Bangladesh dan Pakistan mengumumkan lembaga pendidikan di negara masing-masing akan ditutup sementara. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi keterbatasan energi di tengah tensi yang meningkat antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS).
Di Bangladesh, langkah ini diterapkan pada universitas negeri maupun swasta, sekolah berbahasa Inggris, dan pusat bimbingan belajar. Kegiatan akademik diminta dihentikan mulai Senin (9/3/2026). Dikutip dari Anadolu, pihak berwenang Bangladesh melakukan ini untuk mengurangi konsumsi listrik dan mengurangi penggunaan bahan bakar terkait transportasi, sekaligus memastikan pelayanan-pelayanan penting tetap beroperasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Libur Idul Fitri Lebih Awal
Berdasarkan perintah yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Bangladesh, perguruan tinggi diarahkan untuk memulai liburan Idul Fitri lebih awal dari jadwal. Sehingga langkah ini secara efektif menutup kampus di seluruh negeri.
Para pengurus negara Bangladesh mengatakan penutupan sementara ini akan membantu menurunkan penggunaan listrik di ruang kelas, laboratorium, asrama, dan gedung administrasi, sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar yang terkait dengan perjalanan oleh siswa, guru, dan staf. Pihak berwenang percaya penangguhan kegiatan akademik selama periode ini akan secara signifikan mengurangi permintaan energi harian, terutama di daerah perkotaan di mana lembaga pendidikan menyumbang sebagian besar penggunaan listrik di siang hari.
Bersamaan dengan penutupan tersebut, pemerintah Bangladesh juga mengeluarkan pedoman yang mendorong lembaga dan kantor untuk menggunakan listrik secara lebih efisien. Salah satu caranya termasuk memaksimalkan cahaya alami dan meminimalkan penerangan dan konsumsi daya yang tidak perlu.
Dhaka belum mengindikasikan berapa lama penutupan lembaga pendidikan ini akan berlaku. Walau demikian diharapkan bisa melanjutkan jadwal akademik normal setelah liburan Idul Fitri jika situasi energi membaik.
Pakistan Juga Tutup Sekolah
Sementara itu, Pemerintah Pakistan juga melakukan hal yang sama. Penutupan sekolah di Pakistan dimulai hari ini, 10 Maret 2026.
Langkah tersebut dikatakan untuk mengurangi aktivitas transportasi yang terkait dengan mobil van sekolah, bus, dan perjalanan harian orang tua dan guru, yang secara kolektif menambah konsumsi bahan bakar perkotaan.
Namun meski sekolah ditutup untuk menghemat bensin, Pakistan tengah mempersiapkan Mashion Bazaar di Polo Club, lampu-lampu Jashn-e-Baharan di sepanjang kanal, dan Liga Super Pakistan.
Dikatakan dalam Pakistan Today, keputusan ini memicu perdebatan karena tujuan pemerintah yang dinyatakan adalah untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dengan membatasi aktivitas transportasi. Namun, pertemuan publik dalam skala besar, festival, dan acara olahraga biasanya menghasilkan lalu lintas yang signifikan.
Bagi banyak pengamat, kontras ini menimbulkan pertanyaan: jika penghematan bahan bakar diperlukan, mengapa pertemuan besar dan acara hiburan terus berlangsung, sedangkan sekolah tetap tutup? Keputusan ini juga menimbulkan perdebatan online di Pakistan.
(nah/nwk)










































