Akhirnya Terungkap! Ini Alasan Hewan Jantan Hidup Lebih Pendek dari Betina

ADVERTISEMENT

Akhirnya Terungkap! Ini Alasan Hewan Jantan Hidup Lebih Pendek dari Betina

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Senin, 29 Des 2025 08:30 WIB
Akhirnya Terungkap! Ini Alasan Hewan Jantan Hidup Lebih Pendek dari Betina
Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono/Singa Jantan dan Betina
Jakarta -

Dalam sejarah evolusi manusia, pria umumnya hidup lebih pendek dibanding wanita. Hal ini berlaku pada hewan saat jantan cenderung lebih pendek umurnya dari betina. Kenapa ini bisa terjadi?

Untuk melacak hal ini, sekelompok peneliti dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Jerman meneliti lebih dari 1.000 spesies hewan. Mereka ingin mengetahui apa pola evolusi yang memengaruhi perbedaan umur antara jenis kelamin.

Studi mereka telah terbit di Science Advances Vol. 11 No. 40, 1 Oktober 2025.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Betina Terbukti Berumur Lebih Panjang dari Jantan

Data menunjukkan bahwa pada manusia, wanita hidup rata-rata 5,4 tahun lebih lama dibanding pria. Fenomena ini juga terlihat pada hewan.

Sekitar 72 persen mamalia menunjukkan betina hidup lebih lama daripada jantan dengan rata-rata perbedaan 12 persen. Pada beberapa spesies, seperti rusa besar (moose), umur betina bisa lebih dari dua kali lipat umur jantan.

ADVERTISEMENT

Namun, hal ini tidak berlaku di seluruh kerajaan hewan. Pada burung, justru jantan yang cenderung hidup lebih lama, rata-rata 5 persen lebih panjang umur dibanding betina pada mayoritas spesies yaitu 68 persen.

Alasan Jantan Lebih Berumur Pendek

1. Perbedaan Kromosom

Pada mamalia, betina memiliki dua kromosom X, sedangkan jantan memiliki kromosom Y yang lebih pendek. Dalam hal ini, kromosom laki-laki lebih mungkin berdampak saat terjadinya mutasi berbahaya.

"Karena laki-laki hanya memiliki satu salinan kromosom X, "mutasi berbahaya apa pun pada kromosom tersebut lebih mungkin berdampak, karena tidak ada salinan kedua untuk mengimbanginya," ujar ketua penelitian , Dr Johanna Staerk, dikutip dari BBC Science Focus.

2. Kromosom Y 'Beracun' pada Jantan

Selain jumlahnya, Dr Staerk mengungkapkan gagasan mengenai hipotesis kromosom 'Y Beracun'. Ini mengacu pada kemungkinan kromosom Y membawa unsur genetik yang merugikan bagi penuaan dan kesehatan.

Sementara pada burung cukup unik. Jenis burung dengan kromosom ZW pada jantannya memiliki dua kromosom Z, sedangkan pada burung betina satu kromosom Z digantikan oleh kromosom W yang terpotong.

Jika faktor kromosom sangat memengaruhi harusnya burung tersebut jantannya lebih berumur panjang dari betina. Namun, pada banyak burung pemangsa yang berukuran lebih besar, justru tetap berumur lebih panjang dari jantan.

"Jadi kromosom seks hanya sebagian dari cerita (hipotesis)," kata Staerk.

3. Kaitan Reproduksi

Soal reproduksi, sebagian kecil mamalia tetap bersama pada satu pasangan. Sementara burung mayoritas monogami.

Menurut Staerk, jantan sering kali berisiko saat bereproduksi. Misal untuk mendapatkan pasangan, ada yang harus berkelahi, adu tanduk, dan menghabiskan energi sehingga meningkatkan risiko cedera dan kematian.

"Untuk mendapatkan pasangan, mereka berinvestasi pada ciri-ciri seperti surai atau tanduk dan menghabiskan energi untuk melawan saingan, yang meningkatkan risiko cedera dan memperpendek umur mereka," paparnya.

4. Pengasuhan Anak

Peneliti menemukan bahwa hewan yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak cenderung memiliki umur yang lebih pendek. Namun, ditemukan juga bahwa ada hewan yang mengasuh anak justru memiliki usia lebih lama, seperti pada primata.

"Hal ini tampaknya terutama berlaku pada spesies seperti primata, di mana anak-anak tetap bergantung (pada induknya) untuk waktu yang lama," kata Staerk.

Misalnya pada simpanse muda yang dapat tetap bersama induknya hingga 10 tahun. Ini artinya, semakin lama induknya hidup, semakin lama pula ia dapat merawat anaknya.

"Hidup lebih lama dapat memberikan keuntungan selektif bagi para pengasuh dengan memastikan anak-anak mereka mencapai usia dewasa," lanjutnya.

Meski begitu, Staerk menjelaskan, sulit untuk memastikan apakah keuntungan ini berasal dari pengasuhan anak atau dari monogami, karena pada spesies monogami biasanya kedua orang tua sama-sama memberikan perawatan.

Penulis adalah peserta program Magang Hub Kemnaker di BeritaKlik.




(faz/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads