Pernah terbayang sebuah bintang berubah menjadi monster yang menelan planet-planetnya sendiri? Sebuah studi terbaru mengungkapkan fenomena dramatis di luar angkasa: bintang-bintang tua ternyata sedang "melahap" planet raksasa yang mengorbit terlalu dekat.
Penemuan ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana fase akhir sebuah sistem tata surya bisa menghancurkan segalanya di sekitarnya. Lantas, apakah Bumi juga akan ditelan Matahari nantinya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena Hilangnya Planet di Sekitar Raksasa Merah
Dilansir dari Science Daily, riset yang dipimpin oleh astronom dari University College London (UCL) dan University of Warwick ini menggunakan data dari satelit TESS milik NASA.
Melalui pengamatan terhadap hampir setengah juta bintang, ilmuwan menemukan pola mengerikan tentang bagaimana planet-planet raksasa menghilang saat bintang induknya mulai membengkak.
Ilmuwan mengamati perilaku bintang yang baru saja memasuki fase "sekarat" atau dikenal sebagai red giant (raksasa merah). Dalam fase ini, bintang mulai kehabisan bahan bakar hidrogen sehingga intinya mengerut, tetapi lapisan luarnya justru membengkak hingga ratusan kali lipat dari ukuran aslinya.
Hasil pengamatan menunjukkan, jika sebuah bintang induk memasuki fase akhir tersebut, planet-planet besar yang mengorbit di sekitarnya menjadi sangat jarang.
Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 130 planet dan kandidat planet, 33 di antaranya baru pertama kali ditemukan.
Namun, muncul pola yang sangat jelas: jumlah planet pada bintang raksasa merah turun drastis, dari sekitar 0,35% pada bintang muda menjadi hanya 0,11% pada bintang yang sudah berevolusi lanjut. Data ini menunjukkan, planet-planet yang sebelumnya ada di sana kemungkinan besar telah lenyap ditelan oleh bintang induk mereka sendiri.
"Ini adalah bukti kuat bahwa saat bintang berevolusi, mereka dapat dengan cepat menyebabkan planet-planet berputar masuk ke dalamnya dan hancur," ujar Dr Edward Bryant, pemimpin penelitian, dikutip Kamis (9/4/2026).
Efek 'Tarik-Tambang' Gravitasi yang Mematikan
Proses penghancuran planet ini bukan terjadi secara tiba-tiba. Penelti menjelaskan, proses ini terjadi karena dipicu interaksi pasang surut (tidal interaction) sangat kuat antara bintang dan planet.
Saat sebuah bintang tumbuh semakin besar, efek tarikan gravitasinya terhadap objek di sekitarnya akan meningkat secara eksponensial. Hal ini menciptakan kondisi "tarik-tambang" yang tidak seimbang, yang mana sang bintang jauh lebih dominan dibandingkan planet yang mengorbitnya.
Mirip seperti gravitasi Bulan yang menarik air laut di Bumi untuk menciptakan pasang surut, bintang yang membengkak ini menarik material planet di dekatnya. Interaksi ini menyebabkan orbit planet melambat secara bertahap dan kehilangan energi.
Akibatnya, jalur orbit planet tersebut akan mengecil dan mulai bergerak memutar ke arah dalam, semakin lama semakin mendekati permukaan panas sang bintang induk.
Pada akhirnya, planet tersebut akan mencapai titik kritis dan tidak lagi mampu menahan gaya tarik yang luar biasa. Planet tersebut akan pecah berkeping-keping karena gaya gravitasi yang sangat kuat (gaya pasang surut) sebelum benar-benar jatuh dan "dimakan" sepenuhnya oleh pusat panas sang bintang. Inilah yang menjelaskan mengapa astronom jarang menemukan planet raksasa mengorbit bintang-bintang tua.
Nasib Bumi di Akhir Usia Matahari
Penemuan ini tentu memicu pertanyaan besar bagi kita: bagaimana nasib Bumi saat Matahari kita sendiri menjadi raksasa merah sekitar lima miliar tahun lagi?
Saat ini, Matahari masih berada di fase tenang. Namun, suatu saat, ia akan membengkak hingga mencapai orbit planet-planet yang mengitarinya.
Studi ini memberikan gambaran bahwa sistem Tata Surya kita pun tidak akan selamanya stabil seperti sekarang.
Dr. Vincent Van Eylen, salah satu penulis studi tersebut, menjelaskan, nasib planet berbatu seperti Bumi mungkin sedikit berbeda dengan planet gas raksasa yang mereka teliti. Karena Bumi berada di posisi yang relatif lebih jauh dibandingkan planet-planet yang "hilang" dalam studi ini, ada kemungkinan fisik planet kita bisa selamat dari proses "penelanan" langsung.
Namun, itu bukan berarti Bumi akan baik-baik saja.
"Bumi mungkin saja selamat dari fase raksasa merah Matahari, tetapi kehidupan di Bumi kemungkinan besar tidak akan bertahan," jelas Van Eylen.
Meskipun planetnya tidak hancur tertelan, radiasi ekstrem dan suhu yang sangat panas dari Matahari yang membengkak akan menguapkan lautan dan menghanguskan atmosfer. Alhasil, Bumi akan menjadi planet mati sebelum Matahari akhirnya padam sepenuhnya.
(rhr/twu)










































