Pada 2019, para paleontolog menemukan tulang besar berbentuk pedang melengkung dari hamparan pasir tandus di gurun Sahara bagian tengah untuk pertama kalinya. Namun, mereka tidak langsung mengenali benda tersebut.
Sejak saat itu, ekspedisi ulang dilakukan. Hasilnya, para paleontolog menemukan dua puncak kepala sebuah spesies yang belum pernah mereka lihat sama sekali.
Di tengah gurun itu, para ahli melakukan perakitan tengkorak digital 3D dengan bantuan panel surya. Setelah tergambar, Profesor Biologi dan Anatomi Universitas Chicago yang memimpin ekspedisi, Paul Sereno tertegun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penemuan ini begitu tiba-tiba dan menakjubkan, sungguh mengharukan bagi tim kami. Saya akan selalu menghargai momen di perkemahan ketika kami di sekitar laptop untuk melihat spesies baru itu untuk pertama kalinya," ungkap Sereno dikutip dari laman resmi UChicago.
Usai dilakukan penelitian lebih lanjut, Sereno dan tim menyematkan nama ilmiah untuk spesies tersebut. Hewan tersebut diberi nama Spinosaurus mirabilis, spesies spinosaurid baru pertama yang ditemukan setelah 1 abad.
Temuan Fosil Dino Pemakan Ikan di Gurun
Spinosaurus mirabilis dijelaskan sebagai seekor predator pemakan ikan. Dalam gambaran tengkoraknya, dinosaurus ini punya jambul yang diyakini ahli dilapisi keratin dan berwarna cerah saat hewan itu masih hidup.
Ciri-ciri mencolok lainnya dari spesies ini adalah gigi yang saling mengunci. Struktur gigi rahang dinosaurus itu menonjol keluar dan berada di antara gigi rahang atas.
Kondisi ini diyakini menjadi tempat jebakan mematikan bagi ikan yang licin. Namun, bentuk gigi ini tidaklah spesial, karena juga diadaptasi oleh spesies pemakan ikan lainnya.
Dinosaurus spesies pemakan ikan yang dimaksud seperti ichthyosaurus, buaya semi-akuatik, dan pterosaurus yang terbang di udara. Sebelumnya, tulang dan gigi spinosaurid banyak ditemukan di endapan pasir sekitar pantai.
Oleh karena itu, beberapa ahli berhipotesis bila theropoda ini berjenis akuatik dan mengejar mangsa di bawah air. Namun, lokasi penemuan S. mirabilis cukup mengagetkan, yakni di tengah gurun Sahara.
Lokasinya dekat dengan kerangka parsial utuh dinosaurus berleher panjang yang terkubur di sedimen sungai. Hal ini menunjukkan bila S. mirabilis hidup di habitat pendalaman hutan yang dekat dengan sungai.
"Saya membayangkan dinosaurus ini semacam 'bangau neraka' yang tidak kesulitan mengarungi air sedalam dua meter dengan kakinya yang kokoh, tetapi mungkin menghabiskan sebagian besar waktunya mengintai perangkap di perairan dangkal untuk menangkap banyak ikan besar pada masa itu," urai Sereno.
Perjalanan Panjang Menemukan S. mirabilis
Ekspedisi yang dilakukan Sereno berangkat dari satu kalimat di sebuah monografi tahun 1950-an. Kalimat itu disampaikan oleh ahli geologi Prancis yang menyatakan ada temuan satu gigi fosil berbentuk pedang di gurun barat Mesir.
Sereno menyayangkan tidak ada ahli yang kembali ke lokasi tersebut selama lebih dari 70 tahun. Sampai pada akhirnya, ekspedisi yang melibatkannya dilakukan.
Sesampainya di lokasi, tim Sereno bertemu dengan pria Tuareg setempat yang memandu mereka. Mereka dipandu ke tengah gurun Sahara, tempat ia pernah melihat tulang fosil berukuran besar.
Benar saja, di sana tim menemukan gigi dan tulang rahang dari spesies Spinosaurus baru. Sereno bukan anak baru di gurun Sahara.
Selama 30 tahun terakhir, ia telah menggali lebih dari 100 ton temuan fosil. Ia juga seorang inisiator yang memenangkan penghargaan untuk membangun museum tanpa energi pertama di dunia.
Tempat itu dinamakan Museum of the River yang dibangun di tengah ibu kota Nigeria. Museum itu mendokumentasikan dinosaurus Afrika yang telah hilang.
Kini Dikenal Dunia
Hasil fosil yang ditemukan tim Sereno kemudian dibawa ke South Side Fossil Lab di Washington Park. Di sana, fosil dibersihkan, dipindai menggunakan CT scan, dan disusun penampakan digitalnya untuk laporan penelitian.
Untuk memperlihatkan tengkorak S. mirabilis, Sereno bekerja sama dengan seniman paleo Dani Navarro asal Madrid. Hasilnya sangat menakjubkan, model fisik 3D dari S. mirabilis tercipta ditambah dengan daging di atas rekonstruksi raksa.
Tim juga menyiapkan replika tengkorak yang baru dengan model jambul pedang, dapat disentuh, dan berwarna-warni. Setelah semuanya rampung, S. mirabilis dipertontonkan kepada dunia melalui publikasi di jurnal Science.
Replika tersebut juga akan dipamerkan di pameran Dinosaur Expedition di Museum Anak-anak Chicago. Ia ingin pelajar menjadi sosok yang pertama melihat temuan dinosaurus terbaru ini.
"Membiarkan anak-anak merasakan kegembiraan penemuan-penemuan baru, itulah kunci untuk memastikan generasi ilmuwan berikutnya akan menemukan lebih banyak hal tentang planet kita yang berharga ini dan layak untuk dilestarikan," tegasnya.
Studi ini terbit di jurnal Science pada 19 Februari 2026 dengan judul "Scimitar-crested Spinosaurus species from the Sahara caps stepwise spinosaurid radiation."
(det/twu)










































