Mengapa Gen Z Ramai-ramai Percaya Ramalan Tarot? Ini Penjelasan Dosen Psikologi

ADVERTISEMENT

Mengapa Gen Z Ramai-ramai Percaya Ramalan Tarot? Ini Penjelasan Dosen Psikologi

Nikita Rosa - detikEdu
Sabtu, 17 Jan 2026 13:00 WIB
Mengapa Gen Z Ramai-ramai Percaya Ramalan Tarot? Ini Penjelasan Dosen Psikologi
Kartu Tarot. (Foto: Dok. @cahaya_reads)
Jakarta -

Tarot kembali ngetren setelah Gen Z memanfaatkannya untuk mengurangi kegelisahan. Fenomena ini pun menarik perhatian dosen psikologi klinis Universitas Airlangga (Unair), Dian Kartika Amelia Arbi M Psi, Psikolog.

Menurut Dian, tarot sendiri bukanlah hal yang baru. Generasi sebelumnya juga telah menggunakan tarot.

Gen Z sendiri menggunakan tarot untuk memprediksi masa depan. Menurut dosen Fakultas Psikologi Unair itu, tarot merupakan salah satu alat coping mechanism untuk mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari perspektif psikologi, salah satunya itu sebagai salah satu cara individu atau Gen Z ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak, mereka merasa tidak berdaya. Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini. Jadi hal itu diharapkan memberikan rasa tenang," jelasnya dalam laman Unair, dikutip Kamis (15/1/2026).

Lebih lanjut, ia menggambarkan jika pembacaan tarot dapat memunculkan khayalan atas individu untuk bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.

ADVERTISEMENT

"Misalnya karena mereka menghadapi sesuatu yang tidak bisa mereka prediksi, mereka mengalami kecemasan. Sehingga tarot ini menawarkan sesuatu atau narasi-narasi tentang diri mereka tanpa judgement atau apa pun yang bisa dianggap menenangkan," paparnya.

Apa Dampak Tarot?

Dian menyampaikan tarot bisa memicu orang untuk berkembang, Namun, terlalu mengandalkan hasil bacaan tarot juga dapat menghambat orang untuk mengasah kemampuan memecahkan masalah.

"Jika itu dijadikan sebagai pendorong evaluasi yang justru membuat individu itu berkembang, tidak masalah. Tapi ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi warning pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat problem solving," tuturnya.

Selain itu, tarot bisa membuat individu tidak berusaha memperbaiki situasi dirinya lantaran merasa apa yang terjadi sudah ditakdirkan. Dari perspektif psikologi, pemikiran ini disebut self-fulfilling prophecy.

"Jadi bukan ramalan atau prediksi itu yang memang nyata terjadi. Tapi memang karena kita sudah meyakini hal itu sebelumnya akan terjadi, sehingga energi kita mengarahkan pada berlaku yang kita prediksi sebelumnya."ungkapnya.

Cara Menghadapi Stres Secara Mandiri

Untuk menghadapi stres, Dian menyarankan individu untuk belajar mengelola stres melalui journaling, mengelola waktu, mengonsumsi makanan yang bergizi, dan berolahraga secara rutin.

Namun, saat tidak mampu menangani krisis emosional sendiri, maka hal terbaik adalah mendatangi psikolog atau psikiater.




(nir/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads