Dahulu ada spesies buaya air asin yang menguasai wilayah Samudra Hindia hingga Seychelles. Kini, studi terbaru meyakini populasi buaya yang telah punah di Seychelles itu bukan bagian dari buaya Nil (Crocodylus niloticus) dan bukan juga spesies yang terpisah.
Buaya air asin tersebut kemungkinan besar itu adalah populasi buaya air asin (Crocodylus porosus). Spesies ini lebih mirip buaya air asin yang saat ini masih hidup di India, Asia Tenggara, Australia, dan pulau-pulau di seluruh Pasifik Barat.
Menurut catatan ekspedisi dari lebih dari 250 tahun yang lalu, Seychelles dulunya merupakan rumah bagi populasi buaya. Namun, ketika para pemukim manusia tiba pada akhir abad ke-18, mereka memusnahkan semua buaya di pulau-pulau tersebut. Sisa-sisa beberapa spesimen disimpan di museum-museum di Seychelles, London, dan Paris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi tersebut telah terbit di jurnal Royal Society Open Science pada 28 Januari 2026 dengan judul "Mitogenomic Crocodylia phylogeny and population structure of Crocodylus porosus including the extinct Seychelles crocodile." Para peneliti juga menduga para pendahulu buaya Seychelles mungkin hanyut saat melintasi Samudra Hindia.
"Nenek moyang dari populasi Seychelles kemungkinan besar hanyut sejauh 3000 km atau mungkin lebih jauh, saat melintasi Samudra Hindia untuk mencapai pulau terpencil itu," ujar Frank Glaw, salah satu penulis studi dan ahli reptil di Bavarian State Collections of Natural History. Dikutip dari Live Science pada Jum'at (6/2/2026).
Buaya Air Asin Sempat Kuasai Lebih dari 12 Ribu Km Perairan
Buaya Seychelles pernah diduga sebagai bagian dari populasi buaya Nil oleh para ilmuwan Barat. Namun, hal itu dipatahkan oleh hasil penelitian pada tahun 1994 terhadap buaya Seychelles yang terawetkan. Hasilnya menunjukkan ciri-ciri fisik populasi Seychelles justru sangat mirip dengan spesies buaya air asin.
Studi tersebut diperkuat dengan studi terbaru yang menganalisis materi genetik pada buaya-buaya tersebut. Para peneliti mengumpulkan sampel DNA mitokondria yang didapat dari tengkorak dan gigi beberapa spesimen dari museum lama, museum modern dan buaya yang masih hidup untuk membandingkan DNA-nya.
Hasilnya ternyata sangat cocok dengan DNA pada buaya air asin (Crocodylus porosus). Hasil ini sekaligus menunjukkan bahwa buaya air asin, sempat menguasai lebih dari 12.000 km atau (7.500 mil) perairan yang terbentang dari timur ke barat. Hal ini terjadi jauh sebelum kepunahan populasi buaya di Seychelles.
"Pola genetik menunjukkan bahwa populasi buaya air asin tetap terhubung dalam jangka waktu lama dan melintasi jarak yang jauh, yang menunjukkan mobilitas tinggi spesies ini," ujar Stefanie Agne, salah satu penulis studi dan ahli biologi evolusi di Universitas Potsdam di Jerman.
Spesies Tangguh dan Pandai Beradaptasi
Spesies buaya air asin (C. porosus) harus berenang ribuan mil di lautan terbuka untuk bisa sampai di Kepulauan Seychelles. Namun, buaya ini mampu beradaptasi dengan lautan karena memiliki kelenjar garam khusus di lidahnya.
Kelenjar tersebut berfungsi untuk mengeluarkan garam berlebih yang masuk ke tubuhnya selama berenang di laut lepas. Kemampuan ini yang membantu spesies tersebut untuk menyebar ke kawasan Indo-Pasifik.
Meski penelitian ini adalah yang paling lengkap terkait spesies buaya saat ini, para peneliti mengatakan, masih sangat mungkin untuk melakukan studi selanjutnya terkait kelompok buaya air asin. Hal itu karena DNA mitokondria hanya diwariskan induk betina, yang tidak selalu dapat menganalisis ragam genetik yang lebih halus lagi seperti genetik yang dibawa oleh jantan.
Para peneliti juga menyarankan untuk penelitian selanjutnya, DNA inti sel buaya dapat digunakan untuk mengklasifikasikan perbedaan regional antarpopulasi.
Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(nah/nah)










































