Film Project Hail Mary sukses menarik perhatian karena ceritanya yang penuh sains. Filmnya banyak menceritakan perjalanan antarbintang hingga eksperimen di luar angkasa. Akan tetapi, di balik ceritanya, muncul pertanyaan: apakah semua itu benar-benar mungkin?
Dilansir NPR, sejumlah ilmuwan, termasuk dari NASA, mencoba menjawabnya. Hasilnya, ada yang cukup realistis, tetapi ada juga yang masih jauh dari kemampuan manusia saat ini. Berikut penjelasannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan Super Jauh Antarbintang
Di film, manusia dikirim ke bintang Tau Ceti yang berjarak hampir 12 tahun cahaya. Secara sains, perjalanan seperti ini memang bisa terjadi. Namun, teknologi yang dibutuhkan masih belum tersedia.
Menurut ilmuwan NASA, manusia bahkan belum sepenuhnya siap untuk misi ke Mars, apalagi perjalanan sejauh itu. Tantangannya bukan hanya soal kecepatan pesawat, tetapi juga bagaimana menjaga manusia tetap hidup dan sehat selama perjalanan yang bisa berlangsung sangat lama.
"Saya tidak berpikir kita sudah sepenuhnya siap untuk mengirim manusia ke Mars, apalagi ke jarak tahun cahaya," ujarIilmuwan NASA, Lisa Carnel.
Meski begitu, para ahli tidak sepenuhnya menutup kemungkinan. Dengan perkembangan teknologi yang terus melaju, ide perjalanan antarbintang masih dianggap mungkin, hanya saja, belum dalam waktu dekat.
Sehat Bugar Usai Koma Bertahun-tahun
Salah satu adegan yang cukup mencolok adalah ketika tokoh utama bangun dari koma panjang dan langsung bisa beraktivitas. Dalam dunia medis, kondisi seperti koma memang ada, bahkan sering terjadi di ruang ICU.
Namun, menurut Dr Shyoko Honiden, peneliti dari Yale School of Medicine, dampaknya jauh lebih kompleks. Tubuh manusia yang tidak bergerak lama akan kehilangan massa otot secara drastis, bahkan otot pernapasan bisa melemah. Selain itu, pasien juga bisa mengalami gangguan bicara, menelan, hingga fungsi otak.
"Dalam skala yang lebih kecil, ini adalah sesuatu yang kami temui di ICU, di mana orang berada dalam semacam koma yang diinduksi secara medis dengan obat penenang," jelasnya.
Artinya, seseorang yang baru bangun dari koma panjang tidak mungkin langsung berdiri dan bergerak normal. Proses pemulihannya bisa memakan waktu lama dan membutuhkan rehabilitasi intensif.
Radiasi Luar Angkasa Berbahaya
Film ini juga menyinggung bahaya radiasi di angkasa luar. Dalam hal ini, sains yang ditampilkan justru cukup akurat.
Menurut Carnel, radiasi di ruang angkasa bersifat konstan dan datang dari berbagai sumber, termasuk ledakan bintang. Tanpa perlindungan yang cukup, paparan radiasi bisa berakibat fatal.
"Radiasi kosmik galaksi itu ada di mana-mana, seperti Anda berenang dalam lautan radiasi dari supernova di seluruh alam semesta," ujarnya.
Karena itu, misi luar angkasa seperti Artemis II sudah dirancang dengan sistem perlindungan khusus. Astronaut bahkan memiliki area aman di dalam pesawat untuk berlindung saat terjadi badai Matahari.
Hal ini menunjukkan bahwa radiasi memang menjadi salah satu tantangan terbesar dalam eksplorasi luar angkasa.
Mikroba dan Komunikasi Alien
Di bagian lain, film menampilkan eksperimen mikroba dan komunikasi dengan makhluk luar angkasa. Untuk mikroba, konsepnya masih cukup masuk akal.
Nathan Crook dari North Carolina State University menjelaskan, mikroorganisme memang bisa beradaptasi atau "berevolusi" dalam waktu relatif singkat. Namun, prosesnya tidak selalu bisa diprediksi, dan tidak mungkin menciptakan kemampuan baru secara tiba-tiba.
"Eksperimen seperti ini kemungkinan berlangsung selama satu atau dua minggu, lalu akan meningkat sedikit, kemudian mencapai titik datar," ujarnya.
Ia juga menegaskan keterbatasannya, "Anda tidak bisa mengembangkan sesuatu dari ketiadaan."
Sementara itu, komunikasi dengan alien juga rupanya dipelajari manusia. Bidangnya dikenal sebagai xenolinguistics.
Menurut Martin Hilpert dari University of Neuchâtel, film ini cukup akurat dalam beberapa aspek. Pendekatan seperti memulai komunikasi dari angka atau simbol sederhana dinilai masuk akal sebagai langkah awal.
"Film ini melakukan banyak hal dengan benar," ujarnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa dalam kondisi nyata, proses memahami bahasa makhluk yang benar-benar berbeda kemungkinan akan jauh lebih kompleks dan memakan waktu lebih lama dibanding yang digambarkan dalam film.
(rhr/twu)










































