Studi Ungkap Cara Otak Anak dengan Gangguan Belajar Matematika Bekerja

ADVERTISEMENT

Studi Ungkap Cara Otak Anak dengan Gangguan Belajar Matematika Bekerja

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Selasa, 24 Feb 2026 09:30 WIB
Ilustrasi anak yang sedang belajar
Studi menunjukkan, anak dengan gangguan belajar matematika punya aktivitas otak yang berbeda, kendati jawabannya sama-sama benar dengan yang tak alami gangguan. Foto: Getty Images/iStockphoto/Anawat_s
Jakarta -

Sebuah penelitian baru dari Stanford Medicine mengungkap temuan menarik tentang bagaimana otak anak-anak dengan math learning disability (MLD) atau gangguan belajar matematika bekerja. Meski sering kali mampu menjawab soal dengan benar seperti teman sebayanya, cara mereka memproses dan menyesuaikan strategi ternyata sangat berbeda.

Dilansir dari Stanford Report, para peneliti menemukan, anak dengan MLD lebih jarang memperlambat diri atau meninjau kembali strategi mereka setelah melakukan kesalahan, terutama ketika berhadapan dengan angka simbolik.

Hasil pemindaian otak para anak dengan MLD menunjukkan adanya perbedaan aktivitas di area yang berfungsi untuk lebih fokus, memantau kesalahan, dan mengatur tindakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perbedaan pola aktivitas ini memberikan petunjuk penting tentang mengapa sebagian anak kesulitan memahami angka,. Di sisi lain, temuan ini juga membuka peluang bagi pendekatan baru untuk membantu mereka belajar lebih efektif.

ADVERTISEMENT

Mengapa Otak Mereka Berpikir Berbeda?

Dalam penelitian tersebut, anak-anak diminta membandingkan dua jumlah, baik dalam bentuk titik-titik maupun angka Arab sambil otak mereka dipindai menggunakan alat pencitraan MRI fungsional.

Meski hasil jawaban benar mereka hampir sama, hasil analisis menunjukkan, anak dengan MLD memiliki kesulitan dalam memperbarui strategi berpikir ketika berhadapan dengan angka simbolik.

"Temuan kami menunjukkan bahwa intervensi sebaiknya tidak hanya berfokus pada kemampuan dasar berhitung, tetapi juga pada proses metakognitif seperti pemantauan cara mengerjakan soal, bagaimana ia menyesuaikan diri setelah menyadari adanya kesalahan," kata Vinod Menon, profesor psikiatri dan ilmu perilaku Stanford University.

Area otak seperti middle frontal gyrus dan anterior cingulate cortex, yang berperan dalam pengawasan kesalahan dan pengambilan keputusan, menunjukkan aktivitas yang lebih lemah pada anak dengan MLD.

Menurut peneliti, hal tersebut bisa menjelaskan mengapa mereka membutuhkan lebih banyak waktu dan dukungan dalam proses belajar matematika.

Pentingnya Deteksi dan Dukungan Sejak Dini

Penelitian ini melibatkan 87 anak kelas dua dan tiga SD. Sebanyak 34 anak memiliki MLD berdasarkan skor mereka yang berada di bawah persentil ke-25 dalam tes kemahiran matematika.

Menon menekankan, dukungan dini sangat penting agar anak-anak ini tidak kehilangan motivasi belajar.

"Jika kamu tidak merasa berhasil, kamu akan kehilangan minat dan motivasi, dan menjadi lebih cemas saat mencoba memecahkan soal," ujar Menon.

"Itu menciptakan serangkaian masalah berkelanjutan yang akhirnya menjadi penghambat bagi pembelajaran selanjutnya," tambahnya

Temuan ini mendasar penting bagi pendidik untuk mengembangkan pendekatan belajar yang tidak hanya mengajarkan hitungan, tetapi juga melatih cara berpikir reflektif, kesadaran terhadap kesalahan, dan kemampuan menyesuaikan strategi.




(rhr/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads