Pakar UGM: Tubuh Alami Daur Ulang Sel-sel Saat Puasa, Seperti Apa?

ADVERTISEMENT

Pakar UGM: Tubuh Alami Daur Ulang Sel-sel Saat Puasa, Seperti Apa?

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Sabtu, 07 Mar 2026 03:00 WIB
Ilustrasi buka puasa Ramadan
Foto: Ilustrasi buka puasa Ramadan (Dok. Gemini AI)
Jakarta -

Puasa menjadi waktu bagi tubuh untuk bersih-bersih. Bagaimana caranya?

Saat tubuh berhenti makan dan minum selama lebih dari 12 jam, tubuh akan memasuki fase autofagi. Apa yang dimaksud autofagi adalah mekanisme tubuh melakukan pembersihan dan mendaur ulang sel-sel yang rusak, serta menggantinya dengan sel baru.

Dosen gizi kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, menyebut puasa merupakan proses metabolik alami karena dinilai dapat menunjukkan parameter kesehatan yang terukur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Puasa bisa menjadi riset metabolik, karena ada autofagi, sehingga metabolik yang tidak dibutuhkan itu bisa dibuang," ujarnya dikutip dari laman resmi UGM pada Rabu (4/3/2026).

ADVERTISEMENT

Bagaimana Proses Autofagi?

Autofagi membutuhkan sekitar 12 hingga 16 jam untuk proses detoksifikasi tubuh. Menurut Mirza, waktu berpuasa sudah cukup bagi tubuh untuk memasuki fase tersebut.

Berbagai penelitian menyebut autofagi juga berkaitan dengan kestabilan gula darah, efektivitas insulin yang meningkat, penurunan kolesterol, dan menurunkan berat badan.

"Autofagi tersebut bisa menjadi sebuah detoksifikasi dan perbaikan sel-sel yang rusak. Mampu menstabilkan gula darah, memberikan efektivitas kerja dan sensitivitas insulin, mengurangi berat badan, dan menurunkan kadar kolesterol," jelasnya.

Meski demikian, terus-menerus berpuasa dalam durasi yang panjang justru akan memicu gastroesophageal reflux disease (GERD), perubahan hormon, dan menurunkan berat badan dengan tidak wajar. Maka, berpuasa selama satu bulan sudah cukup untuk mengeluarkan racun dan meremajakan sel-sel tubuh.

Apa Perbedaan Puasa Ramadan dan IF?

Intermittent Fasting (IF) pada dasarnya memiliki manfaat kesehatan seperti puasa, tetapi karakteristiknya berbeda khususnya soal penurunan berat badan. Keduanya, sama-sama dapat menurunkan berat badan. Meski demikian, penurunan berat badan pada IF umumnya disebabkan pemanfaatan cadangan lemak dalam tubuh dengan lebih optimal.

Sementara puasa Ramadan membantu menurunkan berat badan lewat pembakaran lemak, dan juga penurunan kadar air dalam tubuh selama berpuasa.

"Kalau IF, berat badan turun karena pemanfaatan lemak sisa di tubuh, sementara puasa Ramadhan karena kekurangan cairan serta pemanfaatan lemak tubuh," terang dosen gizi tersebut.

Puasa Itu Sehat

Terkait kebutuhan gizi dan nutrisi saat berpuasa, sebenarnya tidak ada masalah.
Menurut Mirza, kebutuhan tubuh bisa tetap terpenuhi dengan menerapkan pola makan seimbang. Pada dasarnya, puasa hanya memindahkan jam makannya saja.

Durasi tidur yang berubah saat berpuasa juga tidak perlu dikhawatirkan, karena durasinya hanya berlangsung selama satu bulan saja.

"Memang saat bulan puasa ada perbedaan durasi tidur dan makanan. Namun, selama itu tidak perlu khawatir ada perubahan ritme sirkadian, karena waktunya cuma satu bulan," jelasnya.

Dari sisi psikologis, puasa menurutnya bermanfaat untuk menjaga emosi tetap stabil. Kondisi sugar rush akibat gula berlebih, dapat diredam dengan berpuasa karena gula darah lebih stabil.

"Dengan puasa, banjir kanal glukosanya lebih terkendali, jadi kita bisa lebih tenang dan otak kekurangan glukosa jadi lebih sabar, tidak tersulut emosi," ungkapnya.




(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads