Meski sering dianggap lebih bijak dan berpengalaman, riset terbaru menunjukkan, orang dewasa berusia di atas 60 tahun justru lebih sering membagikan misinformasi atau informasi yang salah di internet dibanding generasi muda. Fenomena ini terjadi karena adanya faktor psikologis dan politik yang lebih kompleks.
Dilansir Harvard Gazette, peneliti Ben Lyons mengatakan bias keakraban atau congeniality bias menjadi penyebab utama. Artinya, orang tua cenderung mempercayai dan membagikan informasi yang sejalan dengan pandangan politik atau nilai pribadi mereka, walaupun informasi itu dan datanya salah.
Dalam studinya, Lyons dan rekan-rekan menganalisis survei terhadap sekitar 10.000 responden dan data penggunaan internet 4.500 orang. Hasilnya menunjukkan, meskipun punya kemampuan mengenali berita palsu yang relatif sama dengan orang yang lebih muda, orang di atas 60 tahun cenderung lebih mungkin membaca dan menyebarkan informasi yang keliru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antara Pengalaman dan Bias Politik
Saat memberi kuliah di Shorenstein Center on Media, Politics and Public Policy, Lyons menjelaskan faktor utama di balik kebiasaan ini adalah kecenderungan untuk mencari informasi yang terasa akrab dan mendukung keyakinan sendiri, meskipun menyatakan menghargai akurasi.
"Orang dewasa yang lebih tua menunjukkan lebih banyak bias keakraban," ujar asisten profesor komunikasi di University of Utah yang meneliti bidang media, politik, dan disinformasi ini.
"Minat, pengalaman, dan kuatnya pengaruh partisan bisa mengubah batasan apa yang dianggap akurat," imbuhnya.
Menariknya, penelitian itu juga menepis pandangan umum bahwa penyebaran hoaks di kalangan lansia di sebabkan oleh penurunan kemampuan kognitif atau literasi digital.
Lyons menjelaskan, literasi digital memang menurun seiring usia, tetapi literasi berita justru meningkat. Dengan kata lain, orang dewasa lebih memahami bagaimana berita diproduksi, tetapi kesulitan menavigasi ekosistem media sosial yang cepat dan penuh distraksi.
Otak Orang Tua Tidak Selalu Lemah
Lyons juga menekankan, penuaan kognitif tidak selalu berarti penurunan kemampuan berpikir. Orang dewasa mungkin kehilangan kecepatan berpikir atau memori jangka pendek, tetapi mereka justru unggul dalam pengetahuan umum dan pengendalian emosi.
Namun, penelitian juga menemukan, hubungan antara refleksi kognitif dan kemampuan membedakan berita benar dan palsu melemah seiring usia. Jika refleksi bantu anak muda membantu menolak hoaks, pada orang dewasa efeknya tidak sebesar itu.
Akibatnya, banyak orang tua yang mengandalkan pengalaman masa lalu dan keyakinan pribadi saat menilai informasi.
Meskipun begitu, Lyons menegaskan, proporsi keseluruhan orang tua yang membagikan misinformasi tetap kecil. Menurutnya, memahami motivasi dan kebiasaan berpikir kelompok usia ini penting agar upaya melawan misinformasi lebih tepat sasaran dan tidak semata-mata menyalahkan mereka.
Hasil studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Public Opinion Quarterly dengan judul "Partisanship and Older Americans' Engagement with Dubious Political News", 23 Oktober 2024.
(rhr/twu)











































