Mudik Lebaran Bukan Sekadar Pulang Kampung, Begini Penjelasan Peneliti BRIN

ADVERTISEMENT

Mudik Lebaran Bukan Sekadar Pulang Kampung, Begini Penjelasan Peneliti BRIN

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Senin, 16 Mar 2026 17:30 WIB
Ilustrasi mudik Lebaran
Ilustrasi mudik lebaran Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Tradisi mudik setiap menjelang Idul Fitri sudah menjadi pemandangan yang akrab di Indonesia. Jutaan orang berbondong-bondong meninggalkan kota tempat mereka bekerja untuk kembali ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga besar.

Namun, tahukah detikers bahwa mudik tidak hanya sekadar pulang kampung? Dalam kajian ilmu sosial, tradisi ini ternyata memiliki makna yang lebih luas bagi masyarakat.

Dilansir dari laman resmi BRIN, Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN, Aulia Hadi, mengatakan tidak ada catatan pasti mengenai kapan tradisi mudik mulai muncul di Indonesia. Namun, sejumlah pakar memperkirakan praktik pulang ke kampung halaman sudah ada sejak masa kerajaan di Nusantara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak ada data spesifik yang menjelaskan sejak kapan mudik dimulai. Tetapi sejumlah pakar menyebut fenomena pulang ke kampung halaman ini sudah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara," ujar Hadi, dikutip dari keterangan resmi BRIN, Senin (16/3/2026).

Lalu, apa sebenarnya makna di balik tradisi mudik yang dilakukan masyarakat setiap tahun?

ADVERTISEMENT

Apa itu Mudik?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata mudik memiliki dua makna. Pertama, bepergian ke hulu sungai atau ke pedalaman. Kedua, dalam penggunaan sehari-hari, mudik diartikan sebagai pulang ke kampung halaman, terutama menjelang Idul Fitri.

Sementara itu, menurut Nahdlatul Ulama (NU) di laman resminya, secara kebahasaan kata mudik berasal dari makna kembali ke sumber, hulu, atau mata air (udik). Makna ini mengambil metafora aliran sungai dari hulu ke hilir. Karena itu, dikenal pula istilah hilir-mudik untuk menggambarkan seseorang yang berjalan atau bepergian bolak-balik secara berulang.

Dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), kata mudik berasal dari bahasa Melayu, udik yang berarti hulu atau ujung. Pasalnya, masyarakat Melayu yang tinggal di hulu sungai kerap pergi ke hilir menggunakan perahu atau biduk untuk berbagai keperluan. Setelah menyelesaikan urusannya, mereka kemudian kembali ke hulu pada sore hari.

Sejarah Mudik di Indonesia

Mengutip laman resmi BRIN, tradisi mudik semakin menguat pada masa Indonesia modern, terutama sejak era 1970-an ketika proses industrialisasi dan urbanisasi meningkat pesat. Banyak masyarakat dari daerah kemudian berpindah ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, hingga Medan dan Makassar untuk bekerja.

Perpindahan penduduk tersebut memunculkan pola mobilitas baru, yakni bekerja di kota tetapi tetap mempertahankan hubungan dengan daerah asal. Saat momen tertentu seperti Idul Fitri, para perantau biasanya kembali ke kampung halaman.

"Pada era industrialisasi tahun 1970-an, urbanisasi meningkat dan banyak kota (berkembang) menjadi pusat industri. Dari situ tradisi mudik semakin kuat," ujar Hadi.

Ia menjelaskan masyarakat Indonesia memiliki budaya komunal yang kuat, yaitu budaya yang menekankan pentingnya hubungan sosial dan kekeluargaan. Dalam budaya tersebut, hubungan keluarga besar tetap dijaga meskipun para anggotanya tinggal di tempat yang berbeda.

"Makna sosial terbesar mudik adalah menjaga relasi keluarga dan ikatan kekerabatan, terutama dengan orang tua dan keluarga besar," ujarnya.

Selain mempererat hubungan keluarga, mudik juga menjadi momen nostalgia bagi para perantau. Mereka dapat kembali mengunjungi rumah lama, bertemu teman masa kecil, serta melihat berbagai perubahan di daerah asal.

Bagi banyak orang, perjalanan mudik juga menjadi ruang refleksi. Momen ini membuat para perantau dapat melihat perbedaan kehidupan di kota besar dengan kondisi di kampung halaman.

Fenomena mudik juga memberikan dampak ekonomi yang cukup besar bagi daerah asal. Para perantau kerap membawa oleh-oleh, memberikan uang kepada kerabat, hingga mengadakan berbagai acara keluarga.

"Secara tidak langsung mudik juga menggerakkan ekonomi, karena para perantau biasanya membawa uang, oleh-oleh, dan berbagi dengan keluarga di kampung halaman," jelasnya.


Mudik sebagai Ritual Sosial Masyarakat Muslim

Mayoritas masyarakat yang beragama Islam menjadikan Idul Fitri sebagai momen penting untuk berkumpul bersama keluarga.

"Momen Lebaran menandai kemenangan setelah sebulan beribadah Ramadan. Lebaran menjadi kombinasi unik yang merepresentasikan religiositas atau spiritualitas seperti puasa, zakat, sedekah, dan salat Id, dengan tradisi kultural seperti mudik, berbagi amplop, serta hidangan ketupat dan opor yang menguatkan kekerabatan," jelas Hadi.

Di era teknologi digital, orang sebenarnya dapat berkomunikasi dengan keluarga melalui video call atau media sosial. Meski begitu, Hadi menyebutkan teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan interaksi langsung.

"Pertemuan fisik tetap tidak bisa digantikan teknologi. Ada bahasa tubuh, pelukan, atau mencium tangan orang tua yang memberikan energi emosional tersendiri," ujarnya.

Hadi juga mengingatkan para pemudik agar mempersiapkan perjalanan dengan baik, terutama menjaga kesehatan dan keselamatan selama perjalanan agar dapat sampai di kampung halaman dengan selamat.

"Mudik itu tujuannya untuk bertemu keluarga dan mempererat hubungan, jadi yang paling penting adalah tetap berhati-hati selama perjalanan, agar bisa sampai tujuan dengan selamat," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Mixagrip Greges Hadir di Kalbe Fit Stop Km 88B Tol Cipularang"
[Gambas:Video 20detik]
(crt/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads