Ahli Paleontologi dari Italia berhasil mengungkap temuan ribuan jejak fosil dinosaurus di Taman Nasional Stelvio, yang terletak di Pegunungan Alpen Tengah. Peneliti menyebut, jejak-jejak dinosaurus tersebut berasal dari 210 juta tahun lalu.
Jejak-jejak dinosaurus ini diperkirakan berasal dari periode Trias Akhir (Late Triassic), yaitu masa ketika dinosaurus mulai berkembang dan menyebar di bumi. Usia yang sangat tua ini menjadikan temuan tersebut sebagai salah satu bukti awal keberadaan dinosaurus di wilayah Eropa.
"Ini adalah situs terbesar di Pegunungan Alpen dan salah satu yang terkaya di dunia," kata ahli paleontologi Cristiano Dal Sasso dari Museum Sejarah Alam Milan kepada ANSA (Agenzia Nazionale Stampa Associata), dilansir Anadolu Agency.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jejak Milik Herbivora Besar
Dal Sasso menjelaskan bahwa ribuan jejak dinosaurus tersebut membentang hingga beberapa kilometer. Menurutnya, jejak-jejak yang ditinggalkan yaitu milik kawanan dinosaurus herbivora berukuran besar.
Di permukaan batu dolomit, kondisinya terawetkan dengan sangat baik sehingga bekas jari kaki dan cakar dinosaurus masih terlihat jelas. Diperkirakan itu adalah dinosaurus prosauropoda yang hidup pada periode Trias Akhir, yang dikenal sebagai herbivora awal yang menjadi nenek moyang sauropoda raksasa yang muncul di masa berikutnya.
Mengutip laman University of California Museum of Paleontology, prosauropoda merupakan pemakan tumbuhan dan umumnya berjalan dengan dua kaki, meski dalam kondisi tertentu juga bisa menggunakan keempat kakinya. Nama prosauropoda berarti "sebelum sauropoda" karena kelompok ini diyakini sebagai nenek moyang dinosaurus berleher panjang raksasa seperti sauropoda.
Fosil prosauropoda telah ditemukan di berbagai benua, termasuk Asia dan Amerika. Namun, para ilmuwan meyakini bahwa dinosaurus ini paling banyak hidup di wilayah yang kini dikenal sebagai Eropa karena banyaknya temuan fosil di kawasan tersebut, salah satunya di lembah dinosaurus, Pegunungan Alpen.
Contoh Prosauropoda yang sering dijumpai dalam fosil adalah Plateosaurus, yang terkenal dari Eropa dan Massospondylus dari Afrika Selatan. Keduanya menunjukkan bagaimana dinosaurus ini menjalani hidupnya sebagai pemakan tumbuhan dengan leher yang relatif panjang dan kepala kecil.
Butuh Waktu untuk Meneliti Seluruhnya
Karena wilayah jejak fosil yang luas, Dal Sasso mengatakan, membutuhkan waktu puluhan tahun untuk diteliti secara menyeluruh. Di sisi lain, penemuan berada di medan yang terjal dan tidak dapat diakses melalui jalur biasa.
Kondisi itu mengharuskan para ilmuwan memanfaatkan teknologi seperti drone dan penginderaan jarak jauh (remote sensing) untuk memetakan dan mempelajari jejak dinosaurus tanpa merusak alam sekitar.
"Ini adalah warisan ilmiah yang sangat besar yang akan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipelajari, juga karena situs ini tidak dapat diakses melalui jalan setapak, dan untuk memeriksa jejaknya kita harus menggunakan drone dan teknologi penginderaan jarak jauh," jelas Dal Sasso.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(faz/faz)











































