Fenomena unik dan indah muncul di langit Jonggol, Bogor pada Jumat (1/5/2026) lalu. Penampakan awan pelangi tersebut menjadi sorotan warga.
Awan pelangi itu muncul pukul 14.22 WIB. Awan juga menjadi unik karena terlihat menggantung.
Mengutip detikJabar, fenomena tersebut pertama kali diketahui oleh Ahmad Baehaqy Pratama, pemuda berusia 21 tahun asal Jonggol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, ia sedang mengendarai sepeda motor dalam perjalanan pulang. Kala itu, kondisi langit sebagian gelap tetapi belum hujan.
"Belum hujan, tapi di sebelah kanan kayak ada pelangi," ujarnya, dikutip dari detikJabar, Minggu (3/5/2026).
Sebenarnya fenomena apakah itu?
Fenomena Umum Terkait Optik Atmosfer
Pelaksana Harian (Plh) Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, memberikan penjelasan tentang hal tersebut. Ia menyebut fenomena ini merupakan peristiwa umum.
"Fenomena yang terlihat pada video tersebut merupakan peristiwa yang umum terjadi dalam atmosfer dan berkaitan dengan optik atmosfer," ungkapnya
Penyebab pelangi memunculkan warna indah dikarenakan adanya cahaya matahari yang berinteraksi dengan butir air di udara. Butiran tersebut merupakan sisa dari hujan.
"Warna pelangi muncul karena cahaya Matahari berinteraksi dengan butir-butir air di udara, baik dari sisa hujan maupun hujan yang sedang terjadi di sisi lain wilayah Sentul seperti pada video tersebut," tuturnya.
Mengapa Bentuknya seperti Awan Pelangi?
Ida kemudian menjelaskan soal bentuk awan yang tidak utuh. Bentunya seperti awan pelangi.
Menurutnya, hal tersebut dikarenakan towering cumulus. Towering cumulus tersebut menutupi sebagian pelangi.
"Pada saat yang sama, tampak adanya awan towering cumulus yang dapat menutupi sebagian pelangi, sehingga bentuknya terlihat tidak utuh atau tampak seperti 'awan pelangi'," kata Ida, dikutip dari detikNews, Minggu (3/5/2026).
Ia lalu menegaskan bahwa munculnya awan pelangi bukanlah pertanda bahasa. Awan pelangi hanya menunjukkan adanya proses pertumbuhan awan konvektif dan kemungkinan hujan lokal.
"Fenomena ini bukan tanda langsung akan terjadi badai, melainkan menunjukkan adanya proses pertumbuhan awan konvektif dan kemungkinan hujan lokal di sekitar wilayah tersebut, meskipun titik pengamat masih dalam kondisi cerah atau belum mengalami hujan," jelasnya.
(cyu/faz)










































