Ada Gua Bawah Air di Nusa Penida Bali, Simpan Jejak Hunian Manusia Prasejarah

ADVERTISEMENT

Ada Gua Bawah Air di Nusa Penida Bali, Simpan Jejak Hunian Manusia Prasejarah

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Kamis, 19 Feb 2026 08:30 WIB
Ilustrasi Crystal Bay Nusa Penida.
Foto: Wikimedia Commons/Ilustrasi Nusa Penida
Jakarta -

Sebuah gua bawah laut ditemukan di Pulau Nusa Penida, Bali. Studi mengungkap bahwa gua tersebut menyimpan bukti kehidupan manusia purba.

Studi arkeologi terkait gua bawah laut bernama Song Toyapakeh memperkirakan bahwa situs yang terendam air itu, merupakan hunian manusia di akhir periode Pleistosen. Hal tersebut diperkuat dengan temuan sejumlah fosil hewan darat seperti rusa, gajah, dan kura-kura di setiap sudut gua.

Temuan ini yang kemudian mendorong para peneliti untuk meninjau lebih lanjut terkait penggunaan gua tersebut di masa lalu. Hasil studi tersebut telah terbit di jurnal Science Direct (2023) berjudul "New evidence on prehistoric settlement in Song Toyapakeh, an underwater cave in Nusa Penida, Bali."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jejak Keberadaan Manusia Purba

Gua Song Toyapakeh adalah gua yang terbentuk dari batuan kapur. Batuan itu tersusun dari batu gamping terumbu, marl, lapisan rekristalisasi hingga sisa fosil dari zaman Miosen akhir (5,33-7,25 juta tahun lalu), hingga Pliosen awal (3,60-5,33 juta tahun lalu).

Mengutip akun instagram resmi BRIN, studi pada 2021 lalu, menemukan artefak tajaman berbentuk mata tombak atau panah. Bukti arkeologi ini menunjukkan keberadaan manusia yang membuat benda tersebut.

ADVERTISEMENT

Para peneliti menggunakan dua metode untuk mengumpulkan data, yakni menyelam dan mengambil sampel. Penyelaman dilakukan dengan menggunakan scuba untuk merekam struktur pembentuk gua, dan mengambil beberapa sampel fosil hewan yang kemungkinan digunakan oleh manusia.

Ekspedisi tersebut berhasil menunjukkan bahwa pada kedalaman 16 meter di bawah permukaan laut, ditemukan sejumlah fosil vertebrata di Gua Song Toyapakeh. Selain itu kondisi gua juga digambarkan landai seperti terasering, dengan lebar mulut gua sepanjang 5 meter dan tinggi dua meter.

Untuk mengetahui jejak kehidupan manusia pada masa itu, para peneliti juga menganalisis sejumlah bekas sayatan dan bakaran yang ditemukan pada sampel fosil hewan. Hasilnya menunjukkan bahwa manusia purba pada zaman itu menggunakan tulang hewan sebagai peralatan dan dagingnya sebagai sumber makanan.

Perubahan Iklim Setelah Zaman Es

Berdasarkan pendekatan geologi dan paleografi, Gua Song Toyapakeh mengalami rekonstruksi fluktuasi muka laut yang disebabkan perubahan iklim setelah zaman es berakhir. Hal ini yang menyebabkan gua yang dulunya berada di atas daratan menjadi terendam air laut seiring berjalannya waktu.

Selain itu, terjadinya distribusi fosil fauna daratan di dalam gua juga menjadi bukti kuat jika dahulu lokasi tersebut dihuni oleh manusia pada masa Pleistosen akhir.

Penemuan Situs Song Toyapakeh ini menjembatani pemahaman manusia saat ini, dengan hunian awal di Pulau Nusa Penida dalam jalur migrasi manusia purba. Situs ini merupakan bukti bahwa dahulu di antara Bali dan Lombok terdapat "jembatan darat."

Para peneliti juga menyebut bahwa situs tersebut juga merupakan jalur penyeberangan kepulauan Wallacea, dan persebaran manusia purba di Asia Tenggara.

Kini, sebagai destinasi wisata bahari unggulan di Bali, Pulau Nusa Penida telah berkembang berkat adanya situs Song Toyapakeh. Keberadaan gua bawah laut tersebut berpotensi memperkaya daya tarik wisata air bertema sejarah dan arkeologi.

"Dengan pengembangan berbasis riset dan pelestarian, situs ini diharapkan menjadi sarana wisata sekaligus edukasi publik, sambil melibatkan masyarakat lokal untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian situs dan kesejahteraan warga sekitar," kata Periset Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, Gendro Keling.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(sls/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads