Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ungkap Indonesia menyimpan sumber energi alternatif yang sangat besar di dasar laut. Sumber energi ini dikenal sebagai gas hidrat atau metana hidrat.
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Susilohadi menjelaskan metana hidrat punya potensi besar menjadi energi masa depan ketika cadangan energi fosil konvensional, seperti minyak dan gas bumi semakin menipis.
Jumlahnya melimpah, diperkirakan mencapai lebih dari 800 Trillion Standard Cubic Feet (TSCF). Susilohadi menyebut jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan cadangan gas alam konvensional Indonesia sebanyak 345 TSCF.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Potensi tersebut tersebar di wilayah laut dalam, terutama di kawasan Indonesia Timur yang secara geologi masih sangat menjanjikan," tuturnya dikutip dari laman resmi BRIN.
Sekilas tentang Metana Hidrat
Metana hidrat merupakan bentuk gas metana yang terperangkap dalam struktur padat menyerupai es. Susilohadi mengatakan secara singkat metana hidrat adalah gas metana yang bersatu dengan air. Meskipun bentuknya padat, kandungan metana di dalamnya sangat tinggi.
Cadangan energi ini terbentuk secara alami di laut dalam lebih dari 500 meter, dalam kondisi suhu rendah dan tekanan yang tinggi.
"Sehingga berpotensi menjadi sumber energi alternatif," ujar Susilohadi.
Hingga saat ini, metana hidrat teridentifikasi terletak di beberapa lokasi, seperti selatan Selat Sunda serta wilayah utara dan selatan Selat Makassar. Identifikasi ini dilakukan menggunakan metode pemetaan geofisika survei seismik.
Seperti yang diketahui, luas wilayah laut dalam RI mencapai sekitar sepertiga dari total perairan nasional. Hal ini menunjukkan masih ada potensi hadirnya metana hidrat yang belum terungkap.
Teknologi dan Riset Belum Memadai
Meski potensinya besar, pengembangan metana hidrat menghadapi banyak tantangan. Tantangan ini termasuk biaya dan teknologi ekstraksi.
Teknologi ekstraksi Indonesia disebut saat ini masih dalam tahap pengembangan. Selain itu, tantangan juga datang dari keterbatasan infrastruktur riset yang seharusnya jadi komponen utama dalam pengembangan sumber energi ini.
"Sampai saat ini kita belum bisa mengambil data primer terkait metana hidrat. Jadi, penelitian yang dilakukan masih memanfaatkan data seismik sekunder yang sudah ada," ungkap Susilohadi lagi.
Kabar baiknya, pemerintah berencana akan menghadirkan kapal riset yang lebih memadai pada 2029. Ketika kapal riset ini ada, penelitian yang lebih mendalam akan dilakukan. Namun, kemungkinan penelitian ini baru bisa berjalan sekitar 2030.
Untuk mengembangkan metana hidrat, pemerintah dinilai harus bisa komitmen dan menjalin kerja sama internasional. Saat ini, diketahui Indonesia telah terlibat dalam kerja sama regional untuk mempelajari potensi dan dampak metana hidrat, baik dari sisi energi, lingkungan, maupun ekonomi.
"Jika dikelola dengan baik, metana hidrat berpotensi menjadi salah satu solusi penting dalam menjaga ketahanan energi nasional di masa depan. Dengan cadangan yang besar dan tersebar luas di perairan Indonesia, sumber energi ini dapat menjadi alternatif ketika cadangan fosil konvensional semakin menipis," tandas BRIN.
(det/nah)











































