Garis Putih Ikan Badut Ternyata Bisa Hilang, Penyebabnya karena Tekanan Sosial?

ADVERTISEMENT

Garis Putih Ikan Badut Ternyata Bisa Hilang, Penyebabnya karena Tekanan Sosial?

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Selasa, 07 Apr 2026 09:30 WIB
Wildlife Photographer of The Year
Foto: (Wildlife Photographer of The Year)/Ikan badut muda bisa kehilangan garis putih karena tekanan sosial
Jakarta -

Ikan badut atau dikenal dengan 'Nemo' memiliki corak khas yang indah berwarna oranye dengan garis berwarna putih. Namun, tahukah detikers bahwa corak garis pada ikan badut bisa menghilang?

Studi terbaru dari Okinawa Institute of Science and Technology (OIST) menyebutkan ikan badut bisa menghapus garis-garis di tubuhnya tergantung pada keadaan. Menurut salah seorang peneliti di OIST, Profesor Vincent Laudet, tekanan sosial berperan besar dalam perubahan tersebut.

"Ciri pigmentasi seperti garis-garis putih ini sering dianggap sebagai penanda visual sederhana, tetapi sebenarnya mengandung makna biologis yang kaya," ujarnya dikutip dari ZME Science, Kamis (2/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kelangsungan Hidup Ikan Badut di Anemon Laut

Seperti yang diketahui, ikan-ikan badut sering ditemui di kawanan anemon laut. Satu anemon biasanya hanya mendukung satu pasang ikan untuk berkembang biak.

Di luar pasangan tersebut, akan ada antrean ketat ikan-ikan yang lebih kecil yang diurutkan berdasarkan urutan. Di dunia ikan, kondisi ini seperti semacam struktur sosial.

ADVERTISEMENT

Bagi ikan yang berperilaku atau terlihat terlalu berani berisiko diserang atau diusir - dan begitu berada di luar anemon, kemungkinan untuk bertahan hidup sangat kecil. Biasanya, ikan badut muda memiliki dua hingga tiga garis putih. Kemudian, saat dewasa, hanya memiliki satu garis di bagian kepala.

Perubahan atau hilangnya garis-garis ini kemudian menarik perhatian ilmuwan. Mereka berpikir apakah hilangnya garis pada ikan badut bisa dikendalikan atau ada faktor tertentu.

Bagaimana Garis Putih Ikan Badut Bisa Memudar Lalu Hilang?

Penulis utama studi sekaligus peneliti pascadoktoral dari OIST, Laurie Mitchell, menyimpulkan beberapa kemungkinan yang terjadi, di antaranya karena faktor sosial atau pengaruh internal dari perkembangan tubuhnya.

"Yang menarik adalah sekitar sepertiga spesies ikan di anemon telah berevolusi untuk memiliki lebih banyak garis putih pada tahap perkembangan awal, hanya untuk kehilangan sebagian dalam rentang waktu yang relatif singkat saat mereka bertransisi menjadi dewasa. Kami ingin memahami bagaimana dan mengapa perubahan ini terjadi," jelasnya.

Untuk melihat perubahan ini, para peneliti membesarkan ikan badut sejak larva. Dengan perawatan yang ketat, mereka menempatkan ikan-ikan badut ke dalam berbagai kondisi, yaitu:

- Pertama ditempatkan pada akuarium tanpa anemon laut.

- Kedua, anemon laut diganti dengan yang palsu.

- Ketiga, hidup dengan anemon asli tanpa ikan dewasa.

- Terakhir, akuarium diisi sepasang ikan dewasa yang siap berkembangbiak.

Hasilnya, ikan remaja yang hidup bersama dengan ikan dewasa lebih cepat kehilangan garis putih di tubuhnya. Lalu, berubah menjadi jingga dan hanya tersisa satu garis di kepala dalam beberapa minggu.

Sementara itu, ikan yang berada di dalam akuarium tanpa dewasa jauh lebih lambat kehilangan garis tubuhnya. Hasil ini mengubah pandangan para peneliti yang sebelumnya mengatakan garis tambahan merupakan simbol kasta terendah.

Sebaliknya, penelitian mengungkap bahwa hilangnya garis putih tambahan pada tubuh ikan badut adalah cara mereka beradaptasi. Jadi, ikan anemon tomat memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di tengah tekanan sosial dengan memudarkan garis tubuhnya.

Bagi ikan badut muda, jauh lebih baik kehilangan motif indah tubuhnya hingga tumbuhnya individu baru dibandingkan dengan harus terlibat dalam konflik dengan ikan dewasa. Cara ini juga dinilai sebagai obat penawar stres bagi ikan-ikan muda.

Namun, ikan dewasa menjadi kurang dominan karena akuarium hanya diisi ikan saja. Bagi ikan badut, mempertahankan garis-garis tambahan pada badannya adalah simbol bagi ikan predator bahwa mereka hanya ikan kecil biasa.

Apa yang terjadi saat Garis-garis itu Menghilang?

Berdasarkan pengamatan mikroskopis, garis putih itu terbentuk dari pigmen reflektif, yaitu iridofor. Jika jaringan tersebut rusak, maka sel-sel yang ada di sekitarnya ikut mati dan menghilang. Akibatnya, sel akan menyusut, mengalami kerusakan pada membran, dan inti sel terfragmentasi.

Jika jaringan tersebut hilang, maka warna dasar akan mengisi kekosongannya dan mendominasi. Gen yang terlibat dalam proses tersebut adalah apoptosis (sistem kematian sel yang dikendalikan tubuh) menjadi sangat aktif. Salah satu gen kunci, caspase-3, menunjukkan ekspresi yang kuat selama periode ini.

"Penghambatan aktivitas caspase-3 memperlambat hilangnya garis-garis, yang secara jelas menunjukkan bahwa apoptosis adalah pendorong utama perubahan pola warna ontogenetik yang dikendalikan secara sosial dan lingkungan ini," tulis para peneliti.

Selain itu, perubahan gen juga terkait dengan produksi hormon tiroid. Dari sini dapat diketahui bahwa besarnya tekanan lingkungan sosial dapat memengaruhi hormon, mengubah aktivitas gen, dan memicu kematian sel pigmen tertentu. Hasil ini mengarah pada sinyal sosial yang dapat menghapus sebagian ciri fisik.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(sls/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads