Penggunaan kemasan makanan berbahan kertas kini semakin populer karena dinilai praktis dan terjangkau. Namun, sebagian besar kertas kemasan masih dilapisi plastik agar tahan air dan minyak, yang justru menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan.
Baru-baru ini, tim peneliti dari Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengembangkan kertas yang sengaja dilapisi minyak nabati sebagai alternatif pelapis ramah lingkungan. Lapisan ini dinilai efektif untuk menahan air dan minyak sekaligus juga lebih aman bagi kesehatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelapis Kertas Tahan Air dan Minyak
Peneliti Ahli Muda BRIN, Zatil Afrah Athaillah, menjelaskan, inovasi timnya merespons masalah pelapis plastik pada kemasan kertas. Selama ini, pelapis plastik menjadi masalah karena tidak dapat terurai dengan baik dan berpotensi melepaskan zat kimia berbahaya.
"Lapisan ini berfungsi mencegah migrasi air dan minyak dari makanan, supaya tidak bocor atau merembes. Tapi karena bahannya plastik, ada persoalan keberlanjutan dan juga keamanan pangan," kata Zatil, dikutip dari laman BRIN, Kamis (22/1/2025).
Sebagai solusi dari isu tersebut, tim peneliti mengembangkan metode pelapisan kertas menggunakan lemak nabati sejak awal 2025. Ia menguji beberapa jenis minyak alami seperti minyak walnut, kemiri, kedelai, dan linseed, yang memiliki kemampuan membentuk lapisan pelindung di permukaan kertas.
Beberapa minyak lain, seperti sawit dan zaitun juga sempat diuji. Namun, sampai saat ini, jenis-jenis minyak ini belum memenuhi kriteria karena masih tembus air dan minyak.
Untuk menilai efektivitas lapisan, tim peneliti meneteskan air dan minyak pada permukaan kertas. Mereka lalu mengamati perubahan hingga 60 menit.
"Kalau diperlukan, sebenarnya pengujian bisa dilakukan lebih lama," ujar Zatil.
Melalui uji lanjutan menggunakan mikroskop 3D, tim menemukan, tetesan air pada kertas berlapis minyak nabati membentuk sudut kontak mendekati 90 derajat. Hal ini menandakan permukaan kertas bersifat hidrofobik atau tahan air.
Kuat, Lentur, dan Dipatenkan
Selain uji ketahanan air dan minyak, tim BRIN juga melakukan berbagai pengujian mekanik dan kimia untuk memastikan kualitas kertas. Pengujian meliputi uji kekuatan dan kelenturan menggunakan texture analyzer, analisis struktur kimia dengan FTIR, serta pengamatan morfologi menggunakan mikroskop elektron (SEM).
"Dari sisi sifat mekanik, kertas berlapis minyak nabati menunjukkan kekuatan dan kelenturan yang mirip, bahkan dalam beberapa kasus lebih baik, dibandingkan kertas tanpa pelapis," tambah Zatil.
Metode pelapisan ini telah didaftarkan dan memperoleh paten pada 2025 melalui skema pendanaan Rumah Program Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN.
Saat ini, hasil penelitian masih berupa lembaran kertas, belum dibentuk menjadi wadah atau gelas kemasan.
Zatil menyebutkan, langkah selanjutnya adalah pengujian sensori untuk memastikan apakah lapisan minyak nabati memengaruhi rasa dan aroma minuman seperti kopi atau teh.
Selain itu, ia juga berencana meneliti epicuticular lipid (lapisan lilin alami dari daun atau kulit buah) yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pelapis berkelanjutan.
"Daun atau kulit buah sebenarnya mengandung lipid alami. Kalau bisa dimanfaatkan sebagai bahan pelapis, itu akan sangat menarik karena berasal dari limbah," ujarnya.
(rhr/twu)










































