Di balik kemegahan Candi Borobudur, tersimpan sebuah pertanyaan ilmiah yang belum sepenuhnya terjawab, apakah kawasan ini dulunya merupakan danau purba?
Gagasan tersebut pertama kali muncul dalam hipotesis lama, mengutip akun resmi @konservasiborobudur, hal tersebut disampaikan oleh arkeolog asal Belanda bernama W.O.J Nieuwenkamp pada tahun 1933 dalam tulisannya Het Borobudur Meer.
Nieuwenkamp menjelaskan dalam artikel tersebut, Candi Borobudur tampak seperti teratai yang mengapung di tengah danau sebagai simbol kesucian ajaran Buddha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan catatan sejarah, pemikiran tersebut kemudian ditentang oleh pemimpin proyek pemugaran Borobudur yang berlangsung pada tahun 1907-1911, Theodoor van Erp.
Hal ini disebabkan karena tidak ditemukannya data ilmiah yang menjelaskan kondisi tersebut, seperti prasasti atau petunjuk lainnya yang mengatakan area tersebut merupakan sebuah danau.
Bukti yang Menunjukkan Kehadiran Danau Purba
Namun, ahli geologi Belanda Reinout Willem van Bemmelen, lewat bukunya De Geologische Geschiedenis van Indonesië (1952) menyebut kawasan tersebut pernah menjadi danau yang luas. Ia menjelaskan bahwa Dataran Kedu selatan mungkin pernah menjadi danau yang tercipta akibat bendungan alami material vulkanik.
Letusan besar dari Gunung Merapi sekitar tahun 1006 Masehi, menimbulkan longsor besar yang membendung aliran sungai. Akibatnya, secara alami terbentuklah genangan air yang luas di wilayah Borobudur.
Penelitian geologi pada tahun 1996 oleh Helmy Murwanto menemukan bukti keberadaan danau. Di lapangan, ia mendapati sedimen berupa batu lempung hitam yang mengandung serbuk sari (pollen) tumbuhan rawa.
Sedimen yang ditemukan di dasar sungai Borobudur terdiri dari, Nymphaea, Cyperaceae, Eleocharis, Hydrocharis. Dari berbagai macam pollen tumbuhan rawa yang ditemukan, menandakan bahwa wilayah tersebut pernah terendam air tenang yang membentuk ekosistem rawa-danau.
Sedimen tanah tersebut ditemukan pada ke dalam 10 meter dibawah permukaan tanah. Batu lempung hitam kecoklatan yang tersebar di sungai sekitaran Borobudur seperti Sungai Elo, Sungai Progo, dan Sungai Sileng. Batu tersebut mengandung fosil kayu dan serbuk sari tumbuhan air.
Dosen Teknologi Mineral UPN Veteran Yogyakarta, Ir Helmy Murwanto, MSi, juga mengungkapkan terdapat danau purba di sekitar Candi Borobudur, yang diketahui lewat singkapan endapan danau berupa lempung hitam.
"Kedua singkapan tersebut mempunyai jarak sekitar 8 kilometer," ujar Helmy, dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM).
Menurut hasil penelitiannya, interpretasi citra satelit menunjukkan bahwa dahulu beberapa area merupakan lembah yang menyerupai aliran sungai. Lembah tersebut berada di sekitaran desa Bumisegoro, Pasuruhan, Saitan dan Deyangan. Saat ini lahan tersebut digunakan untuk kegiatan pertanian.
Kapan Danau Itu Ada?
Pendangkalan danau disebabkan oleh aktivitas vulkanik, tektonik, longsoran lahar dan aktivitas manusia, yang terjadi beberapa kali. Pola aliran sungai ke danau purba Borobudur, diperkirakan terbentuk karena pendangkalan dan pengeringan danau. Sementara jalan setapak lurus penghubung Candi Mendut, Pawon dan Borobudur, mungkin terbentuk saat sungai mulai kering sebagian.
"Aktivitas manusia di sekitar candi Borobudur dipengaruhi oleh keberadaan danau. Hal ini terefleksikan dalam relief Candi Borobudur dan troponin di sekitar candi Borobudur," jelasnya.
Jika menurut penanggalan karbon (C14) yang dikutip dari publikasi Murwanto dkk, danau purba mulai terbentuk sekitar 22 ribu tahun lalu. Kemudian pada abad ke-8 dan ke-9 saat pembangunan Candi Borobudur, area tersebut masih ada tapi sebagian sudah kering.
Hasil pemetaan spatiotemporal yang dilakukan dosen UPN Veteran Yogyakarta tersebut, usia danau Borobudur melewati 3 periode yakni Pleistosen Akhir, Holosen dan Resen. Pada masing-masing periode, danau memiliki ukuran luas yang berbeda-beda.
Pada masa Pleistosen akhir atau sekitar 10 ribu tahun lalu, ukurannya masih sangat luas. "Danau ini sangat luas dan saat itu masih belum terdapat peradaban dan bahkan Candi Borobudur saja belum dibangun," ujarnya.
Baru saja pada abad ke-13, danau benar-benar mengering akibat endapan vulkanik yang mengubahnya menjadi daratan. Jadi bisa disimpulkan bahwa Candi Borobudur tidak dibangun di tengah danau, tapi di area danau purba yang tak lagi prima.
Peneliti BRIN: Tak Pernah Ada Danau di Kawasan Candi Borobudur
Namun, kesimpulan tersebut tidak sepenuhnya diterima. Penelitian yang dilakukan Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eko Yulianto dkk justru menunjukkan hasil berbeda.
Tim peneliti meninjau ulang temuan "lempung hitam" yang selama ini dianggap sebagai indikator keberadaan danau. Menurutnya, material tersebut bukanlah lempung, melainkan lanau hingga pasir halus yang mengandung fragmen batuan vulkanik (pumice).
"Yang diklaim lempung hitam, sekitar 70 persen justru berupa pasir. Ini menunjukkan material tersebut bukan lempung," ujarnya dikutip dari Geoseminar 2026 VOLUME 1- Cerita Serbuk Sari yang ditayangkan kanal Youtube Badan Geologi, Kementerian ESDM beberapa waktu lalu.
Analisis lebih lanjut juga menguatkan kesimpulan tersebut. Kandungan mineral pada sedimen menunjukkan kadar besi yang tinggi, ditandai dengan respons kuat terhadap magnet. Hal ini adalah ciri yang lebih umum ditemukan pada material vulkanik, bukan endapan danau.
Tak hanya itu, pengujian mikrofosil yang biasanya menjadi indikator lingkungan perairan juga tidak menunjukkan hasil yang mendukung. Analisis keberadaan serbuk sari (pollen) tidak menemukan jejak vegetasi khas rawa atau danau pada sampel "lempung". "Kita coba analisis kandungan pollen. Hasilnya kosong, itu sudah pasti karena pasir," kata Eko.
Begitu pula dengan organisme air seperti ostrakoda dan diatom yang seharusnya hadir di ekosistem danau tidak ditemukan."Analisis ostrakoda yang ukurannya agak besar. Kalau itu danau mestinya kita temukan, tapi kosong. Kemudian kita berharap yang hidup di air danau selain ostrakoda ada diatom. Kosong juga. Jadi sebenarnya negatif bahwa (kawasan) itu adalah danau gitu," ujar Eko
Ia menyambung, "Jadi dalam penelitian kami, kami menyimpulkan tidak ada bukti yang menunjukkan danau pernah hadir di sekeliling Borobudur."











































