Apakah detikers pernah mendengar hewan atau tumbuhan invasif? Spesies invasif biasanya berasal dari wilayah asing dan mengganggu ekosistem tertentu. Namun, bolehkah spesies invasif dikonsumsi?
Contoh spesies invasif yang paling mudah ditemukan di Indonesia yakni ikan sapu-sapu. Spesies ini bukan asli Indonesia, melainkan dari Amerika Selatan, khususnya Amazon.
Spesies ini awalnya menyebar sebagai ikan hias. Namun, seiring waktu, ikan sapu-sapu yang bisa beradaptasi di tempat mana pun, membuat populasinya meledak. Di sungai, ikan sapu-sapu memakan telur ikan lokal dan merusak pinggiran sungai dengan melubangi untuk sarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, amankah hewan invasif dikonsumsi?
Berbahaya bagi Ekosistem Belum Tentu Tak Bisa Dimakan
Tak hanya hewan, tumbuhan juga memiliki spesies invasif, misalnya eceng gondok dan putri malu. Di lingkungan, spesies dianggap invasif jika menimbulkan ancaman bagi spesies asli.
Ini artinya, berbahaya yang dimaksud tidak sama dengan berbahaya untuk dikonsumsi. Bahkan, di beberapa negara lain, spesies invasif diperkenalkan sebagai makanan karena rasanya enak dan memiliki nilai kuliner.
Contohnya kudzu, yang diperkenalkan di Amerika Serikat sebagai tanaman hias. Di wilayah asalnya di Asia, kudzhu dimakan sebagai sayuran, dan akarnya yang mirip kentang menyediakan pati untuk jeli.
Di Florida, Reef Environmental Education Foundation (REEF) telah menyelenggarakan "Lionfish Derbies" sejak tahun 2009, di mana para penyelam berkompetisi untuk melihat berapa banyak ikan lionfish invasif yang dapat mereka tombak . Acara-acara ini diakhiri dengan acara mencicipi ikan lionfish gratis.
"Acara mencicipi memberi masyarakat kesempatan untuk melihat betapa lezatnya ikan lionfish dan mendorong konsumsi ikan lionfish di restoran-restoran lokal. Derbies juga menarik perhatian media terhadap invasi ikan lionfish Atlantik dan membantu mempromosikan pengembangan pasar ikan lionfish komersial," jelas REEF.
Mengonsumsi Spesies Invasif Tidak Begitu Membantu
Menurut profesor ekologi tumbuhan invasif di Universitas Virginia Tech, Jacob Barney, mengonsumsi spesies invasif tidak begitu berdampak pada lingkungan. Ia mengatakan, pemberantasan spesies invasif bukan satu-satunya alasan untuk mengonsumsinya.
Meski begitu, mengonsumsi spesies invasif bisa menjadi titik awal kesadaran terhadap lingkungan. Dengan mengonsumsi, kita akan mempelajari apa saja spesies invasif di sekitar kita.
"Ini berarti bahwa mengonsumsi spesies invasif adalah cara untuk mempelajari lebih lanjut tentang lingkungan Anda dan hubungan antara organisme yang hidup di sana-termasuk Anda," kata Barney.
Hewan dan Tumbuhan Invasif di Indonesia
Berikut adalah daftar hewan dan tumbuhan invasif di Indonesia:
- Ikan red devil (Amphilophus labiatus)
- Ikan nila (Oreochromis niloticus)
- Ikan sapu-sapu (famili Loricariidae)
- Eceng gondok (Eichhornia crassipes)
- Gulma siam (Chromolaena odorata)
Baca juga: Apa Jadinya Jika Serangga Tak Ada di Bumi? |
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(faz/faz)











































