Cegukan yang muncul tiba-tiba sering kali dianggap lucu atau bahkan menjengkelkan. Meski kerap dianggap sebagai gangguan kecil, cegukan berkepanjangan menandakan kondisi medis tertentu.
Secara umum, sebagian besar cegukan hanya bersifat sementara dan tidak berbahaya. Sampai saat ini, hanya ada satu orang yang mengalami cegukan terlama di dunia, yakni 68 tahun (1929-1990). Ini dialami oleh pria asal Amerika Serikat, Charles Osborne.
Lantas, mengapa kita dapat mengalami cegukan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Cegukan?
Mengutip Cleveland Clinic, cegukan adalah kejang berulang pada diafragma-otot yang memisahkan dada dan perut, sehingga ada bunyi "hic" yang keluar. Diafragma akan bergerak ke bawah saat menarik napas dan naik ke atas saat menghembuskan napas.
Saat seseorang mengalami cegukan, diafragma tiba-tiba tertarik ke bawah saat terjadi tarikan napas yang membuat kita menghirup udara dengan cepat. Kemudian, glotis, ruang di antara pita suara, akan seketika menutup saat udara akan masuk.
Umumnya, cegukan akan berhenti dengan sendirinya dalam beberapa waktu. Namun, jika terjadi secara berkelanjutan, lebih baik menghubungi dokter secepatnya. Cegukan atau singultus terdiri dari beberapa jenis berdasarkan durasinya.
Pertama, cegukan sementara atau transien yang berlangsung dalam beberapa detik atau menit saja. Kedua, cegukan terus-menerus yang terjadi lebih dari dua hari, bahkan satu bulan. Ketiga, cegukan yang sulit diatasi dan terjadi lebih dari satu bulan. Keempat, cegukan berulang yang berlangsung lebih dari beberapa menit dan terus datang lagi.
Cegukan Terjadi karena "Lengkung Refleks"
Dilansir Scientific American, mekanisme cegukan adalah refleks yang tidak disengaja. Sampai sekarang, para ilmuwan belum menemukan jawaban pasti mengapa otak mengeluarkan sinyal refleks yang menimbulkan cegukan.
"Kami percaya bahwa perut kembung yang disebabkan oleh makan berlebihan, makan dengan cepat, atau menelan minuman dengan cepatâterutama minuman berkarbonasiâmemperburuk risiko (terjadinya cegukan)," ujar Profesor Department of Kinesiology and Sport Sciences di University of Miami, Arlette Perry, dikutip dari laman resmi University of Miami.
"Bahkan perasaan gembira atau takut yang tiba-tiba pun bisa menyebabkan seseorang tiba-tiba cegukan," imbuh Perry.
Kendati demikian, cegukan terjadi karena ada sesuatu yang mengiritasi saraf dan mengakibatkan kontraksi diafragma. Saraf-saraf tersebut adalah saraf vagus dan saraf frenikus; keduanya membentuk jalur yang disebut "lengkung refleks".
Lengkung refleks terjadi secara otomatis dan tidak disadari, seperti halnya sistem pernapasan, pencernaan, dan detak jantung. Iritasi yang mengontrol diafragma dapat menimbulkan kontraksi secara tiba-tiba.
Proses tersebut membuat seseorang dapat mengalami cegukan tanpa tahu kapan terjadinya. Sedangkan durasi cegukan yang berbeda-beda, juga dipicu oleh hal yang berbeda pula.
Penyebab Cegukan Sementara
- Makan terlalu banyak atau terlalu cepat
- Makan makanan pedas, terlalu dingin atau panas
- Minum minuman bersoda
- Menelan udara berlebihan (aerofagia)
- Merokok tembakau atau ganja
- Mengkonsumsi minuman beralkohol
Penyebab Cegukan yang Sulit Diatasi
- Penyakit saluran pencernaan seperti GERD atau gastritis.
- Kondisi yang memengaruhi sistem saraf pusat seperti stroke, Parkinson, atau multiple sclerosis.
- Gangguan paru-paru seperti pneumonia, emboli paru, atau pleuritis.
- Infeksi tertentu seperti cacar air, flu, dan herpes simpleks.
- Gangguan metabolisme dan sinyal saraf seperti uremia atau hipokalsemia.
Meski tidak ada cara untuk mencegah cegukan, terdapat beberapa hal yang mungkin dilakukan untuk menghentikan cegukan sementara. Caranya, antara lain:
- Hembuskan napas ke dalam kantong kertas
- Tarik lutut ke atas dada dan condongkan tubuh ke depan
- Minum atau berkumur dengan air es
- Menelan sesendok gula pasir
- Menggigit lemon, atau mencicipi cuka
- Menahan napas sejenak
Jadi, apakah detikers sering mengalami cegukan?
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(sls/faz)











































