Sejak 6.000 Tahun Lalu, Manusia Sudah Pakai Bumbu dan Rempah untuk Memasak

ADVERTISEMENT

Sejak 6.000 Tahun Lalu, Manusia Sudah Pakai Bumbu dan Rempah untuk Memasak

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Jumat, 13 Mar 2026 21:00 WIB
Ilustrasi manusia purba
Foto: IFL Science/Ilustrasi manusia purba
Jakarta -

Jauh sebelum rempah menjadi komoditas mahal yang diburu bangsa Eropa, manusia purba sudah menggunakan bumbu alami untuk memasak. Hal ini terbukti lewat peninggalan arkeologi berusia sekitar 6000 tahun yang ditemukan pada 2013.

Para ilmuwan menemukan sisa-sisa bahan makanan yang menempel pada sebuah tembikar yang ditemukan di situs-situs sejarah Jerman dan Denmark. Mengutip Smithsonian Magazine, penemuan itu membuktikan bahwa manusia prasejarah menggunakan biji sawi putih atau bahan mustard untuk memasak ikan dan daging.

Para peneliti menganalisis residu kimiawi dari artefak milik Museum Kalunborg dan Holbæk di Denmark dan Museum Schleswig-Holstein di Jerman. Kumpulan artefak yang ditemukan berusia sekitar 5.750 dan 6.100 tahun, periode transisi manusia dari pemburu-pengumpul menjadi nomaden.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Manusia purba diduga menggunakan minyak alami yang berasal dari tumbuhan, hewan, hingga makhluk laut untuk memasak. Bahkan mereka juga sudah mengenal tumbuhan penghasil tepung.

Selain itu, manusia pada masa juga mulai menambahkan rempah-rempah berupa jahe dan kunyit. Hal tersebut terungkap lewat sisa rempah pada bejana yang berusia sekitar 4.500 tahun di India. Ada juga studi yang mengatakan bahwa rempah sudah digunakan selama lebih dari seribu tahun sebelumnya.

ADVERTISEMENT

Rempah pada Era Penjelajahan Eropa

Di Eropa sendiri, menambahkan bumbu dan rempah ke dalam masakan terjadi setelah manusia mengenal hewan ternak seperti sapi, dan kambing sebagai makanan. Barulah beberapa abad kemudian, masyarakat mulai mengenal sistem pertanian dan sayuran sebagai makanan.

Awalnya, para peneliti menduga bahwa penambahan tumbuhan dalam masakan adalah untuk memenuhi kebutuhan kalori. Namun, biji mustard yang digunakan nyatanya tidak mengandung kalori dan hanya menghasilkan rasa pedas.

Selera manusia purba inilah yang membuktikan bahwa cita rasa bukanlah kebiasaan baru, melainkan bagian dari evolusi budaya kuliner yang terus berkembang. Seiring berjalannya waktu, rempah bukan lagi bumbu pelengkap masakan. Nilainya berubah drastis menjadi komoditas perdagangan antar wilayah.

Rempah Nusantara

Pada masa penjelajahan bangsa Eropa, Nusantara menjadi salah satu pusat penghasil rempah terbesar pada masa itu. Pada 1552, bangsa Portugis masuk ke Nusantara untuk mencari rempah-rempah. Sejak saat itu, bangsa Eropa mulai menyebar ke seluruh wilayah Nusantara.

Jejak sejarah ini yang menciptakan hampir seluruh sajian kuliner Indonesia menggunakan rempah tradisional. Mengutip laman resmi UPI, sejumlah prasasti abad ke-8 dan ke-10 Masehi menyimpan bukti kekayaan kuliner nusantara.

Pada masa itu, makanan sudah diolah dengan sentuhan seni untuk menambah kenikmatan. Perkembangan teknik memasak dan makanan asli Indonesia juga dipengaruhi oleh seni kuliner yang datang dari India, Timur Tengah, Tiongkok, dan juga Eropa.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(sls/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads