Perang antara Iran dan Israel-Amerika Serikat semakin memanas. Kedua pihak saling meluncurkan serangan militer.
Konflik ini bermula dari serangan Israel dan AS ke Teheran, Iran. Serangan ini dibalas oleh Iran dengan menyerang beberapa pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, hingga Bahrain.
Terkait konflik ini, pakar hukum internasional dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Satria Unggul Wicaksana mengkhawatirkan perdamaian dan keamanan banyak negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tentu memahami bahwa dampak dari perang itu luar biasa besar. Masyarakat dunia sangat terpukul dan tentu tidak ingin kembali ke dalam situasi perang dengan eskalasi besar," katanya dikutip dari laman Umsura, Senin (2/3/2026).
Konflik Bisa Picu Perang Dunia Ketiga
Melihat eskalasi konflik yang cukup besar, Satria menyebut potensi perang dunia ketiga bisa saja terjadi. Pasalnya, Iran memiliki hubungan kuat dengan negara-negara besar seperti Rusia, China hingga Korea Utara.
Jika negara sekutunya ikut terlibat, maka konflik ini bisa berskala global. Terlebih, saat ini juga ada ketegangan di Rusia-Ukraina, Taiwan, dan konflik di Laut China Selatan.
"Ini bisa membawa situasi perang menjadi titik nadir. Peluang terjadinya perang dunia ketiga sangat terbuka, dan ini sangat merugikan umat manusia," ungkap Satria.
Ancaman Nuklir
Jika negara-negara yang berkonflik sampai mengeluarkan senjata paling berbahayanya, yakni nuklir, Satria memperkirakan, dampaknya akan lebih jauh mengerikan.
Selain ratusan nyawa bisa habis seketika, fenomena nuclear winter pun dapat mengancam kehidupan. Padahal, setiap negara diwajibkan untuk menahan diri dari penggunaan kekuatan militer yang mengancam dunia.
Kesepakatan tersebut tertuang dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UN Charter, khususnya Pasal 2 ayat 3 dan Pasal 2 ayat. Maka dari itu, saat ini dunia tengah merundingkan larangan pengembangan senjata nuklir.
"All states shall refrain from the use of force yang mengganggu territorial integrity and independence suatu negara," jelasnya.
Peran PBB di Tengah Kondisi Ini
Satria kemudian menyorot peran PBB. Ia menilai, Dewan Keamanan PBB sudah seharusnya mengambil tindakan tegas terhadap konflik bersenjata ini.
"Kita mendorong adanya tekanan yang sangat masif kepada lembaga internasional untuk mengakhiri konflik ini agar eskalasi perang yang lebih besar dapat dicegah," ujarnya.
Satria berharap para pemimpin dunia dapat menahan diri dari penggunaan kekuatan militer. Hal ini harus dilakukan untuk mencegah pemusnahan massal akibat senjata.
"Kita berharap para pemimpin dunia menahan diri. Karena dampak perang tidak hanya dirasakan negara yang terlibat langsung, tetapi juga seluruh masyarakat dunia," katanya.
Satria juga menyayangkan pembentukan Board of Peace. Badan perdamaian tersebut menurutnya seolah kontradiktif dengan apa yang saat ini tengah terjadi di Iran.
(cyu/twu)










































