Sebuah laporan menemukan bahwa perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mulai berdampak semakin luas. Pakar memprediksi, penutupan jalur perdagangan di Selat Hormuz akan berimbas pada krisis pangan global.
Pakar dari Universitas Bonn di Jerman, Matin Qaim, mengatakan jika Selat Hormuz terus ditutup, maka rantai pasokan global akan mengalami dampak buruk. Ia menyebut, dampak ini akan mendorong harga pangan menuju rekor tertinggi yang belum pernah terjadi sejak krisis energi tahun 1970-an.
"Potensi untuk hal ini berkembang menjadi krisis besar bagi orang miskin dan kelaparan sangat besar," kata Qaim kepada New Scientist, dikutip dari ZME Science, Senin (6/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dimulai dari Pasokan Pupuk Global yang Terhambat
Sebagian besar pasokan makanan manusia bersumber dari tanah yang bergantung pada pupuk nitrogen. Bahan baku pupuk yang dibuat dari nitrogen dan hidrogen, dari gas alam, sebagian besarnya dihasilkan di Timur Tengah.
Bahkan, hampir sepertiga kebutuhan pupuk dunia didistribusikan melalui Selat Hormuz di Iran. Qatar, sebagai produsen sebanyak 15 persen pupuk urea global sekaligus pengendali 50 persen perdagangan urea, saat ini tidak dapat berbuat apa-apa karena jalur ditutup.
"Bukan rahasia lagi bahwa sistem perdagangan dunia sedang mengalami gangguan terburuk dalam 80 tahun terakhir," ujar Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Ngozi Okonjo-Iweala.
Perang dagang yang terjadi saat ini membuat banyak negara seperti India, Bangladesh, dan Pakistan tidak bisa memproduksi pupuk karena tidak mendapat pasokan bahan baku dari negara Teluk.
"Jika kita berhenti menggunakan pupuk mineral sepenuhnya di seluruh dunia, kita mungkin akan melihat separuh penduduk dunia kelaparan," jelas Anthony Ryan dari Universitas Sheffield, Inggris.
Biaya Produksi Melonjak, Petani Harus Putar Otak
Krisis ini juga telah berdampak pada daerah-daerah pertanian yang menanam dalam jumlah besar. Banyak petani yang mulai bingung untuk terus menanam dengan kerugian besar, beralih ke tanaman yang membutuhkan sedikit nutrisi, atau berhenti menanam.
Itu karena harga pupuk urea yang telah naik sampai dengan 50 persen dan amonia juga naik 20 persen. Sementara itu, bahan bakar diesel yang dibutuhkan traktor dan truk pengangkut bahan makanan juga meroket ke angka 60 persen, yang membuat kenaikan harga pangan semakin sulit dihindari.
"Dengan kondisi ekonomi pertanian yang seburuk sekarang, tidak perlu banyak hal untuk menghancurkan laporan pendapatan (petani)," ujar analis industri biji-bijian independen, Philip Coffin.
Dampak ini sudah dirasakan lebih dulu oleh para petani di AS yang mengalami kerugian besar. Per 2025, mereka sudah merugi sebanyak 46 persen, seperti petani kedelai yang rugi USD 138 per acre (Rp 2.345.000 per ½ hektare) dan petani jagung (3.900.000 per ½ hektar).
Dilema Biofuel di Tengah Krisis Iklim
Di tengah krisis pangan global, pakar juga menyoroti dilema bahan bakar nabati. Bahan makanan yang seharusnya dapat dimakan justru diolah menjadi bahan bakar alternatif.
Data menunjukkan sebanyak 5 persen bahan pangan global diubah menjadi bahan bakar kendaraan, yaitu biofuel. Seperti di AS, yang mengolah sepertiga hasil panen jagung mereka menjadi bioetanol.
"Kita membakar sekitar 15 juta roti setiap hari di Eropa untuk bahan bakar nabati. Ini adalah cara yang gila untuk menghasilkan energi," ungkap Paul Behrens dari Universitas Oxford.
Alih-alih memenuhi stok bahan pangan di pasaran agar harga stabil, pemerintah justru berfokus pada pemenuhan kebutuhan bahan bakar kendaraan. Seperti di Australia dan AS yang fokus pada peningkatan proporsi bioetanol.
Padahal, krisis iklim sudah ada didepan mata yang merupakan mimpi buruk bagi logistik. Banjir besar, panas ekstrem, dan badai dahsyat akibat pemanasan global telah menekan hasil panen.
"Ada banyak potensi hal ini untuk lepas kendali dan menyebabkan krisis yang sama parahnya, atau bahkan lebih buruk. Jika terjadi peristiwa iklim besar, hal itu pasti dapat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih parah," tegas Jennifer Clapp dari Universitas Waterloo.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(sls/faz)










































