Benda-benda langit memiliki beragam fenomena yang unik. Misalnya, saat bintang menua, ukurannya membesar, sehingga planet yang mengorbit dekat berisiko ditelan.
Studi ini menunjukkan planet-planet yang paling dekat dengan bintangnya, terutama yang mengorbit bintangnya baru dalam waktu 12 hari atau kurang, memiliki risiko lebih tinggi untuk hancur akibat penuaan bintangnya.
Fenomena ini dijelaskan ini dalam studi terbaru yang diterbitkan di Monthly Notices of the Royal Astronomical Society Volume 544, Issue 1, November 2025 dengan judul "Determining the impact of post-main-sequence stellar evolution on the transiting giant planet population Open Access" dan ditulis Edward M Bryant dkk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gagasan bahwa bintang yang menua bisa menelan atau menghancurkan planet, memang sudah banyak diketahui. Namun, masih sedikit penelitian rinci yang menjelaskan bagaimana proses itu terjadi dan pada tahap apa planet berada pada risiko tertinggi.
Penelitian terbaru ini menganalisis lebih dari 400.000 bintang dalam fase pasca-deret utamauntuk mengetahui apakah jumlah planet di sekitar bintang tua menurun. Hasilnya menunjukkan, memang ada penurunan populasi planet di sekitar bintang-bintang tersebut.
Data TESS Ungkap Planet
Berdasarkan data dari Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS), para peneliti berhasil mendeteksi 130 planet yang mengorbit dekat dengan bintangnya, termasuk 33 planet baru yang sebelumnya belum pernah teridentifikasi.
Tim peneliti menemukan penuaan bintang secara signifikan menghapus planet-planet di sekitarnya.
"Ini merupakan bukti kuat bahwa ketika bintang berevolusi keluar dari deret utamanya, mereka dapat dengan cepat membuat planet-planet mengorbit terlalu dekat hingga hancur," ujar peneliti dari University College London dan University of Warwick, Edward Brant, dikutip dari Science Alert.
"Hal ini sudah menjadi perdebatan dan teori selama beberapa waktu, tetapi kini kita bisa melihat dampaknya secara langsung dan mengukurnya pada populasi bintang yang besar," tegas Brant.
"Kami memang sudah menduga efek ini, tetapi tetap terkejut melihat betapa efisiennya bintang-bintang ini dalam menelan planet-planet yang mengorbit dekat," tambah Brant.
Data penelitian menunjukkan semakin pendek periode orbit sebuah planet, semakin besar kemungkinan bahwa planet itu akan hancur.
Gaya pasang surut antara bintang dan planet gas raksasa, mirip dengan gaya pasang surut antara Bumi dan Bulan, menyebabkan orbit planet mengalami peluruhan hingga akhirnya ke dalam dan hancur. Gaya pasang surut ini juga berpotensi merobek planet gas raksasa, yang menjadi akhir dramatis bagi planet tersebut.
Matahari diperkirakan akan memasuki fase pasca-deret utama dalam sekitar 5 miliar tahun. Meskipun Bumi memiliki peluang bertahan lebih baik dibanding planet yang lebih dekat seperti Merkurius dan Venus, kondisi yang akan terjadi tetap akan sangat ekstrem dan menantang bagi kelangsungan planet.
"Bumi jelas lebih aman dibanding planet-planet gas raksasa dalam penelitian kami yang mengorbit lebih dekat ke bintangnya. Namun, kami hanya meneliti tahap awal fase pasca-deret utama, yaitu satu hingga dua juta tahun pertama. Bintang-bintang ini masih memiliki banyak evolusi yang akan terjadi," ujar peneliti dari University College London, Vincent Van Eylen.
"Berbeda dengan planet-planet gas raksasa yang hilang dalam penelitian kami, Bumi mungkin akan bertahan saat Matahari memasuki fase raksasa merah. Namun, kehidupan di Bumi kemungkinan besar tidak akan bertahan," tambahnya.
Tim peneliti berharap dapat memperdalam pemahaman tentang proses kehancuran planet di sekitar bintang yang menua melalui misi PLATO yang dijadwalkan diluncurkan pada akhir 2026.
Dengan kemampuan PLATO dalam mendeteksi planet, para peneliti akan dapat mempelajari bintang-bintang yang lebih tua dan berada dalam fase raksasa merah, melampaui pengamatan yang dilakukan oleh TESS.
Penulis adalah peserta program Magang Hub Kemnaker di BeritaKlik.
(nah/nah)










































