di benak keluarga bisa berkomunikasi lagi. Sebentar lagi Esan bisa kumpul bersama keluarga," pungkas Joni.
(nor/nor)










































