Disangka Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kerdil dan Tupai Terbang Ditemukan di Papua

ADVERTISEMENT

Disangka Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kerdil dan Tupai Terbang Ditemukan di Papua

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 09 Mar 2026 07:00 WIB
Tupai terbang ekor cincin (Tous ayamaruensis).
Tupai terbang ekor cincin (Tous ayamaruensis). Foto: Arman Muharmansyah
Jakarta -

Possum kerdil berjari panjang (Dactylonax kambuayai) di temukan di pedalaman Papua, tepatnya di hutan hujan area kepala burung di Semenanjung Vogelkopf. Hewan ini memiliki satu jari super panjang.

Peneliti juga menemukan tupai terbang ekor cincin (Tous ayamaruensis). Ekor kecil tapi kuat milik tupai ini bisa mencengkeram ranting untuk bantu terbang.

Di samping keunikannya, penemuan ini dinilai luar biasa karena possum kerdil dan tupai terbang sebelumnya diperkirakan sudah punah sekitar 6.000 tahun lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penemuan semacam ini disebut taxa Lazarus. Istilah ini merujuk pada tokoh Alkitab yang dibangkitkan dari kematian. Temuan ini makin istimewa karena tak hanya satu, tapi dua hewan yang diperkirakan punah 'kembali lagi'.

"Penemuan suatu taksa Lazarus... adalah penemuan yang luar biasa," kata Profesor Tim Flannery, seorang ilmuwan Australia, dilansir BBC.

ADVERTISEMENT

Tupai Terbang

Tupai terbang itu ditemukan hidup di dalam lubang-lubang pohon tinggi. Kebiasaan ini mirip dengan kerabatnya, tupai terbang besar dari Australia.

Tetua setempat, Barnabas Baru dan Carlos Yesnat, mengatakan tupai terbang ini jago lempat dengan bantuan ekor yang dapat mencengkeram ranting dan tanaman rambat. Hewan nokturnal ini makan dedaunan dan getah pohon mengental dari hasil torehan cakarnya, dilansir dari ABC.

Peneliti menemukannya berkat studi pada fosil-fosil berusia puluhan tahun, foto-foto langka, dan spesimen-spesimen lama. Dari situ, mereka mengumpulkan petunjuk untuk berangkat ke lokasi di Papua.

Fosil fragmen rahang tupai terbang yang berusia sekitar 6.000 tahun sendiri pertama kali dideskripsikan pada 1999. Fosil yang ditemukan di Gua Kria di Semenanjung Vogelkopf mirip dengan tupai terbang Australia.

Dugaan bahwa tupai terbang unik ini masih hidup berangkat dari kemunculan foto-fotonya yang diambil di Semenanjung Vogelkopf dan Pulau Misool beberapa tahun terakhir. Di samping itu, karena wilayah ini kurang diteliti, khususnya soal keberadaan marsupialianya, peneliti pun coba datang langsung ke kawasan ini.

Possum Kerdil

Possum kerdil merupakan hewan marsupialia, yaitu kelompok hewan berkantung seperti kanguru. Di Australia, hewan ini diduga sudah punah dari pada Zaman Es.

Jari keempat di setiap tangan possum kerdil lebih panjang dua kali lipat dari jari-jarinya yang lain. Fungsinya untuk menggali larva serangga kayu, makanan utamanya.

Hewan ini punya ciri khas bulu bergaris hitam putih. Kepalanya kecil mirip tupai terbang atau sugar glider.

Gandeng Warga Setempat

Para peneliti dari Australia dan Universitas Papua dalam proses penelitiannya dibantu oleh orang Tambrauw dan Maybrat. Penulis pendamping Rika Korain juga seorang perempuan Maybrat.

"Saya sangat bangga bahwa para peneliti Papua telah berkontribusi pada penemuan-penemuan penting ini, dan ingin berterima kasih kepada masyarakat di wilayah Misool, Maybrat, dan Tambrauw yang telah mendukung kami di lapangan," kata Dr Aksamina Yohanita dari Universitas Papua, dikutip dari Australian Museum.

Rika Korai mengatakan, mereka juga dibantu oleh para tetua Tambrauw.

"Disebut sebagai Tous oleh beberapa klan Tambrauw dan Maybrat di daerah setempat, tupai terbang adalah hewan suci. Dianggap sebagai perwujudan roh leluhur dan merupakan bagian penting dari praktik pendidikan yang disebut sebagai 'inisiasi'," jelas Rika.

"Kami bekerja dengan sangat hati-hati dan kolaboratif dengan para tetua Tambrauw," imbuhnya.

Flannery menjelaskan, karena para masyarakat adat setempat memandang tupai terbang sebagai makhluk sakral, mereka tidak akan memburunya. Namun, hewan ini tidak bebas dari ancaman perburuan liar sama sekali.

"Saya khawatir jika ada yang mencoba memperdagangkan hewan-hewan itu... hewan-hewan tersebut akan hidup dalam waktu yang sangat singkat," ucapnya.

Habitat tupai terbang sendiri terancam penebangan hutan di daerah tersebut. Untuk itu, Flannery mengatakan, ilmuwan dan kelompok pelestarian satwa liar coba mengamankan hak kepemilikan tanah adat atas hutan-hutan.

Diharapkan, cara ini bantu memastikan penebangan tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan dari penduduk setempat.

Flannery menilai, penting untuk memastikan hewan-hewan ini aman di kawasan lindung.

"Ada beberapa area di Vogelkopf yang telah banyak ditebang, dan penduduk setempat mengatakan, 'Dulu (spesies tupai terbang berekor cincin) ada di sini, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi,'" kata Flannery.

"Kita hanya perlu menentukan di mana makhluk itu hidup, area mana yang dilindungi di bawah sistem taman nasional untuk mendapatkan perspektif konservasi semacam itu," imbuhnya.

Pakar ekologi satwa liar Euan Ritchie, yang tidak terlibat dalam studi, menekankan pentingnya pendanaan bagi survei keanekaragaman hayati dan taksonomi, baik dari Australia maupun negara lain. Hal ini menurutnya bantu memastikan spesies lain yang menuju kepunahan dapat diketahui dan dilestarikan.

"Menyedihkan sekali jika kita pikirkan, keajaiban dan misteri alam ini mungkin tidak akan pernah kita pahami dan hargai lantaran dana kurang, tetapi kita terus menghabiskan miliaran dolar setiap tahun untuk perang," ucap profesor di Deakin University ini.

Hasil studi possum kerdil dan tupai terbang ini telah dipublikasi di jurnal Records of the Australian Museum dengan judul "A New Genus of Hemibelideine Possum (Marsupialia: Pseudocheiridae) from New Guinea and Australia" dan "Found Alive After 6,000 Years: Modern Records of an 'Extinct' Papuan Marsupial, Dactylonax kambuayai", 6 Maret 2026.




(twu/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads