Otak Ibu-Anak Tetap Bisa Sinkron meski Berbeda Bahasa, Ini Penjelasan Studi

ADVERTISEMENT

Otak Ibu-Anak Tetap Bisa Sinkron meski Berbeda Bahasa, Ini Penjelasan Studi

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Kamis, 23 Apr 2026 12:00 WIB
Ilustrasi ibu dan anak
Foto: Getty Images/urbazon/Ilustrasi ibu dan anak.
Jakarta -

Pernah dengar ibu dan anak punya ikatan batin? Tampaknya sekarang bisa dibuktikan melalui studi otak terbaru. Peneliti baru saja menemukan bahwa otak ibu dan anak tetap bisa terkoneksi meski berbeda bahasa. Bagaimana bisa?

Dalam sebuah makalah yang terbit di jurnal Frontiers in Cognition pada 18 Februari 2026, tim peneliti dari Universitas Nottingham di Inggris menemukan bahwa ibu dan anak yang berbicara dengan bahasa masing-masing yang berbeda, bisa tetap 'nyambung' saat bermain bersama. Hal ini ditunjukkan dengan aktivitas saraf yang sinkron, yang disebut peneliti sebagai ikatan otak.

Biasanya, sinkronisasi yang juga disebut interbrain synchrony ini terjadi ketika orang bekerja, belajar, berbicara, bermain, atau bernyanyi bersama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apakah Bilingualisme Berpengaruh?

Untuk menemukan sinkronisasi ini, peneliti melakukan eksperimen pada 15 pasangan ibu-anak bilingual yang bahasa Inggris bukan bahasa ibu mereka.

Para peserta diamati saat bermain di bawah tiga kondisi yaitu

ADVERTISEMENT

1. Bermain bersama menggunakan bahasa ibu
2. Bermain bersama menggunakan bahasa Inggris
3. Bermain sendiri dalam diam terpisah oleh layar

Setiap ibu dan anak mengenakan topi fNIRS (functional near-infrared spectroscopy) untuk mengukur aktivitas saraf di korteks prefrontal dan junction temporoparietal, dua wilayah otak yang mengatur perilaku sosial. Hasilnya, sinkronisasi otak meningkat secara signifikan saat ibu dan anak bermain bersama, tanpa memandang bahasa yang digunakan, dibandingkan dengan bermain sendiri.

Sinkronisasi terutama kuat di korteks prefrontal, yang mengatur fungsi eksekutif seperti pengambilan keputusan dan ekspresi kepribadian, sedangkan di junction temporoparietal, yang terkait kognisi sosial, bahasa, dan rasa diri, sinkronisasi lebih lemah.

Menurut penulis, perbedaan usia belajar bahasa kedua antara orang tua dan anak tidak memengaruhi sinkronisasi otak. Anak bilingual biasanya belajar dua bahasa sejak kecil, sementara orang tua sering mempelajari bahasa kedua di usia dewasa, yang kadang menimbulkan rasa jarak emosional.

"Orang yang berbicara dalam bahasa kedua sering merasakan jarak emosional yang bisa memengaruhi cara mereka mengekspresikan kasih sayang, disiplin, atau empati," ujar peneliti, dikutip dari Science Alert.

Biasanya, bilingualisme dianggap sebagai tantangan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa anak dengan lebih dari satu bahasa bisa mendukung pembelajaran yang sehat.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa tumbuh dengan lebih dari satu bahasa juga mendukung komunikasi dan pembelajaran yang sehat," kata Douglas Hartley, profesor otologi di University of Nottingham dan penulis senior studi ini.

Studi ini juga menekankan pentingnya memisahkan pengaruh isyarat nonverbal, seperti kontak mata dan gerakan, dari yang disampaikan lewat bahasa. Tim peneliti menyarankan studi selanjutnya memperluas fokus, termasuk keluarga dengan orang tua yang kurang fasih dalam bahasa kedua dan anak yang belajar bahasa kedua lebih lambat.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(crt/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads