Sebuah studi yang terbit di jurnal Science mengungkap, bagaimana peran manusia dalam penyebaran babi untuk sampai ke Asia-Pasifik termasuk pulau-pulau di Indonesia sejak ribuan tahun lalu. Studi ini dilakukan dengan menganalisis DNA spesimen arkeologis dan babi yang hidup.
Seperti yang diketahui penyebaran hewan dibatasi dengan garis imajiner yang diidentifikasi oleh ahli biologi evolusi Alfred Russell Wallace. Garis yang kemudian dikenal sebagai "Garis Wallace", membagi hewan-hewan di sebelah Indonesia timur dan barat.
Hewan-hewan di setiap sisi jarang menyeberang sehingga tidak menyebar rata di Indonesia. Misalnya, macan tutul dan monyet yang ditemukan di sisi Indonesia barat hingga Asia, sedangkan hewan berkantung dan kasuari ada di Indonesia timur hingga Australia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari banyaknya hewan, babi menjadi salah satu yang tersebar merata. Populasi babi terdapat di kedua sisi Garis Wallace dan tersebar di seluruh Asia Tenggara hingga Kaledonia Baru, Vanuatu, dan Polinesia terpencil.
Alasan Babi Bisa Menyebar Melintasi Lautan hingga ke Pulau-Pulau
Dalam studi yang terbit di jurnal Science pada 1 Januari 2026, para peneliti menggunakan DNA purba untuk mengungkap sebuah aktivitas manusia yang berpindah-pindah hingga ke pulau-pulau. Mereka meneliti genom lebih dari 700 babi, dan mencari tahu titik mana yang menjadi awal penyebaran babi pada masa lalu.
"Sangat menarik bahwa kita dapat menggunakan DNA purba dari babi untuk mengungkap lapisan aktivitas manusia di wilayah yang sangat kaya keanekaragaman hayati ini. Pertanyaan besarnya sekarang adalah, pada titik mana kita menganggap sesuatu sebagai spesies asli? Bagaimana jika manusia memperkenalkan spesies yang berusia puluhan ribu tahun, apakah spesies ini layak untuk dilestarikan?" ujar Profesor Laurent Frantz, penulis senior studi dari Queen Mary University of London, dilansir EurekAlert.
Hasilnya, ditemukan bahwa penyebaran babi dibawa oleh manusia. Selama ribuan tahun, orang-orang dari berbagai budaya telah memindahkan spesies babi di Asia Pasifik.
Bukti paling awal terjadi di Indonesia. Diketahui, spesies manusia purba yang tinggal di Sulawesi 50.000 tahun lalu, telah menggambar atau melukis babi berkutil hingga ke Timor Leste. Peneliti menduga ini berkaitan dengan stok buruan untuk masa depan.
Babi Semakin Dikenal pada 4.000 Tahun Lalu
Komunitas pertanian awal membawa babi domestik ke Asia tenggara sekitar 4000 tahun lalu. Sejak saat itulah spesies babi mulai banyak dikenal oleh penduduk di wilayah tersebut.
Jalur persebaran babi dimulai dari Taiwan menuju Filipina, ke Maluku (Indonesia), ke Papua Nugini hingga ke pulau-pulau kecil seperti Vanuatu dan Polinesia. Ditemukan juga bukti bahwa babi mulai diperkenalkan pada masa kolonial, menurut para penulis studi.
Sebagian dari babi-babi domestik itu kemudian lepas dan menjadi babi liar. Di wilayah tertentu seperti pulau Komodo, terjadi perkawinan silang antara babi domestik dengan babi berkutil yang dibawa penduduk Sulawesi ribuan tahun lalu.
"Penelitian ini mengungkapkan apa yang terjadi ketika manusia memindahkan hewan dalam jarak yang sangat jauh, melintasi salah satu batas alam paling mendasar di dunia. Pergerakan ini menyebabkan munculnya babi dengan perpaduan berbagai leluhur," papar Dr David Stanton dari Universitas Cardiff dan Universitas Queen Mary London, penulis utama studi.
"Pola-pola ini secara teknis sangat sulit untuk diuraikan, tetapi pada akhirnya membantu kita memahami bagaimana dan mengapa hewan-hewan tersebar di seluruh kepulauan Pasifik," imbuhnya.
Profesor Greger Larson, dari Universitas Oxford membandingkan dengan babi di wilayah lain. Ia mengatakan, babi hutan bisa menyebar ke seluruh Eurasia dan Afrika Utara tanpa bantuan manusia.
Namun, saat manusia berperan membawa babi-babi ke berbagai wilayah, mereka menjadi tersebar ke pulau-pulau di Asia Tenggara dan ke Pasifik.
"Dengan mengurutkan genom populasi kuno dan yang lebih baru, kami dapat menghubungkan penyebaran yang dibantu manusia tersebut dengan populasi manusia tertentu baik dalam ruang maupun waktu," tutur Profesor Larson.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(sls/faz)










































