Dua wisatawan asal Austria tewas terjatuh dari jembatan gantung yang ambruk saat berwisata di destinasi air terjun Cunca Wulang di Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden itu mendapat sorotan dari Asosiasi perusahaan perjalanan wisata Indonesia atau Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita).
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asita Manggarai Raya, Sebastian Pandang, menyoroti kelalaian pengelola destinasi tersebut yang tak memperhatikan kondisi jembatan gantung tersebut. Sorotan ditujukan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Manggarai Barat dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sebagai pengelola destinasi wisata air terjun Cunca Wulang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentunya sebagai pebisnis yang menjual destinasi, termasuk Cunca Wulang, itu merasa prihatin di mana pengelola, yaitu pertama pemda. Pemda tidak memperhatikan infrastruktur, fasilitas yang ada khususnya jembatan itu secara rutin," kata Sebastian di Labuan Bajo, Senin (25/5/2026).
"Berikutnya, mungkin kelompok Pokdarwis Cunca Wulang, yang mengelola destinasi Cunca Wulang. Mereka lalai memperhatikan terkait kondisi jembatan yang sudah lapuk, yang sudah rusak sehingga terjadinya hal yang di luar keinginan kami itu," imbuh Sebastian.
Sebastian meminta Pemkab Manggarai Barat segera membenahi infrastruktur di wisata air terjun Cunca Wulang. Ia berharap kejadian yang menimpa dua turis Austria itu tak terjadi lagi di kemudian hari.
Adapun dua turis yang tewas terjatuh dari jembatan gantung itu bernama Jurgen Perjul (55) dan Astrid Perjul (57). Mereka terjatuh akibat jembatan gantung setinggi sekitar 20 meter itu ambruk. Mereka terjatuh tepat di bebatuan besar hingga tewas di tempat.
Pemandu wisata (tour guide) bernama Muhamad Muhardin (30) mengungkapkan tragedi ini bermula ketika Jurgen dan Astrid tiba di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang sekitar pukul 09.20 Wita. Setibanya di jembatan gantung kayu yang membentang tinggi di atas aliran sungai berbatu, kedua korban berniat mengabadikan momen kebersamaan mereka dalam sebuah video pendek.
Mereka kemudian menyerahkan telepon genggam kepada Muhardin, meminta sang pemandu untuk merekam perjalanan mereka dari arah belakang.
"Mereka berjalan beriringan sambil tersenyum hangat ke arah kamera. Mereka sempat meminta saya, 'Tolong ambil video kami dari belakang saat kami menyeberang jembatan ini, ya'," kenang Muhardin di Labuan Bajo.
Baru sekitar 10 meter melangkah di atas bentangan jembatan gantung, kata Muhardin, struktur kayu yang menjadi tumpuan kaki mereka mendadak patah. Tiba-tiba terdengar suara keras seperti pohon besar tumbang. Muhardin menyaksikan kedua turis itu jatuh hingga terbentur di bebatuan besar.
"Tiba-tiba terdengar suara kayu patah yang sangat keras seperti dahan pohon besar yang tumbang. Dalam hitungan detik, jembatan langsung ambruk total," ujar Muhardin.
"Saya melihat mereka berdua jatuh bebas ke bawah dan langsung menghantam batu-batu sungai yang besar di dasar jurang," imbuh Muhardin.
(hsa/hsa)










































