Humor Dosen Bisa Cairkan Suasana Kelas, Tapi Kenapa Kadang Gagal?

ADVERTISEMENT

Humor Dosen Bisa Cairkan Suasana Kelas, Tapi Kenapa Kadang Gagal?

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Kamis, 05 Mar 2026 06:30 WIB
Rearview shot of a teacher talking to his university students
Ilustrasi dosen Foto: Getty Images/PeopleImages
Jakarta -

Studi terbaru menunjukkan dosen yang memiliki selera humor akan membuat suasana kelas lebih hidup. Lelucon yang diselipkan selama proses perkuliahan dinilai efektif membangkitkan motivasi belajar para mahasiswa.

Efek humor ini dinilai semakin kuat ketika disampaikan di ruang belajar berukuran relatif kecil dengan jumlah mahasiswa terbatas, seperti kelas laboratorium. Lingkungan semacam itu membuka ruang interaksi yang lebih intens antara dosen dan mahasiswa, sehingga humor lebih mudah tersampaikan dan diterima.

Tak hanya menghidupkan suasana, humor juga membantu mahasiswa merasa lebih rileks saat mengikuti perkuliahan. Kondisi emosional yang lebih santai dinilai mempermudah mahasiswa dalam menyerap materi pembelajaran. Atas dasar itu, penelitian ini menelaah kaitan antara penggunaan humor oleh dosen dengan respons emosional mahasiswa selama proses belajar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan tersebut dipaparkan dalam studi berjudul "Are they funny? Associations between instructors' humor and student emotions in undergraduate lab courses" yang dipublikasikan di Journal of Microbiology and Biology Education pada 7 November 2025.

Namun, mengapa beberapa humor yang dilontarkan dosen saat mengajar justru tidak berhasil?

ADVERTISEMENT

Untuk menjawabnya, para peneliti melibatkan setidaknya lebih dari 45 dosen yang diminta untuk merekam proses mengajarnya. Serta mahasiswa yang berada di dalam kelas tersebut diminta untuk mengisi survei, yang menanyakan apakah dosen mereka lucu atau tidak selama kelas berlangsung.

Hasilnya menunjukkan, bahwa apa yang dianggap lucu oleh peneliti ternyata belum tentu lucu bagi mahasiswa. Jadi, yang terpenting adalah pendapat mahasiswa tentang lucu atau tidaknya humor yang dilontarkan dosen mereka.

"Jika seorang mahasiswa menganggap dosennya lucu, mereka memiliki lebih banyak emosi positif tentang mata kuliah tersebut dan lebih sedikit emosi negatif," ujar Trevor Tuma, salah satu penulis studi dan rekan peneliti pascadoktoral di UGA Franklin College of Arts and Sciences seperti dikutip dari Phys.org pada (4/3/2026).

Ia bahkan menyampaikan humor dosen belum dikatakan berhasil, jika menurut mahasiswa tidak lucu. Jadi, pandangan peneliti tampaknya tidak memiliki dampak yang besar dalam hal ini.


Humor Ciptakan Emosi Positif pada Mahasiswa

Sejumlah studi terkait bagaimana bahasa dan pendekatan dosen berpengaruh pada mahasiswanya menunjukkan, berbagai cara yang unik. Sebagian dosen ada yang menjadikan dirinya sebagai objek candaan, ada juga yang memanfaatkan materi perkuliahan, dan menggunakan peralatan di laboratorium.

Para peneliti sepakat bahwa selipan humor dalam pembelajaran, dapat meningkatkan keaktifan mahasiswa di kelas. Emosi positif yang dihasilkan dari humor dosen, dapat memiliki efek jangka panjang dan berkelanjutan. Mahasiswa akan merasa senang jika harus mengulang pelajaran di luar kelas, atau bahkan mendalaminya secara mandiri di kemudian hari.

Profesor di Departemen Biokimia dan Biologi Molekuler, Franklin College yang juga penulis studi, mengkritik anggapan orang pada umumnya yang mengatakan materi adalah hal terpenting dalam belajar, dan bukannya emosi.

"Tetapi emosi mempengaruhi pembelajaran kita dan motivasi kita untuk melanjutkan suatu subjek," tegasnya.

Meski dosen humoris lebih disukai mahasiswa, tetap saja para dosen harus berhati-hati untuk menyisipkan lelucon pada kegiatan belajar di kelas.

Meski humor dinilai efektif membangkitkan emosi positif para mahasiswa, tetap saja dosen harus menggunakannya dengan bijaksana. Sebab pada praktiknya, tidak semua mahasiswa merasa nyaman dengan beberapa humor yang digunakan.

Jadi, mungkin akan lebih efektif jika humor yang disampaikan sesuai dengan selera mahasiswa yang terlibat. Tuma juga menyebut jika humor itu bersifat objektif, tergantung bentuk humornya, konteksnya, hingga siapa yang menyampaikannya.

"Jadi kami mendorong para instruktur untuk benar-benar mempertimbangkan jenis humor apa yang mereka gunakan dan kapan humor mungkin paling tepat. Jika humor tidak diterima dengan baik, mungkin tidak efektif, dan bahkan mungkin memiliki efek negatif," pungkas Tuma.




(sls/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads