Zohran Mamdani menjadi Wali Kota New York City pertama yang dilantik menggunakan Al-Qur'an. Sebagai wali kota Muslim dan keturunan Asia Selatan pertama di kota metropolitan terbesar Amerika Serikat, Mamdani menggunakan Al-Quran milik kakeknya dan salinan berusia 200 tahun yang dipinjam dari Perpustakaan Umum New York.
Perjalanan dan pendidikannya pnya mencerminkan pengalaman multikultural dan keterlibatan aktif dalam isu sosial yang membentuk visi kepemimpinannya di kota metropolitan dengan jutaan warga.
Berikut rangkuman latar pendidikan dan profil sosial-politik Mamdani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Latar Belakang Pendidikan yang Multikultural
Melansir laman resmi New York Assembly, Zohran Mamdani lahir di Kampala, Uganda, pada 18 Oktober 1991 sebelum pindah ke New York saat berusia tujuh tahun. Ia menempuh pendidikan di Bronx High School of Science, salah satu sekolah sains terbaik di Amerika Serikat.
Setelah itu, Mamdani melanjutkan ke Bowdoin College di Brunswick, Maine, dan mendapatkan gelar sarjana di bidang studi Afrika. Pendidikan liberal arts di Bowdoin yang menggabungkan kajian sosial, sejarah, dan budaya Afrika dan diaspora.
Hal ini yang dianggap membantu membentuk cara pandangnya tentang ketidaksetaraan sosial, peran komunitas, dan advokasi hak minoritas.
Melansir BBC, pendekatan pendidikan multikultural di AS memungkinkan individu seperti Mamdani untuk melihat isu publik dari sudut yang luas, terutama dalam konteks kesetaraan sosial, pluralisme budaya, dan peran pemerintah dalam melindungi hak kelompok minoritas.
Hal ini lah yang menjadi landasan penting dalam pandangan politik progresifnya menjelang kariernya di pemerintahan.
Perjalanan Politik dan Aktivisme Sosial
Sebelum terjun ke pemerintahan kota, Mamdani aktif dalam berbagai gerakan sosial sejak masa kuliah. Melansir New York Assembly, ia dikenal vokal dalam isu kemanusiaan, termasuk mendukung gerakan solidaritas untuk Palestina dan memperjuangkan hak-hak imigran di New York.
Kampanye kepemimpinannya terangkat secara signifikan ketika ia berfokus pada masalah biaya hidup yang tinggi, seperti beberapa kebijakan yang berupaya meningkatkan keterjangkauan perumahan, transportasi publik, serta layanan sosial yang lebih adil.
Melansir BBC, keunikan latar belakangnya sebagai seorang Muslim, imigran, dan aktivis progresif memberikan warna baru dalam politik lokal AS serta menarik dukungan luas dari pemilih muda dan komunitas beragam.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik
(pal/pal)










































