Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menargetkan gedung permanen Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), rampung dan bisa digunakan pada Juli 2026. Saat ini, progres pembangunan gedung sekolah rakyat itu sudah mencapai 72 persen.
"Saat ini pembangunan sekolah rakyat permanen di Kabupaten Kupang telah mencapai sekitar 72 persen dan ditargetkan mulai digunakan pada Juli 2026. Ini bukan mimpi. Ini sedang dibangun dan akan segera dimanfaatkan oleh anak-anak kita," ujar Gus Ipul saat menghadiri peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2026 di Aula El Tari, Kantor Gubernur NTT, Minggu (31/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gus Ipul mengapresiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang yang sudah menyediakan lahan untuk gedung SRMP 19 Kupang. Menurutnya, pemerintah menargetkan masing-masing kabupaten/kota memiliki minimal satu gedung permanen sekolah rakyat dengan kapasitas 1.000 siswa.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul mengaku terharu melihat perkembangan siswa SRMP 19 Kupang. Ia mengeklaim adanya sekolah rakyat menujukkan negara hadir untuk anak-anak yang berasal dari keluarga miskin dan rentan.
"Anak pemulung, anak buruh tani, anak nelayan, anak tukang becak, mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan masa depan yang lebih baik," ujar Gus Ipul.
Kepala SRMP 19 Kupang Filipina Agustina Kale menyebut sekolahnya menampung 100 siswa miskin ekstrem dari 24 kecamatan di Kabupaten Kupang. Menurutnya, para siswa yang belum bisa membaca dan menulis mendapatkan pendampingan khusus dari para guru.
"Saat pertama masuk sekolah terdapat 27 siswa yang belum mampu membaca dan menulis dengan baik. Namun, berkat pendampingan intensif yang dilakukan para guru dan tenaga kependidikan setiap hari, kini hanya tersisa satu siswa yang masih menjalani pendampingan khusus," jelas Agustina.
Menurut Agustina, guru di sekolah rakyat bukan sekadar menjadi pengajar. Melainkan juga berperan sebagai orang tua untuk siswa yang tinggal di asrama.
"Mendidik secara akademik mungkin mudah, tetapi mendampingi mereka yang mengalami berbagai keterbatasan sosial dan ekonomi membutuhkan kesabaran dan ketulusan. Kami hadir untuk mereka siang dan malam," imbuhnya.
(iws/iws)










































