Tokoh-tokoh Pendidikan di Indonesia yang Kurang Dikenal, Penggerak pada Zamannya

ADVERTISEMENT

Tokoh-tokoh Pendidikan di Indonesia yang Kurang Dikenal, Penggerak pada Zamannya

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 30 Apr 2026 08:30 WIB
Raden Ayu Lasminingrat
Raden Ayu Lasminingrat. Foto: Hakim Ghani/detikJabar
Jakarta -

Menjelang Hari Pendidikan Nasional, apakah detikers bisa menyebutkan tokoh-tokoh pendidikan nasional? Indonesia memiliki banyak tokoh bersejarah dalam bidang pendidikan.

Walau demikian, tidak semuanya cukup dikenal secara luas di Indonesia. Berikut ini beberapa tokoh pendidikan yang mungkin kalian belum familiar.

Apakah ada salah satu dari tokoh-tokoh ini yang berasal dari daerahmu?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tokoh-tokoh Pendidikan yang Tidak Terlalu Dikenal

1. Willem Iskander

Nama Willem Iskander sebetulnya bisa jadi tidak asing bagi masyarakat di Sumatera Utara. Ia merupakan tokoh dalam dunia pendidikan dan pembaharu dalam penulisan karya sastra Mandailing. Ia pernah mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah RI pada 1978.

Willem Iskander mendirikan lembaga pendidikan untuk mencetak guru-guru yang berbasis kerakyatan pada 1862. Ia pernah menempuh pendidikan formal hingga ke Belanda.

ADVERTISEMENT

Dalam artikel bertajuk "Biografi Willem Iskandar dan Perannya dalam Pendidikan di Sumatera Utara" dalam Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan, dan Humaniora Volume 8 Nomor 1, oleh Syarifah dkk, beberapa karya terjemahan Willem Iskander digunakan sebagai buku bacaan di sekolah yang ada di Mandailing dan Angkola. Produk terjemahannya yang berkaitan dengan aturan pemerintah kolonial Belanda, digunakan untuk keperluan pemerintah Mandailing dan Angkola.

Semua karya sastranya mencakup 13 puisi, 8 prosa, dan 1 drama pendek atau dialog. Karya-karya ini merupakan suatu langkah kepeloporan dalam sastra etnik Mandailing.

2. Rahmah el Yunusiyah

Rahmah el Yunusiyah merupakan pelopor pendidikan muslimah di Indonesia. Ketika masih 23 tahun, ia sudah mendirikan pendidikan khusus bagi kaum perempuan yaitu Diniyah School Putri pada 1923.

Lembaga pendidikan tersebut memberikan pendidikan bagi kaum perempuan Minang saat itu. Sekolah tersebut tidak hanya memberikan pelajaran agama maupun umum, tetapi juga mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan seorang muslimah sebagai ibu yang mandiri.

Dikutip dari buku Konsep Pendidikan Merata dan Berkeadilan oleh Nazaruddin dkk, saat mantan Rektor Universitas Al Azhar Abdurrahman Taj berkunjung ke Diniyyah School Putri pada 1955, ia tertarik dengan sistem pembelaharan khusus yang diterapkan di sana. Ini menginspirasinya mendirikan Kuliyyatul-Lil-Banat (kampus Al Azhar khusus putri) di Universitas Al Azhar.

Rahmah juga dinobatkan sebagai Syaikhah atau Guru Besar Wanita pertama dari Universitas Al Azhar.

3. Soetatmo Soerjokoesoemo

Soetatmo Soerjokoesoemo merupakan ketua pertama dari Taman Siswa. Ia lahir pada 1888 dari lingkungan Pakualaman Yogyakarta.

Disebutkan dalam buku Kongres Nasional Sejarah 1996 Sub Tema Studi Komparatif dan Dinamika Regional II. Soetatmo pernah memimpin Komite Nasionalisme Jawa. Pada 1914 ia membentuk komite tersebut dan menerbitkan majalah bulanan Wederopbouw untuk menyebarkan ide-idenya.

Ia juga pernah masuk Indische Partij saat didirikan pada 1912 dan menjadi pengurus Komite Boemi Poetra pada 1913. Ia juga pernah jadi pengurus pusat Boedi Oetomo sampai meninggalkannya pada 1924.

4. Raden Ayu Lasminingrat

Peran Lasminingrat dalam pendidikan kaum pribumi perempuan, khususnya perempuan sejatinya berdampak luas. Walaupun ruang lingkup kehidupannya terbatas di Kabupaten Limbangan-Garut, tetapi muridnya menyebar ke luar Kota Garut.

Lasminingrat, seperti disebutkan dalam skripsi bertajuk "Peranan Raden Ayu Lasminingrat bagi Perkembangan Pendidikan di Kabupaten Limbangan-Garut (1907-1948" oleh Gian Lestari, Universitas Pendidikan Indonesia, juga berperan penting dalam pendirian Sakola Kautamaan Istri yang didirikan Raden Dewi Sartika.

Atas bantuannya, maka Raden Dewi Sartika mendapatkan izin dari pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan Sakola Kautamaan Istri di Bandung. Sekolah ini mengajarkan membaca, menulis, dan pemberdayaan perempuan.




(nah/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads