Fenomena Langka Awal Tahun: Supermoon dan Hujan Meteor Terjadi Bersamaan

ADVERTISEMENT

Fenomena Langka Awal Tahun: Supermoon dan Hujan Meteor Terjadi Bersamaan

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Jumat, 02 Jan 2026 13:00 WIB
Fenomena Langka Awal Tahun: Supermoon dan Hujan Meteor Terjadi Bersamaan
Foto: Ilustrasi hujan meteor. Foto: Space.com
Jakarta -

Langit malam awal Januari 2026 akan menampilkan dua fenomena langit sekaligus, yaitu supermoon pertama tahun ini dan hujan meteor Quadrantid. Namun sayangnya, keduanya akan saling bersaing.

Menurut laporan dari American Meteor Society, hujan meteor Quadrantid akan mencapai puncaknya pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari.

Biasanya, pengamat langit dapat melihat sekitar 25 meteor per jam di langit gelap. Akan tetapi, kali ini jumlah itu kemungkinan turun drastis menjadi kurang dari 10 meteor per jam karena cahaya terang supermoon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Musuh terbesar saat ingin menikmati hujan meteor adalah bulan purnama," kata Mike Shanahan, Direktur Planetarium di Liberty Science Center, New Jersey, dikutip dari Phys.org.

ADVERTISEMENT

Supermoon Redupkan Kilau Meteor

Fenomena supermoon terjadi ketika bulan purnama berada paling dekat dengan Bumi dalam orbit elipsnya. Menurut NASA, ukuran bulan bisa tampak hingga 14% lebih besar dan 30% lebih terang dibanding purnama biasa (meski perbedaannya sulit dibedakan dengan mata telanjang).

Sementara itu, hujan meteor Quadrantid berasal dari puing asteroid 2003 EH1 yang bertabrakan dengan atmosfer Bumi dan meninggalkan jejak cahaya yang sering disebut bintang jatuh. Dalam kondisi ideal tanpa polusi cahaya, meteor ini bisa terlihat jelas di seluruh belahan Bumi utara tanpa teleskop.

Namun karena puncaknya bertepatan dengan supermoon, para astronom memperkirakan intensitas cahaya bulan akan menutupi sebagian besar kilatan meteor. Untuk menyiasatinya, pengamat disarankan mencari lokasi gelap jauh dari kota dan mengamati langit sebelum bulan naik terlalu tinggi.

Cara Terbaik Menyaksikan Langit Januari

Ahli astronomi dari Morrison Planetarium di California Academy of Sciences, Jacque Benitez, menyarankan apabila ingin mengamati, kita dapat keluar lebih awal di malam hari atau menjelang fajar hari Minggu.

Setelah beberapa menit membiarkan mata beradaptasi dengan kegelapan, hindari melihat ponsel atau sumber cahaya lain agar penglihatan lebih tajam.

Batu-batu kecil antariksa ini akan terlihat sebagai titik-titik putih yang bergerak cepat di seluruh langit. Quadrantid sendiri dinamai dari rasi bintang kuno Quadrans Muralis, sebuah konstelasi yang kini tidak lagi digunakan dalam peta bintang modern.

Fenomena hujan meteor Quadrantid dan supermoon Januari ini juga menjadi penutup dari empat bulan berturut-turut supermoon sejak Oktober 2024. Setelah ini, supermoon berikutnya kemungkinan baru akan muncul di akhir tahun 2026.

Penulis adalah peserta program Magang Hub Kemnaker di BeritaKlik.




(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads