Energi Alternatif dari Sampah: PLTSa Jadi Laboratorium Edukasi Lintas Usia

ADVERTISEMENT

Energi Alternatif dari Sampah: PLTSa Jadi Laboratorium Edukasi Lintas Usia

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Sabtu, 18 Apr 2026 15:00 WIB
Pengolahan sampah di PLTSa Bantargebang
Pengolahan sampah di PLTSa Bantargebang. Foto: BRIN
Jakarta -

Sejak 2017 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengembangkan fasilitas pilot Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Bantargebang. Namun, PLTSa tidak hanya befungsi sebagai pusat pengelolaan sampah, tapi juga sarana edukasi. Pasalnya, proyek ini juga melibatkan sejumlah perguruan tinggi untuk terjun di dalamnya.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih (PR TLTB), Ir Wiharja, MSi, menyampaikan PLTSa binaan BRIN tersebut juga menerima peserta praktik belajar atau magang, serta terbuka sebagai objek penelitian.

"Kita jadi kini, kalau perguruan tinggi, biasanya yang pas ke sana itu kalau anak-anak kerja praktek. Baik itu untuk risetnya gitu ya. Atau kalau yang vokasi itu kan biasanya kerja praktek 3 bulan atau berapa gitu," ujarnya kepada detikEdu saat diwawancarai di Gedung BJ Habibie pada Kamis (16/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mahasiswa yang dikirim untuk praktik di PLTSa tidak hanya berasal dari sekitaran Jakarta saja. Politeknik Negeri Jember dan Universitas Bhayangkara contohnya, cukup aktif mengirimkan mahasiswanya.

"Jember itu politeknik, Politeknik Jember. Kemudian mereka kan ada jurusan atau departemen tentang energi terbarukan. Kemudian Universitas Bhayangkara itu mengirimkan orang banyak juga," katanya.

ADVERTISEMENT

Ia mengatakan bahwa proyek pengelolaan sampah ini juga ditujukan sebagai sarana edukasi. Bukan hanya bagi mahasiswa, bahkan anak-anak TK juga diberi kesempatan untuk melihat langsung proses yang berlangsung di PLTSa tersebut.

"Bahkan anak-anak TK pun langsung ke sana. Iya, jadi memang konsep kita waktu itu begini. Ini adalah PLTSA ini selain kita menjawab bahwa sampah kita bisa untuk PLTSA, juga menjadi ajang pendidikan," tuturnya.

Fasilitas Education Room

Adapun fasilitas penunjang untuk mengedukasi bagi siapa saja yang ingin belajar, tersedia juga education room. Ruangan tersebut digunakan untuk menampilkan presentasi-presentasi yang menjelaskan terkait pengelolaan sampah menjadi listrik di Bantargebang.

"Makanya di sana itu ada education room. Kita sebut education room. Kalau datang sekali, ya sudah kita presentasi gini-gini," katanya.

Jadi, selain sebagai tempat praktik dan penelitian bagi mahasiswa, PLTSa Bantargebang juga menyediakan ruang belajar bagi anak-anak. Langkah ini penting karena pengelolaan sampah yang tepat juga perlu diketahui oleh para pelajar.

Teknologi Buatan Dalam Negeri

PLTSa Merah Putih sudah beroperasi sejak 2017 dan merupakan buatan asli Indonesia yang mampu mengolah 100 ton sampah perhari. Meski aliran listriknya belum bisa dinikmati masyarakat luas, proyek tersebut sudah mampu menghasilkan sekitar 700 kW untuk kebutuhan internal.

"Jadi, tadi dan di sini gambar ini, bangunan desain dari kita, kemudian manufaktur juga lokal, pengoperasiannya lokal juga. Nah, dengan demikian disebutlah Merah Putih, karena memang dari desain sampai operasional, operasional itu adalah semua dari nasional," tutur Wiharja dengan bangga.

Ia juga menegaskan bahwa tenaga listrik yang dihasilkan dari sampah hanyalah bonus dari pengelolaan yang baik. Energi tersebut tidak dapat dijadikan sumber utama dalam jangka panjang.

"Listrik itu adalah bonus, jadi tadi kalau image pembangkit listrik itu endingnya adalah listriknya, tetapi itu sebenarnya adalah bagaimana kita mengolah sampah, bonusnya listrik," pungkasnya.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads