Di wilayah China terdapat praktik pemakaman yang ditempatkan di tebing atau di dalam gua. Para peneliti menemukan bahwa orang modern etnis Bo di wilayah China barat daya memiliki hubungan dengan leluhur yang mempraktikkan 'peti mati gantung' kuno tersebut.
Penemuan ini dilakukan dengan menganalisis genomik komparatif terhadap 11 individu kuno dari empat situs 'peti mati gantung' di China, empat 'peti mati kayu' di Thailand, serta 30 genom lengkap dari populasi Bo kontemporer. Hasilnya, individu orang-orang Bo ternyata mewarisi genetik dari komunitas 'peti mati gantung' kuno.
Penelitian yang terbit di Nature Communications pada 20 November 2025 ini, bertujuan untuk mengetahui bagaimana migrasi manusia pada zaman dulu beserta penyebaran budayanya. Terutama dari Asia Timur ke wilayah Asia Tenggara dan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Praktik Peti Mati Gantung
Peti mati gantung merupakan praktik tradisi penguburan kuno dengan meletakkan peti mati kayu di tebing atau di dalam gua. Peti mati kayu juga ditemukan di situs di Thailand.
Para peneliti menganalisis bagaimana kaitan orang-orang Modern di wilayah China barat daya dengan praktisi kuno peti mati gantung.
"Orang-orang Bo kontemporer menunjukkan tingkat pewarisan genetik yang cukup besar dari komunitas peti mati gantung kuno," jelas Profesor Zhang Xiaoming, peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan China, dikutip dari Science Daily.
"Kami mencatat bahwa kebiasaan penguburan yang pernah berkembang dan unik ini kemungkinan awalnya diciptakan oleh populasi keturunan orang Asia Timur bagian selatan pada akhir Neolitik di pesisir tenggara China sekitar 3000 tahun yang lalu," kata peneliti.
Orang-orang Suku Bo
Para peneliti mengatakan, praktik peti mati ganti diperkirakan menghilang dari sejarah, selama sekitar 600 tahun.
"Kami menemukan bahwa orang Bo adalah keturunan langsung dari para praktisi kebiasaan Peti Mati Gantung," kata peneliti.
Orang-orang Bo merupakan kelompok masyarakat kuno Tiongkok, yang hampir hilang dari catatan sejarah. Diperkirakan mereka hidup hingga akhir masa Dinasti Ming (1368-1644 M).
Karena mengalami penganiayaan selama Dinasti Ming (1368-1644 M), mereka melarikan diri ke wilayah tetangga, mengubah identitas mereka dan bergabung dengan penduduk setempat.
Meski demikian, sebagian kecil suku Bo bermukim di Qiubei. Pada 2003 terdapat 5.084 orang Suku Bo modern yang tersebar di 42 desa di 6 kotamadya. Kelompok ini berhasil melestarikan tradisi budaya yang luar biasa karena secara geografis mereka terisolasi.
Kesinambungan dengan Populasi Komunitas Kuno di Thailand
Uniknya lagi populasi di atas ternyata berhubungan erat dengan populasi Neolitikum pesisir Asia Timur bagian selatan, termasuk para petani. Diketahui mereka juga merupakan nenek moyang dari penutur bahasa Tai-Kadai dan Austronesia modern.
Penemuan genetika berbeda pada individu Hanging Coffin juga mengejutkan para ilmuwan. Terdapat dua spesimen purba dari situs Wa Shi di Yunnan berusia 1.200 tahun. Secara genetik mereka mirip dengan para petani Sungai Kuning dan beberapa kelompok yang terkait dengan Tibet, serta populasi Asia Timur Laut kuno.
Keterkaitan genetik tersebut berisi kisah interaksi jarak jauh dan pelestarian budaya selama Dinasti Tang. Perbedaan genetik antar wilayah menunjukkan bahwa terjadi perpindahan dan percampuran yang rumit pada masa lalu.
Seperti populasi peti mati kayu di Thailand, yang diduga bercampur dengan kelompok-kelompok terkait Hoabinhian di Thailand. Diperkirakan pengaruh ini berasal dari laki-laki petani Sungai Kuning yang menikah dengan perempuan budaya Hòabìnhian setempat, suatu proses yang disertai dengan akulturasi budaya.
"Eksplorasi lebih lanjut dengan sisa-sisa manusia dan konten arkeologis tambahan dari wilayah-wilayah ini, yang menggabungkan perspektif ilmiah interdisipliner, dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih komprehensif tentang sejarah kebiasaan penguburan peti mati kayu yang digantung di masa mendatang," harap peneliti.
Penulis adalah peserta magang Hub Kemnaker di BeritaKlik.
(faz/faz)










































