Oksigen yang Dihirup Manusia Ternyata Bergantung pada Makhluk Laut Ini

ADVERTISEMENT

Oksigen yang Dihirup Manusia Ternyata Bergantung pada Makhluk Laut Ini

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Kamis, 23 Apr 2026 21:00 WIB
An aerial view of toxic blue-gren algae bloom on the Baltic Sea coast at Tyreso near Stockholm, Sweden, Thursday, June 25, 2020. (Pontus Lundahl/TT News Agency via AP)
Foto: AP/Pontus Lundahl/Ilustrasi alga laut
Jakarta -

Selama ini hutan kerap disebut sebagai paru-paru Bumi. Namun, sebagian besar oksigen yang dihirup manusia justru berasal dari laut. Berasal dari makhluk apa?

Sumber oksigen yang dimaksud adalah fitoplankton, alga mikroskopis yang hidup mengapung di perairan dan melakukan fotosintesis seperti tumbuhan darat. Fitoplankton tak hanya berperan sebagai produsen utama dalam rantai makanan, melainkan menyumbang porsi besar oksigen di atmosfer.

"Setiap tarikan napas yang Anda ambil mengandung oksigen dari laut yang dilepaskan oleh fitoplankton," kata Paul G. Falkowski, ahli oseanografi, biologi, ekologi, dan biogeokimia Amerika, dikutip dari Science Daily.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana Alga Laut Menghasilkan Oksigen?

Proses fotosintesis yang dilakukan fitoplankton memungkinkan karbon dioksida diserap dan oksigen dilepaskan ke udara. Menariknya, kemampuan fitoplankton untuk menghasilkan oksigen tidak berdiri sendiri.

Proses tersebut sangat bergantung pada keberadaan zat besi, mikronutrien penting yang masuk ke laut melalui debu mineral dari daratan, termasuk wilayah gurun dan daerah kering, serta dari lelehan es.

ADVERTISEMENT

Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 29 Juli 2025, tim peneliti dari Rutgers University mengungkap peran krusial zat besi dalam mendukung fotosintesis fitoplankton di laut lepas.

Penelitian ini dilakukan melalui pengamatan lapangan, sehingga memberikan gambaran lebih nyata tentang proses yang selama ini banyak dikaji di laboratorium.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa zat besi merupakan faktor pembatas dalam kemampuan fitoplankton untuk menghasilkan oksigen di wilayah laut yang luas," ujar Falkowski, penulis studi tersebut.

Ketika pasokan zat besi tidak mencukupi, proses fotosintesis melambat atau bahkan terhenti. Akibatnya, fitoplankton tumbuh lebih lambat, menyerap lebih sedikit sinar matahari, dan mengurangi kemampuannya menyerap karbon dioksida dari atmosfer.

Perubahan Iklim dan Ancaman Rantai Makanan Laut

Sayangnya, kata Falkowski, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa perubahan iklim mengubah pola sirkulasi laut dan memengaruhi jumlah zat besi yang masuk ke perairan. Kondisi ini memang tidak akan langsung membuat manusia kekurangan oksigen, tetapi dampaknya dinilai serius bagi ekosistem laut.

Fitoplankton merupakan sumber makanan utama bagi krill, udang mikroskopis yang menjadi pakan penting bagi banyak hewan laut di Samudra Selatan, seperti penguin, anjing laut, walrus, hingga paus.

"Ketika kadar zat besi turun dan jumlah makanan yang tersedia untuk hewan-hewan tingkat atas ini lebih rendah, hasilnya akan mengurangi jumlah makhluk-makhluk tersebut," papar Falkowski.

Jika kadar zat besi terus menurun dan populasi fitoplankton berkurang, rantai makanan laut dapat melemah. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memicu penurunan populasi berbagai spesies laut dan mengganggu keseimbangan ekosistem.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(faz/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads