Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan ada badai geomagnetik kuat yang terjadi pada 20-21 Januari 2026. Lantas, apa dampaknya bagi Indonesia?
Dalam Antara, BMKG memastikan badai geomagnetik akan berdampak terbatas di wilayah Indonesia, meskipun secara global tercatat mencapai tingkat G4 atau kategori berat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Tim Kerja Geofisika Potensial BMKG Syirojudin, dikonfirmasi di Jakarta, mengatakan badai geomagnetik tersebut dipicu aktivitas Matahari yang tinggi berupa suar Matahari kelas X1.9 pada 18 Januari 2026. Fenomena ini diikuti lontaran massa korona atau coronal mass ejection (CME) ke arah Bumi.
"Secara global, peringatan badai geomagnetik mencapai level G4. Namun dampak fisik di wilayah Indonesia relatif lebih rendah karena posisi geografis Indonesia berada di lintang rendah," jelasnya dalam Antara, Selasa (20/1/2026).
Berdasarkan pemantauan BMKG melalui jaringan observatorium magnet Bumi, ada gangguan magnetik lokal yang sejalan dengan peristiwa global.
Indeks K lokal di wilayahTondano, Sulawesi Utara, tercatat berada pada kisaran K=8 hingga K=9 yang mengindikasikan terjadinya badai magnet Bumi besar hingga ekstrem. Puncak gangguan terekam sejak dini hari 20 Januari 2026 waktu Indonesia barat.
Indeks K dan Indeks A adalah parameter ilmiah untuk mengukur tingkat gangguan medan magnet Bumi akibat aktivitas Matahari (cuaca antariksa). Keduanya dipakai oleh BMKG, Badan zkelaitan dan Atmosfer AS (NOAA), dan lembaga geofisika dunia.
Indonesia Terlindungi dari Badai Geomagnetik
Syirojudin mengatakan, Indonesia relatif terlindungi dari dampak terburuk badai geomagnetik karena adanya fenomena equatorial electrojet yang berperan sebagai perisai alami. Kendati demikian, BMKG mencatat potensi dampak sementara yang dapat dirasakan di Indonesia, termasuk:
- Penurunan akurasi navigasi satelit global positioning system (GPS)
- Gangguan komunikasi radio frekuensi tinggi (HF)
- Fluktuasi pada layanan internet berbasis satelit.
Ia menegaskan badai geomagnetik tidak berdampak langsung pada kesehatan manusia dan tidak menimbulkan risiko fatal terhadap infrastruktur kelistrikan.
"PLN dan sistem kelistrikan nasional dinilai aman dari risiko fatal akibat badai geomagnetik ini," ujarnya.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan meminta operator telekomunikasi untuk memantau kualitas sinyal satelit selama periode gangguan berlangsung. Selain itu, Syrojudin juga mengingatkan masyarakat untuk terus mengikuti informasi resmi yang disediakan BMKG.
(nir/twu)











































