Terlalu Lama Lajang Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental, Ini Kata Peneliti

ADVERTISEMENT

Terlalu Lama Lajang Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental, Ini Kata Peneliti

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Minggu, 18 Jan 2026 10:00 WIB
Terlalu Lama Lajang Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental, Ini Kata Peneliti
Studi menunjukkan, hidup lajang terlalu lama dapat menurunkan kepuasan hidup, serta meningkatkan kesepian dan risiko depresi pada orang muda. Foto: iStock
Jakarta -

Menjadi lajang kini sering dipandang sebagai bentuk kebebasan dan kemandirian. Istilah seperti self-partnership, solo living, atau singlehood semakin populer, apalagi di kalangan generasi muda.

Namun, riset terbaru dari University of Zurich (UZH) menunjukkan, terlalu lama hidup tanpa pasangan ternyata bisa berdampak pada kesejahteraan mental anak muda. Kok bisa?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makin Lama Sendiri, Makin Merasa Sepi

Penelitian ini menganalisis data lebih dari 17.000 anak muda di Jerman dan Inggris Raya berusia 16 hingga 29 tahun yang belum pernah berpasangan pada awal riset. Para peneliti ingin memahami bagaimana durasi menjadi lajang memengaruhi kepuasan hidup, kesepian, dan risiko depresi di masa dewasa muda.

Tim peneliti salah satunya meneliti perkembangan emosi dan kesejahteraan para peserta dari waktu ke waktu. Hasilnya, semakin lama seseorang hidup tanpa pasangan, semakin besar kemungkinan mereka mengalami penurunan kepuasan hidup. Sementara itu, rasa kesepian mereka jadi meningkat.

ADVERTISEMENT

Menariknya, pola yang sama ditemukan pada pria dan wanita. Fenomena ini mulai tampak jelas saat peserta memasuki usia akhir 20-an, yaitu periode ketika gejala depresi juga meningkat.

Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan, menunda hubungan romantis dalam waktu lama dapat menimbulkan risiko moderat terhadap kesejahteraan psikologis.

'Temuan ini menunjukkan bahwa memasuki hubungan pertama bisa menjadi lebih sulit ketika seseorang sudah memasuki usia akhir dua puluhan," kata Michael Krämer, peneliti senior di Departemen Psikologi UZH yang memimpin riset ini, dikutip dari laman kampus.

"Khususnya karena rendahnya kesejahteraan juga meningkatkan kemungkinan seseorang lajang lebih lama," imbuhnya.

Hubungan Pertama Bawa Efek Positif

Begitu para peserta memasuki hubungan romantis pertama mereka, peneliti mencatat adanya peningkatan signifikan pada kesejahteraan mereka. ingkat kepuasan hidup mereka meningkat dan rasa kesepian menurun, baik dalam jangka pendek maupun panjang," ungkap Krämer.

Meski begitu, hubungan tersebut tidak selalu berdampak langsung pada penurunan gejala depresi.

Pria dan Individu Berpendidikan Tinggi Cenderung Lajang Lebih Lama

Tim peneliti juga menemukan faktor sosial, demografi, dan psikologis dapat memengaruhi lamanya seseorang melajang. Menurut studi ini, mereka yang cenderung melajang lebih lama yaitu:

  • Laki-laki
  • Individu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi
  • Mereka yang memang memiliki kesejahteraan rendah saat ini
  • Orang yang tinggal sendirian
  • Orang yang tinggal dengan orang tua

Temuan ini juga memperlihatkan adanya hubungan antara fokus ke pendidikan dengan menunda komitmen berpasangan.

Hasil studi dalam tulisan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Journal of Personality and Social Psychology dengan judul "Life satisfaction, loneliness, and depressivity in consistently single young adults in Germany and the United Kingdom", 13 Januari 2026.




(rhr/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads