Sebulan terakhir, hujan yang terjadi di kawasan Jakarta dan sekitarnya seringkali terjadi di pagi hari. Nah, ada mekanisme 'cold pool' di baliknya.
Hal ini diungkapkan Profesor Riset Bidang Iklim dan Cuaca Ekstrem Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Erma Yulihastin, menyoroti hujan deras yang terjadi sejak pagi hari belakangan ini.
Menurut Erma, hujan dini hari di daratan kerap dipicu oleh mekanisme 'cold pool' alias kolam dingin. Proses ini bermula dari peluruhan hujan di laut yang kemudian memicu terbentuknya awan hujan baru secara berantai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana 'cold pool' dari laut bisa memicu hujan deras hingga ke wilayah daratan?
Dilansir 20detik, Erma menjelaskan bahwa hujan deras yang terjadi pada pagi hari tersebut berasal dari laut, bukan dari daratan. Ia menegaskan, hujan di darat yang sudah dimulai sejak tengah malam hingga dini hari, sekitar pukul 01.00-05.00 WIB dini hari.
"Bagaimana ketika di darat terjadi hujan yang sudah dimulai dari tengah malam atau dini hari sekitar jam 1 sampai jam 5 begitu terjadi hujan di darat, maka hujan di darat ini tidak mungkin dihasilkan dari konveksi yang ada di darat, kan? Berarti hujan yang ada di laut tadi bergeser gitu ya, bergeser waktunya sehingga masuk ke darat," kata Erma.
Ia menjelaskan, pergeseran hujan tersebut dapat terjadi baik secara lokasi maupun waktu. Proses itu berlangsung melalui mekanisme pembentukan hujan yang dikenal sebagai 'cold pool'.
Artinya ada dua tipe pergeseran, yaitu secara tempat atau lokasi dan secara waktu atau timing.
"Tapi melalui sebuah mekanisme atau pembentukan hujan yang dinamakan dengan, ada istilahnya ini, ada fenomenanya yang dimaksud dengan, atau namanya ada 'cold pool', kolam dingin," ujarnya.
Apa itu Cold Pool?
Erma menjelaskan bahwa 'cold pool' terbentuk dari hujan yang meluruh di wilayah laut. Proses ini kemudian memicu terbentuknya awan hujan baru secara berantai.
"Bagaimana Cold Pool ini bisa terbentuk? Yaitu dari hujan yang kemudian meluruh di laut, di tengah laut. Peluruhan air hujan itu kemudian menciptakan awan yang baru. Awan yang baru itu terjadi di depannya hujan yang meluruh," kata Erma.
Ia menjelaskan, proses tersebut terjadi secara berulang. Setelah hujan turun dan meluruh, peluruhan tersebut kembali memicu pembentukan awan hujan berantai baru.
"Jadi hujan meluruh dulu, kemudian hujan yang meluruh itu membangkitkan atau memaksa terbentuknya awan konvektif yang baru, awan hujan yang baru ada di depannya. Lalu ada hujan lagi, meluruh lagi kemudian meluruh dari hujan itu membentuk awan yang baru begitu seterusnya sampai menuju ke pantai atau darat," jelasnya.
Selain melalui proses berantai tersebut, 'cold pool' juga terbentuk melalui proses pendinginan udara akibat penguapan air hujan. Ketika hujan turun dari awan konvektif, sebagian air hujan tersebut menguap dan mendinginkan udara di sekitarnya.
Dilansir dari laman Institut Pierre-Simon Laplace, proses ini mirip dengan sensasi dingin yang terasa setelah keluar dari kamar mandi. Rasa dingin muncul karena air di permukaan kulit menguap dan menyerap panas dari tubuh.
Cold Pool dalam Pembentukan Awan Konvektif (Awan Hujan)
Dalam atmosfer, udara yang telah mendingin menjadi lebih padat dan berat, sehingga bergerak cepat turun menuju permukaan bumi. Saat menghantam permukaan, aliran udara dingin tersebut menyebar dan dapat memicu hembusan angin kencang. Kumpulan udara dingin ini yang dikenal sebagai 'cold pool', kolam dingin atau massa udara dingin.
Dalam perkembangannya, cold pool dapat berdampak berbeda terhadap awan hujan. Jika posisinya berada tepat di bawah awan, yakni di area masuknya aliran udara hangat dan lembap ke lapisan atas atmosfer, cold pool dapat memutus sumber energi awan sehingga awan hujan melemah dan akhirnya menghilang.
Namun, ketika cold pool menghantam permukaan bumi, hembusan angin yang dihasilkan justru dapat mengangkat udara di sekitarnya dan memicu terbentuknya sel badai atau awan hujan baru.
Melalui mekanisme ini, sistem hujan terus bergerak dan berkembang. Dampak tersebut sangat bergantung pada kondisi angin di lapisan atmosfer terbawah.
Cold Pool dalam Dinamika Atmosfer
Sebuah studi di Jurnal Advances in Modeling Earth Systems (JAMES) Vol. 13 pada Februari 2021 berjudul'Cold Pool Dynamics Shape the Response of Extreme Rainfall Events to Climate Change', mengungkapkan cold pool berperan penting dalam proses pengorganisasian dan pendalaman awan konvektif.
Fenomena ini juga dapat memperkuat variasi kelembapan udara di lapisan atmosfer terbawah, yang berpengaruh pada ketersediaan uap air bagi pembentukan awan hujan.
Dinamika tersebut membuat cold pool berperan dalam terbentuknya konveksi dalam atau awan hujan yang menjulang tinggi.
Sebaliknya, ketika pembentukan cold pool terhambat, awan yang terbentuk cenderung berukuran kecil dan dangkal, sehingga potensi hujan lebat menjadi lebih terbatas.
(nwk/nwk)










































